Raziq, Bocah Korban Kekerasan yang Terancam Cacat Seumur Hidup

Muhammad Raziq tengah bermain di sela-sela seminar rehabilitasi sosial terhadap anak korban kekerasan (ist)
Muhammad Raziq tengah bermain di sela-sela seminar rehabilitasi sosial terhadap anak korban kekerasan (ist)

PADANG – Masih ingat dengan kejadian tragis yang menimpa Muhammad Raziq, murid SD di Lubuk Alung, Padang Pariaman setahun lalu? Bocah itu jadi korban kekerasan dengan cara dibakar seorang perempuan tak dia kenal. Kini ia terus tumbuh besar seiring berjalannya waktu. Namun luka bakar yang dialaminya masih membekas dengan jelas.

Hari ini Raziq terlihat asyik bermain di antara peserta kegiatan rehabilitasi sosial anak korban kekerasan. Luka bakar di bagian wajah, leher, dada hingga kedua tangannya tak bisa disembunyikan dari balik pakaian. Luka bakar itu membuat dia cacat seumur hidup.

Di sela-sela seminar rehabilitasi sosial anak korban kekerasan yang diselenggarakan Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPr KB) Sumbar, orangtua korban Vera menceritakan pasca-kejadiaan naas itu, banyak perubahan dalam Raziq.

Secara fisik sangat jelas, apalagi secara psikis. Dia yang dulunya ceria kini berubah drastis. Ditambah pula kawan-kawannya sempat menyisihkannya. Tak terima dengan kondisi itu Vera mendatangi mereka, agar tidak lagi menyisihkan anaknya.

Alhasil, kini Raziq mulai punya teman kembali. Pasca-dirawat di RSUP M. Djamil selama satu bulan, korban terus mendapat perawatan. Hanya saja ketika itu, orangtuanya tak sanggup membeli obat berupa salep, yang harganya Rp300 untuk sehari sekali pakai. Raziq memang peserta pasien BPJS Kesehatan, namun untuk obat yang dipakai tak ditanggung BPJS Kesehatan.

Salep tersebut dipakai tiga kali sehari, sekali pakai langsung habis. Makanya butuh dana Rp300 ribu sehari hanya untuk salep tersebut. Tak sanggup membeli salep tersebut, orangtua menghentikan pemakaian dan menggantinya dengan minyak zaitun.

Kondisi itu sempat membuat luka bakar di bagian antara leher dan dagu Raziq infeksi hingga menggeluarkan nanah, yang keluar menyembur.

Selain luka bakar dari wajah hingga perut dan kedua tanggannya, pendengaran Raziq juga terganggu. Sebab telinganya yang ikut terbakar mengecil hingga menutup sebagian lubang telinganya.

Sejak kejadian itu, korban sudah menjalani enam kali operasi. Operasi ketujuh rencananya akan dilakukan dalam waktu dekat. Namun bocah laki-laki berparas hitam manis itu sudah tak mau menjalaninya.

“Sepertinya ia trauma, sebab setiap kali operasi dia kesakitan. Saya pun tak tega melihat dia menangis,” sebut Vera.

Dia berharap, putra sulungnya itu bisa sembuh seperti sedia kala. Apalagi Raziq punya cita-cita besar untuk melanjutkan pendidikannya hingga perguruan tinggi.

“Saya ingin dia tidak minder ketika besar nanti. Tapi entah bagaimana mengobati luka bakar yang ada. Jika operasi terus menerus Raziq juga tak kuat. Kalau biaya, saya juga tak punya. Meski ada BPJS Kesehatan, tapi apa mungkin akan ditanggung hingga ia benar-benar kembali normal seperti sedia kala,” tutur perempuan yang berdomisili di Lubuk Alung itu.

Sebagaimana diketahui, Raziq merupakan korban pembakaran oleh perempuan yang tidak dikenalnya di Korong Salibutan, Lubuk Alung, Padang Pariaman pada Sabtu 17 Oktober lalu.

Kemudian terungkap pelaku hendak membawa anak dari istri kedua suaminya yang juga bernama Raziq. Dia sakit hati pada ibu anak tersebut karena cemburu. Sayang Raziq yang sama sekali tak ada kaitan dengan masalah pelaku harus menanggung derita seumur hidup. Raziq anak Vera dan Candra adalah korban salah sasaran.(yuke)