Satu dari Empat Prajurit Gugur di Natuna Putera Padang Pariaman

Ilustrasi (net)
Ilustrasi (net)

PADANG – Satu dari empat prajurit yang gugur dalam insiden gladi bersih Latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) di Tanjung Datuk Natuna, merupakan salah satu putra terbaik Ranah Minang. Dia adalah Kapten Arh Heru Bayu.

Heru berasal dari Teluk Belibi, Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman. Dia merupakan lulusan Akmil 2008 dengan jabatan terakhir Danraimer B Yonarhanud 1/1 Kostrad.

Informasi dihimpun jenazah Heru sudah disemayamkan di rumah duka. Rencananya, jenazah akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa Lolong, Padang, siang hari ini.

“Jenazah sudah tiba pukul 01.00 WIB dini hari tadi menggunakan pesawat jenis CN 295 melalui Bandar Udara Internasional Minangkabau,” kata Komandan Lanud Sutan Sjahrir, Kol Pnb I Putu Gede Swastika, Kamis, (18/5).

Dalam hal ini, menurut Swastika, pihaknya hanya memfasilitasi kedatangan jenazah Heru. Sementara untuk proses selanjutnya diserahkan ke Makorem 032/Wirabraja.

Hingga berita ini ditulis, Makorem 032/Wirabraja belum memberikan keterangan secara resmi, baik soal kedatangan maupun rencana pemakaman jenazah Heru.

“Saya belum bisa memberikan keterangan resmi. Di samping harus berkoordinasi dengan pimpinan, posisi saya juga masih di luar kota,” kata Kapenrem 032/Wirabraja, Kapten Hasran Harahap melalui sambungan telepon.

Empat prajurit TNI gugur dan delapan lainnya menderita luka-luka akibat ledakan tembakan meriam dalam latihan pendahuluan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) di Tanjung Datuk, Natuna, Rabu, 17 Mei 2017.

Dalam keterangan resminya, Kepala Dinas Penerangan TNI AD, Kolonel Arm Alfret Denny Tuejeh, mengatakan meriam  itu meledak karena mengalami gangguan pada peralatan pembatas elevasi. Hal itu menyebabkan peluru shrapnel meriam tak dapat dikendalikan dan meledak.

Akibat kejadian  itu, empat orang meninggal dan delapan orang lainnya luka-luka. (arief)