Prosesi Maambiak Tanah, Awali Pesta Budaya Tabuik Piaman

 Tetua Rumah Tabuik Pasa usai melaksanakan ritual Maambiak Tanah (mengambil tanah) di aliran Sungai Batang Aia Pampan, Kelurahan Gelombang, Kecamatan Pariaman Tengah, Kamis malam (21/9). (tomi)
Tetua Rumah Tabuik Pasa usai melaksanakan maambiak tanah di Batang Aia Pampan, Kelurahan Gelombang, Kecamatan Pariaman Tengah, Kamis (21/9). (tomi)

PARIAMAN – Prosesi Pesta budaya Tabuik 2017 telah di mulai, Kamis (21/9). Diawali dengan ritual maambiak tanah. Seperti biasa, pesta tahunan ini menghadirkan dua tabuik, yaitu Tabuik Subarang dan Tabuik Pasa.

Dalam ritual maambiak tanah tersebut, ke dua tabuik tersebut maambiak tanah di tempat berbeda. Tabuik Subarang maambiak tanah di Batang Aie Pauh, sedangkan Tabuik Pasa maambiak tanah di Batang aie Alai Gelombang. Waktu pengambilannya, menjelang masuknya Shalat Magrib.

Menjelang ritual maambiak tanah tersebut, kedua tabuik tersebut yang terdiri dari urang tua, pemuda dan lainnya berkumpul di tempat pembuatan tabuik masing-masing atau daraga. Untuk menuju lokasi maambiak tanah tersebut, mereka berjalan diiringi gandang tasa.

Nasrun Jon, salah seorang urang tuo Tabuik Subarang, kepada Singgalang menuturkan, maambiak tanah ini merupakan awal dari prosesi Pesta Budaya Hoyak Tabuik Piaman. Dalam ritual maambiak tanah tersebut, Tabuik Subarang mengambilnya di Batang Aie Pauh.

Orang yang mengambil tanah di dalam Batang Aie itu adalah urang tuo tabuik yang telah di tentukan. Untuk Tabuik Subarang yang melakukan pengambilan adalah Syafrudin Cuung.

“Untuk Tabuiik Pasa, dulunya Zulbakri atau Mak Etek,” ucapnya.

Dijelaskan Nasrun Jon, maambiak tanah ini mengandung arti dan makna. Dimana, kita (manusia) berasal dari tanah. Dalam ritual maambiak tanah itu, tanah yang diambil di dalam sungai atau dasarnya adalah betul-betul tanah.

“Jika di atasnya ada tanah lunau, harus di sisihkan dan diambil yang benar-benar tanah,” terangnya.

Lebih jauh, Nasrun Jon menjelaskan, tanah yang diambil di dasar sungai itu, banyaknya sekitar dua genggam. Setelah didapat langsung dimasukkan ke dalam belanga dan dibawa ke daraga. Di daraga itu di letakkan.

“Itulah prosesinya,” tandas Nasrun Jon yang ikut berjalan kaki bersama pemuda, dari daraga di Simpang sianik menuju Batang Aie Pauh,

Sementara itu, dalam ritual maambiak tanah tersebut yang di lakukan dengan berjalan kaki, mulai dari daraga sampai ke Batang Aie dan kembali ke daraga, menjadi tonton banyak orang di sepanjang jalan yang di lewati.

Begitu pula, pihak keamanan dari polres dan Satpol PP juga ikut mengamankan jalannya ritual ini, mulai dari mulai kegiatan sampai berakhirnya kegiatan. Hal ini di lakukan untuk memberikan keamanan dan ketentraman, terutama terhadap masyarakat yang menyaksikan. (agus)