Putri AH Nasution Tak Setuju dengan Rencana Jokowi Buat Film G30S PKI Versi Baru

Hendrianti Sahara Nasution (kiri). (ytimg.com)
Hendrianti Sahara Nasution (kiri). (ytimg.com)

JAKARTA – Putri sulung Jenderal Besar Abdul Haris Nasution, Hendrianti Sahara Nasution tidak sepakat dengan wacana Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang berencana membuat film G30S PKI versi generasi milineal guna menyampaikan sejarah perjalanan bangsa.

Yanti mempertanyakan adegan mana yang dianggap kurang tepat sehingga harus dibuat versi baru. Sebagai saksi sejarah, pada saat itu Yanti berumur 13 tahun menyaksikan secara langsung penyergapan ayahanadanya oleh Cakrabirawa di rumahnya di Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat.

“Kalau saya secara pribadi tidak setuju, karena saya sudah tahu bagaimana film ini dibuat. Kalau ada kontroversi harus ada orang yang melihat di mana kontroversi itu, tapi kita lihat kejadian itu adalah yang sebenarnya,” kata Yanti di Museum Jenderal AH Nasution, Jakarta Pusat, Sabtu (30/9).

Diwartakan okezone, Yanti mengatakan, sebaiknya Jokowi berpikir ulang tentang wacana pembuatan film G30S/PKI versi baru. Film yang disutradarai Arifin C. Noer itu sudah tepat sesuai dengan fakta sejarah sehingga dipersilahkan ditonton oleh generasi muda untuk belajar sejarah.

“Kan kita tidak punya kewenangan apa-apa, tapi saya rasa tolonglah memikirkan sekali lagi, kepentingannya apa dan harus bagaiamana yang harus dilakukan,” pungkasnya.

Yanti salah satu saksi hidup dalam peristiwa gerakan penumpasan tujuh jenderal yang dilakukan oleh pasukan Cakrabirawa di bawah pengaruh PKI, pimpinan DN Aidit atas tuduhan merencanakan gerakan kudeta kepada Presiden Soekarno.

Tujuh jenderal itu yakni Jenderal Besar AH Nasution, Jenderal Ahmad Yani, Letjen R Soepomo, Mayjen MT Haryono, Mayjen Soetojo Siswomiharjo dan Letjen S Parman. Dalam peristiwa 30 September 1965 itu, Nasution adalah satu-satunya jenderal yang lolos dari maut. (aci)

agregasi okezone1