Petani Daun Bawang Sungai Pua Butuh Dukungan Pemerintah

Ilustrasi. (antara)
Ilustrasi. (antara)

LUBUK BASUNG – Pelopor pertanian daun bawang Sungai Pua, Agam Herry Rajo Indo  mulai risau. Kerisauannya disebabkan keterbatasan dirinya sebagai “koordinator” ratusan petani daun bawang di Sungai Pua terbatas untuk membantu petani terutama disisi permodalan.

Salah satu permasalahan yang dihadapinya adalah kebutuhan dus untuk packaging  yang lebih representatif. “Kami berharap untuk dus ini ada bantuan dari pemerintah. Kami sudah sampai,” kata Heri yang akrab disapa Gindo  mengungkapkan hal itu kepada Singgalang di Agam, Rabu  (7/6).

“Saya berharap ada kebijakan pemerintah untuk memperkuat petani daun bawang ini agar usaha ini tidak pudur begitu saja “kata Gindo.

Sampai saat ini Hery masih bisa memenuhi kebutuhan pasar utamanya yakni Batam sebanyak 1,5 – 2 ton perhari.

“Alhamdulillah,  kami masih mampu memenuhi kebutuhan pasar langganan kami terutama Batam, selain Riau,  Babel dan Sumbar ” kata Gindo.

Walaupun belum merasakan intervensi pemerintah untuk memperkuat komunitas petani daun bawang Sungai Pua,  Gindo mengaku terus berupaya sekuat tenaga agar usaha pertanian dan pemasaran daun bawangnya tidak pudur.

Dari amatan Singgalang,  Gindo ini sebagai tokoh petani termasuk “gila”.

Betapa tidak ,  dia tak pikir pikir panjang untuk memberikan subsidi harga jual daun bawang kepada petani, suatu hal yang tak pernah dilakukan orang bahkan pemerintah.

Jika harga anjlok dalam satu kilogram, Gindo mensubsidi harga sebanyak Rp1.000 perkilogram. “Sekarang saja harga di petani kita Rp6.000 /kg ,  tapi kalau dilempar ke Pasar Sungai Pua hanya Rp5.000/kg. Itu kita lakukan agar petani tidak rugi,” katanya

“Kita harus nekad,  kalau tidak para petani dikendalikan oleh tukang pakang.  Pemerintah tak mampu mengendalikan harga,  paling hanya secara insidentil hanya operasi pasar,  itu lagu lama ” tuturnya.

Gindo yang telah mulai merintis usaha “memboomingkan” daun bawang Sungai Pua sejak 2009,  sesungguhnya telah memperlihatkan hasil yang pantas di apresiasi.

“Alhamdulillah setidaknya sekitar 500 orang petani yang saya fasilitas,  jika seorang petani punya lahan 1 hektar dalam 2,5  bulan punya penghasilan minimal Rp.50 juta. Di samping itu sebanyak 12 pekerja juga mendapat Rp60.000 sehari dengan jam kerja 5 jam sehari “ujarnya.

Kata kunci mendapat pasar daun bawang adalah kedisiplinan waktu  pengiriman dan kualitas daun bawang. “Alhamdulilah dua poin itu masih bisa kita penuhi,  tak boleh terlambat. Kalau kita lalai pesawat berangkat,  bawang kita tinggal dan bisa busuk ” katanya.

Ia butuh promosi agar kesinambungan pasar bawang Sungai Pua Agam ini lestari.  Salah satu upaya adalah mematenkan kualitas daun bawang ini. “Kita sudah sampaikan  kepada pihak terkait di Agam untuk hak paten,  kita sejauh ini masih menunggu,” ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian Afdal ditanya Singgalang  mengaku memberikan bimbingan teknis kepada kelompok daun bawang.

“Kalau Dinas Pertanian memberikannya bimbingan teknis,  jika kebutuhan dus itu urusan Dinas Perdaganganlah,” ujarnya. (513)