Sengketa Berdarah di Harau, Sudah 10 Kali Dimediasi tapi tak Berhenti

Ilustrasi (net)
Ilustrasi (net)

SARILAMAK – Peristiwa berdarah antar dua kelompok masyarakat yang terjadi di perbukitan Air Suci, batas Pilubang, Sarilamak dan Taram, Kecamatan Harau, Limapuluh Kota, Minggu (10/9) pagi, sudah diprediksi jauh hari.

Bagaimana tidak, persoalan tanah ulayat yang ada di kawasan tersebut, bak sebuah bom waktu. Meledaknya kemarin. “Jadi, untuk mediasi saja, kami hitung, sudah difasilitasi 10-an kali,” kata Camat Harau, Deki Yusman, tadi malam.

Deki menyebut, terakhir kali dimediasi, pada 2016 lalu. “Jadi, persoalan kawasan lahan di sana itu, yang kami duga masalah perdata, belum kunjung duduk,” ulas Deki Yusman.

Padahal kata dia, aparatur Kecamatan mewakili Pemkab, bersama-sama dengan polisi/TNI, sudah berkali-kali memfasilitasi penuntasan persoalan lahan. “Kami hitung, masalah ini mulai meletup sejak 2015 awal sampai sekarang,”
tutur Deki.

 

Kondusif

Hingga tadi malam, jenazah korban Erwin Saputra yang sempat dibawa ke rumah duka, dibawa ke RS Bhayangkara, untuk proses autopsi. “Iya, diautopsi sebelum dikebumikan,” kata Kapolres Haris Hadis.

Polisi memastikan, situasi kedua nagari kondusif pasca kejadian. “Tadi, bersama Kapolres dan Muspika, kami sudah datangi pihak di Nagari Taram dan Pilubang, alhamdulillah aman, kondusif,” kata Camat Harau Deki Yusman.

Baik pemerintah daerah maupun polisi/TNI, masih terus berjaga-jaga di sudut sudut perkampungan. “Kedua belah pihak, sudah kita konsolidasi masing-masing dari tadi. Kita datangi, sejauh ini kondusif. Insya Allah, aman tidak ada serangan susulan dari kedua belah pihak,” demikian Kapolres dan Camat Harau. (bayu)