Silek Bagoluk Lunau Angkat Tradisi Silek Tuo

Silek Bagoluk Lunau mengangkat tradisi Silek Tuo yang dimainkan di sawah dalam rangka memeriahkan pasca panen, dalam iven Payakumbuh Botuang Festival, Kapalo Koto Ampangan, Nagori Aua Kuniang, Payakumbuh Selatan, Sabtu (2/12). (bule)

PAYAKUMBUAH – Kapalo Koto Ampangan, Nagori Aua Kuniang, Kecamatan Payakumbuh Selatan, Sabtu (2/12) siang itu, terlihat lain dari biasanya. Dulang-dulang berisi penuh, banyak dijujuang amai-amai. Biasanya, kalau ada dulang pasti ada alek gadang. Itu sudah suatu pertanda di nagari-nagari di ranah Minang ini.

Dulang yang berisi makanan, buah serta makanan khas daerah, tidak hanya dijujuang oleh amai-amai. Tapi banyak wajah asing yang ikut maarak dulang ini. Rupanya siang itu, ada alek budaya yang kemas dalam Payakumbuh Botuang Festival 2017 di Kapalo Koto Ampangan, Nagori Aua Kuniang. Alek ini juga dihadiri sekitar 100 peninjau dari 16 negara. Makanya banyak wajah bule dan mata sipit ikut dalam iring-iringan dulang itu.

Tapi yang ditunggu-tunggu masyarakat bukan arak dulang itu saja. Masyarakat dan pengunjung yang datang, tidak hanya dari Payakumbuh tapi juga dari berbagai daerah di Sumatera Barat dan beberapa provinsi di Indonesia, menunggu pacu itiak dan silek bagoluik lunau. Pacu itik adalah permainan anak nagari Luak Limopuluah yang sudah mendarah daging di masyarakat sejak tahun 1800 an. Permainan ini hanya ada di Luak nan Bungsu. Tidak ada daerah lain yang bisa memainkan pacu itik ini.