Saat Ini Sekolah Negeri tak Bisa Bernafas

Azyumardi Azra. (antara)
Azyumardi Azra. (antara)

PARIK MALINTANG – Tiga tokoh pendidikan nasional angkat bicara. Dua guru besar mengemukakan pendapatnya di Kayutanam, satu lagi bicara saat diwawancara di Padang Panjang. Mereka adalah Prof. Dr. Fasli Jalal, Prof. Dr. Azyumardi Azra, dan Fauziah Fauzan.

“Kita tak kuasa lagi bicara banyak soal pendidikan di Indonesia, terutama pada sekolah-sekolah negeri. Kondisi lembaga pendidikan itu, sejak dari tingkat dasar hingga perguruan ini membuat kita amat pesimis,” ujar Azyumardi, nak Rang Sicincin yang dipercaya menjadi rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta itu, Minggu (30/10), di Kompleks INS Kayutanam.

Dikatakan, lembaga pendidikan negeri dan banyak sekolah swasta di Indonesia diikat erat oleh birokrasi pendidikan. Akibatnya sekolah-sekolah tak bisa bernafas lagi. Insan-insan pendidikan, ucapnya, banyak fokus pada hal-hal birokratis dan menekan kreativitas.

Birokrasi demikian yang sarat petunjuk pelaksanaan(juklak) dan petunjuk teknis (juknis) yang dibuat para birokrat pendidikan, tegasnya, menyebabkan waktu guru dan kepala sekolah terkuras untuk hal-hal yang administratif, semisal bahan-bahan sertifikasi dan kepangkatan lainnya.

Mantan Wakil Menteri Pendidikan Fasli Jalal pada kesempatan itu menyatakan, pengembangan pendidikan membutuhkan adanya kreativitas dan keleluasaan dalam berinovasi, baik pimpinan sekolah maupun guru dan siswa. Dia sepakat, pendidikan yang terlalu banyak juklak dan juknis, sulit berkembang dan tak bisa banyak diharapkan menjadi pilar utama pendidikan karakter.

Dalam kondisi sistem pendidikan di Indonesia yang banyak dikeluhkan, ucapnya, sebenarnya sekolah-sekolah swasta berpeluang untuk bisa tampil kompetitif dan lebih maju. “Sekolah swasta tentu tak terlalu dikekang juklak dan juknis. Birokrasi pendidikan juga tidak terlalu menggangu. Lantaran  itu, tiada salahnya sekolah-sekolah swasta muncul jadi pelopor sekolah kreatif dan garda terdepan selaku pendidikan karakter,” sebut Fasli yang berasal dari Lintau itu.

Sementara itu, Pimpinan Diniyyah Puteri Fauziah Fauzan mengakui, banyaknya persoalan di lingkungan sekolah, tidak bisa dilepaskan dari kebijakan pendidikan nasional dan keterampilan guru, baik dari sisi memanajemen lembaga itu sendiri, maupun aspek penguasaan strategi pembelajaran, sistem, dan kurikulum yang digunakan. (mus)