Sopir Bajaj dan Taksi Beruntung Pakai BBG

Seorang sopir taksi memperhatikan dengan seksama proses pengisian BBG di kendaraannya. (hendri nova)

JAKARTA – Kerasnya persaingan mendapatkan penumpang dengan transportasi online, membuat sopir bajaj dan taksi konvensional hampir kelimpungan. Hal itu tidak lain disebabkan oleh besarnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang harus dikeluarkan, tidak sesuai dengan penghasilan yang didapat.

Namun untunglah kerisauan hati mereka terobati, dengan adanya konversi BBM ke Bahan Bakar Gas (BBG). Bajaj lama mereka diganti dengan bajaj baru dengan warna biru. BBG ternyata sangat irit dengan biaya isi ulang perhari hanya Rp17-20.000.
“Kalau dengan BBM Rp70-90.000 per hari, maka dengan gas cukup Rp17-20.000 per hari,” kata Jupri, salah seorang sopir bajaj kepada Singgalang, Rabu (29/11).
Ia mengatakan, untung per hari yang ia dapatkan jadi lebih meningkat. Setidaknya Rp100.000 bisa dibawa pulang per harinya, bersih di luar setoran kepada juragan bajaj.
Senada dengan Jupri, Andre, salah seorang supir taksi mengatakan, terjadi perbedaan cukup signifikan dengan memakai gas PGN. Jika bensin sehari bisa Rp180-200.000, maka gas jadinya cuma Rp90.000 saja.
“Untungnya lumayan. Premium cuma Rp100.000 per hari, kalau gas pendapatannya bisa dua kali lipat,” katanya.
Baik sopir bajaj maupun sopir taksi, kini tak lagi takut bersaing dengan transportasi online. Mereka rata-rata memakai BBM, sehingga ongkos operasionalnya jauh lebih tinggi.
Harapan sopir bajaj dan sopir taksi pada PGN, agar antrian kendaraan untuk mengisi BBG dipersingkat. Jangan lagi ada antrian yang panjang, sehingga menyita waktu untuk mencari nafkah.
Jumlah SPBG harus ditambah, agar tak ada lagi antrian panjang di semua SPBG yang ada di Jakarta. Masyarakat sangat berharap kemudahan dalam mendapatkan BBG, supaya semuanya lancar dan tak terjadi pemborosan waktu tunggu pengisian. (hendri nova)