Spesialisasi Peringkat Ketiga

 

Dede Amri. (*)
Dede Amri. (*)

PADANG- Iven Pekan Olahraga Wilayah (Porwil) se-Sumatera sudah sama-sama diketahui salah satu ajang babak kualifikasi PON yang disebut juga perebutan tiket pesta olahraga terbesar di Tanah Air ini. Pementasannya sudah delapan jilid.

Porwil IX dijadwalkan 13 hingga 21 November mendatang. Provinsi Bangka Belitung menjadi host iven yang mempertandingkan 10 cabang olahraga itu.

Berbicara sejarah prestasi bagi Kontingen Sumatera Barat sampai Porwil edisi VIII di Batam, Provinsi Kepulauan Riau yang dihelat 20 hingga 26 Juni 2011 silam, torehan terhebat bagi duta-duta olahragawan ranah Minang tercipta di Porwil II pada 11-19 September 1988 dimana tuan rumah kala itu Pekanbaru, Provinsi Riau.

Sumbar menempati posisi runner up terbaik dengan memboyong 11 medali emas, 7 perak dan 14 perunggu. Posisi jawara disabet Kontingen Sumatera Utara dengan raihan 17 emas, 13 perak dan 14 perunggu.

Sebelumnya pada perhelatan pertama Porwil pada 9 hingga 16 September 1984 di mana Sumbar menjadi penyelenggara hanya mampu finish ketiga perolehan medali dengan memboyong 8 medali emas, 18 perak dan 31 perunggu. Sumatera Selatan tampil kampiun mendulang 27 emas, 14 perak dan 7 perunggu. Sumatera Utara diurutan runner up torehan 20 emas, 19 perak dan 9 perunggu. Kala itu 9 provinsi ambil bagian bahkan Kalbar juga ikut serta dan menempati posisi buncit tanpa satu pun membawa medali.

Porwil III digelar 9 hingga 16 September 1992 di Palembang, Sumsel. Delapan provinsi bertarung, Sumsel, Jambi, Sumut, Sumbar, Aceh, Riau, Lampung dan Bengkulu. Pertarungan pun akhirnya dimenangkan tuan rumah memboyong 21 emas, 27 perak dan 27 perunggu. Posisi kedua Jambi 20 emas, 19 perak dan 13 perunggu. Sumut di posisi ketiga 19 emas, 18 perak dan 17 perunggu. Sumbar turun satu kasta di posisi keempat dengan 8 emas, 7 perak dan 13 perunggu.

Empat tahun berikutnya, Porwil IV dipentaskan di Provinsi Aceh tepatnya 9 sampai 17 Maret 1996. Di luar dugaan Kontingen Sumbar menuai hasil terburuk. Dari delapan kontestan yang bertarung, Jambi, Sumut, Sumsel, Aceh, Riau, Lampung, Sumbar dan Bengkulu olahragawan ranah Minang menempati posisi dua juru kunci di atas Bengkulu dengan hanya memboyong 1 emas, 6 perak dan 6 perunggu. Tuan rumah Jambi, jawara dengan torehan 24 emas, 16 perak dan 16 perunggu.

Keterpurukan Sumbar terus berlanjut di Porwil V Jambi pada 20 hingga 29 Oktober 1999. Posisi dua buncit dipertahankan dari 8 kontestan. Sumbar kala itu hanya memboyong 3 emas, 19 perak dan 17 perunggu. Juara Sumsel dengan 28 emas, 34 perak dan 15 perunggu.

Dua kali dengan predikat dua juru kunci, maka olahragawan Sumbar bangkit. Empat tahun berikutnya tepatnya 6 sampai 16 Oktober 2003 dipertarungan Porwil VI di Lampung, Kontingen Sumbar mampu naik empat tangga di posisi ketiga perolehan akhir medali. Memboyong 22 emas, 33 perak dan 31 perunggu. Juara disabet tuan rumah, Lampung dengan 41 emas, 33 perak dan 33 perunggu. Posisi kedua Sumut 33 emas, 33 perak dan 29 perunggu.

Posisi ketiga terhebat se-Sumatera pun terus dipertahankan duta-duta olahragawan Sumbar pada Porwil VII Medan, Sumut dari 25 Agustus hingga 2 September 2007. Sumbar memboyong 18 emas, 22 perak dan 30 perunggu. Juara Sumut 38 emas, 28 perak dan 30 perunggu, Sumsel diposisi kedua 28 emas, 17 perak dan 15 perunggu.

Hingga Porwil terakhir yakni edisi VIII pada 20 hingga 26 Juni 2011 di Batam kembali Sumbar harus puas mempertahankan tangga ketiga mendulang 12 emas, 14 perak dan 13 perunggu di bawah Bangka Belitung dengan raihan 15 emas, 13 perak dan 15 perunggu serta jwara Sumsel 23 emas, 19 perak dan 17 perunggu.

Porwil IX di Provinsi Bangka Belitung jika dihitung mundur tinggal sekitar lima bulan lagi. Perhelatannya 13 hingga 21 November 2015. KONI Sumbar selaku organisasi tertinggi olahraga prestasi yang terus melakukan pembinaan juga terus berpacu bersama-sama 10 Pengprov cabor yang akan bertarung nanti agar bisa merebut medali emas sekaligus perebutan tiket PON 2016 di Jabar bakal habis-habisan. Salah satunya TC Pelatprov telah digelar, walau sedikit agak terlambat disebabakan banyak sebabnya.

Pertanyaannya kini, akankah predikat spesialisasi peringkat ketiga kembali berpihak kepada Kontingen Tuah Sakato? Melihat dari delapan yang sudah tuntas, empat kali memang berakhir seperti itu, seperti Porwil I-1984, Porwil VI-2003, dan Porwil VII-2007 serta Porwil VIII-2013. Hanya sekali posisi runner up Porwil II-1988, lalu posisi keempat Porwil III-1992 dan dua kali terburuk di posisi dua juru kunci di Porwil IV-1996 dan Porwil V-1999. Akankah spesialiasi posisi ketiga kembali tercipta, ataukah kembali melorot. Menarik kita tunggu hasilnya November mendatang. (dede amri)

 

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan.