Rencana Darurat Gempa di Indonesia, PBB Ramalkan 10 Ribu Korban Jiwa

Ilustrasi (net)

JENEWA – PBB menyusun sebuah rencana darurat penanganan bencana gempa di Indonesia. Dalam rencana itu, PBB meramalkan sebuah skenario yang memperkirakan 10 ribu orang akan tewas dalam waktu 24 jam dan 47 juta lainnya diperkirakan terkena dampak gempa.

PBB memimpin sebuah latihan untuk mengantisipasi bencana di salah satu daerah paling rawan di dunia. Latihan itu dilakukan berdasarkan gempa berkekuatan 7,8 Skala Richter (SR) yang terjadi di Selat Sunda, dekat dengan Jakarta.

“Dalam 24 jam pertama, sekira 10 ribu korban jiwa dengan sejumlah besar orang hilang dilaporkan,” demikian disebutkan dalam rencana cadangan berdasarkan skenario terburuk itu sebagaimana dilansir Reuters, Sabtu (13/1).

Disebutkan juga sekira 60 ribu orang akan mengalami luka serius, 200 ribu lainnya mengalami luka ringan dan 9,6 juta orang terpaksa harus mengungsi untuk sementara akibat gempa tersebut. Meski ada 2,5 juta orang yang membutuhkan bantuan, hanya kurang dari sepersepuluhnya yang akan mendapatkan pertolongan.

Jaringan listrik dan telefon akan mati selama setidaknya dua pekan dan tumpahan minyak serta bahan kimia akan menyebabkan kebakaran dan mengganggu suplai minyak setidaknya sepekan setelah gempa. Selain itu gempa juga akan menyebabkan gangguan pada bandara dan pelabuhan.

Juru Bicara Badan PBB untuk Penanggulangan Resiko Bencana, Denis McClean mengatakan, sejak bencana tsunami di Aceh pada 2004, budaya pencegahan bencana telah menyebar di seluruh dunia. Dia menambahkan, meski Indonesia telah memiliki badan penanggulangan bencana di tingkat lokal dan nasional serta sistem peringatan tsunami, sebagai negara yang rawan gempa, Indonesia masih memerlukan perubahan dalam aturan pembangunan gedungnya. “Bangunanlah yang membunuh dalam gempa bumi,” kata McClean.

Skenario yang digunakan PBB itu mengasumsikan bahwa gempa yang terjadi mengguncang wilayah Jawa Barat dan Sumatera tanpa menimbulkan tsunami. Skenario itu dikembangkan oleh Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) berdasarkan gempa besar yang terjadi di Batavia pada 1699.

Pemodelan skenario lebih lanjut harus melihat beberapa bencana seperti tsunami atau banjir di kota besar, membawa data yang lebih akurat mengenai bangunan dan prasarana yang rusak. Demikian diwartakan okezone. (aci)