Sri Mulyani Yakin APBN 2017 Jadi Obat Trauma Krisis

Sri Mulyani Indrawati (Antara)
Sri Mulyani Indrawati (Antara)

JAKARTA – Krisis 1998 telah berlalu hampir dua dekade. Namun hingga saat ini, krisis tersebut masih menyisakan beban psikologis bagi Indonesia.

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, pelaku pasar masih sangat sensitif dengan adanya isu krisis. Bahkan dengan adanya sentimen kecil, pelaku pasar sudah menunjukkan kepanikan, walaupun hanya sesaat.

“(Pada) 2008-2009 Indonesia alami flash memori. Ketika ada sesuatu seperti devaluasi, memori 1998 muncul. Mereka tarik modal, uang, sehingga psikologi masyarakat belum begitu pulih, seperti ada ketakutan,” tuturnya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (30/11).

Untuk itu, Sri Mulyani pun memiliki cara tersendiri untuk menghilangkan beban psikologis tersebut. Salah satunya adalah dengan menciptakan APBN 2017 yang kredibel namun ambisius. Menurutnya, kebijakan ini perlu dilakukan untuk mengembalikan kepercayaan para investor.

“Memang waktu itu secara politik dan keuangan adalah milestone yang luar biasa. Tapi kita sebagai Menteri Keuangan sudah hadapi dan kelola hal ini. Masalah psikologi bisa dihadapi sehingga APBN tidak seharusnya jadi sumber masalah,” jelasnya.

Saat ini, pemerintah pun telah mulai berbenah diri. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menambah sumber daya manusia (SDM) berkualitas yang dapat bermanfaat bagi kestabilan ekonomi Indonesia.

“Waktu ekonomi lemah kita bisa counter. APBN adalah suatu instrumen uang luar biasa. APBN itu ditopang oleh data sehingga para akuntan pemerintahan negara itu sangat penting,” tuturnya.

“Waktu itu tidak ada akuntan pemerintahan, di FE UI saja itu ditutup. Tapi kami sekarang punya STAN dan dipakai di mana-mana. Kalau APBN bagus, memang republik ini tetap akan ada pressure politik. Tapi ini bisa kita atasi,” tutupnya. (lek)

agregasi okezone1