Strategi Millenials Menghadapi Pasca-kampus

Faldo Maldini
Faldo Maldini

“Kerja dimana?”,
“Pendidikan terakhir apa?”
“Bisnis apa sekarang?”

Tiga pertanyaan tersebut adalah momok bagi anak muda, khususnya generasi millenials di saat menjelang selesai ataupun pasca-lulus dari pendidikan tinggi. Pertanyaan-pertanyaan tersebut selalu ditanyakan oleh sahabat, saudara apalagi orangtua dalam kesempatan apapun. Pada tulisan ini penulis akan mencoba menjabarkan kegalauan yang sering dihadapi pemuda millenials dan bagaimana cara menghadapinya.

Menurut para peneliti sosial, generasi Y atau millennials ini adalah manusia yang lahir pada rentang tahun 1980-an hingga 2000. Dengan kata lain, generasi millenials ini adalah anak-anak muda yang saat ini berusia antara 15-35 tahun. Jika kita melihat telusuri lebih dalam, mereka merupakan kelompok anak muda yang sedang produktif dan berpotensi mendukung pembangunan bengsa ini ke depan.

Namun, harapan yang ada di pundak anak muda millenials ini bukan tanpa tantangan. Zaman yang semakin maju dan berkembang menuntut mereka untuk harus kompetitif. Indonesia khususnya, pada saat ini sudah masuk ke era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Persaingan yang dihadapi oleh anak muda bukan hanya dalam negeri, namun juga dari luar negeri. Untuk millenials Sumatera Barat, tantangan lulusan kampus asal Sumbar bukan hanya anak UI, ITB atau UGM. Mereka harus sudah siap menghadapi lulusan dari kampus top luar negeri seperti Singapura yang memiliki Nangyang Technological University atau National University of Singapore.

Galau Kerja dan Menghadapinya
Setiap orang pasti mau bekerja dan tidak menjadi pengangguran. Bekerja adalah salah satu tahapan kehidupan yang akan dilalui setiap manusia. Namun, kerja yang harus dilakukan tentu bekerja bukan sembarang kerja. Hari ini dengan dunia yang semakin terbuka, lowongan pekerjaan memang sangat banyak sekali tersebar di depan mata, akan tetapi hal tersebut bukan sesuatu yang mudah didapat secara cuma-cuma. Untuk memenangkan sebuah lowongan kerja, seseorang pada saat ini tidak hanya harus berjuang, namun memiliki kualitas di atas rata-rata berstandar internasional.

Kualitas ini yang seringkali diabaikan banyak millenials, karena tidak terlalu fokus mempersiapkan kualitas diri. Apalagi bagi millenials yang terlalu asyik bermain dan hura-hura. Menurut penulis, masa kuliah adalah masa mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya menjelang lulus. Lulus dari kuliah itu ibarat kematian, ia pasti datang. Pertanyaan yang penting bukan kapan mati atau kapan lulus, tetapi bagaimana menjalani kehidupan pasca mati. Sama halnya menjalani kehidupan pasca lulus.

Untuk Provinsi Sumatera Barat sendiri, berdasarkan riset terakhir yang dilakukan (Agustus 2016) tingkat penggangguran di Sumbar berada di angka 5,09%. Hal ini di atas rata-rata nasional 5.07%. Walau begitu rasanya tidak arif jika kita menyalahkan pemerintah semata terkait permasalah pengangguran ini.

Para millenials juga harus siap bersaing di lapangan kerja lain, seperti swasta atau bahkan sektor ketiga. Sejak saat ini, millenials harus merubah paradigmanya dan membuang jauh-jauh bersandar pada pemerintah untuk berharap mencari tempat untuk bekerja. Bekerja dengan menjadi PNS bukan berarti salah, justru Indonesia butuh banyak Millenials berkualitas yang harus masuk ke pos-pos Pemerintahan.

Di sisi lain, millenials harus mampu membaca peluang. Menurut penulis, millenials lebih baik juga bercita-cita bisa bersaing masuk ke perusahaan swasta nasional apalagi multi national company. Terlebih saat ini pemerintah sedang menahan pembukaan lowongan menjadi PNS.

Millenials juga harus keluar dari dogma “bekerja harus sejalan dengan di jurusan saat kuliah”. Hal ini sebenarnya termasuk yang sering mematikan potensi para millenials. Menurut penulis, pada dasarnya studi sarjana lebih menekankan analisis dan kerangka berpikir, bukan hal spesifik.

Hal ini berlaku di semua jurusan. Yang membedakan antar jurusan memang skill. Akan tetapi, jika kita bicara tentang skill, itu adalah hal yang bisa dipelajari dengan bermodal ketekunan. Di satu sisi, tentu menjadi hal yang bagus jika bisa kerja sesuai jurusan studi, namun bukan berarti itu satu-satunya jalan. Millenials masih bisa belajar cepat dan menangkap peluang-peluang lain agar bisa berkarya dan berkarir.

Perubahan pola pikir tentang bagaimana seharusnya bekerja seperti penjabaran di atas perlu dimiliki para millenials. Selanjutnya, jika sudah beres dengan urusan paradigma, millenials bisa fokus untuk mempersiapkan hal lain seperti skills, jaringan, kemampuan bahasa dan kemampuan interprersonal.

Hal-hal tersebut bisa dipersiapkan para millenials tidak hanya di kelas saja tetapi juga dalam organisasi. Oleh karena itu, Penulis sangat mendorong para millenials untuk berorganisasi karena hal tersebut akan sangat bermanfaat untuk pengembangan diri dan dibutuhkan saat memasuki dunia kerja.

Menjadi Pengusaha Bisa Menjadi Pilihan
Selain bekerja dengan orang lain, menjadi pebisnis atau pengusaha juga sangat terbuka peluangnya bagi millenials era sekarang, apalagi millenials dari Ranah Minang. Orang Minang yang merupakan pedagang dan terkenal sebagai pebisnis handal yang namanya tidak hanya harum di dalam negeri. Orang-orang di luar negeri juga banyak yang menyatakan bahwa Minangkabau adalah sarangnya para pedagang dan saudagar.

Dalam memulai bisnis, hal paling penting yang harus dimiliki millenials adalah mental. Teknik berbisnis sebenarnya sederhana dan ada banyak buku yang telah mengulasnya, jika millenials ingin membaca. Prinsip hemat pengeluaran demi mencapai keuntungan maksimal bahkan menjadi salah satu karakter Orang Minang.

Selain mental, millenials juga harus percaya dengan kekuatan networking atau jaringan. Tidak sedikit yang memiliki bisnis besar pasti ditopang dengan jaringan yang kuat. Jaringan ini yang akan mendorong proses bisnis bisa tumbuh dan berkembang. Berbicara tentang jaringan bukanlah hal yang bisa dicapai dalam semalam. Ia merupakan sebuah kerja panjang hari ke hari dengan berbekal sikap open minded.

Bahkan dengan memiliki jaringan, memulai usaha bisa dilakukan tanpa memiliki modal. Investor adalah pihak yang bisa diajak bekerjasama untuk memulai bisnis dan biasanya merupakan orang yang berjejaring berbasis kepercayaan. Millenials yang ingin menjadi pengusaha sudah seharusnya tidak khawatir dengan perkara modal. Modal berapapun, asalkan tidak dikelola dengan benar, pasti akan hancur bisnisnya. Dari sini, kita bisa bersepakat bahwa modal bukanlah momok yang menghantui, asalkan mau maju dan bersemangat mencari rezeki.

Istilah start up semakin sering terdengar di telinga kita dan itu merupakan peluang bisnis hari ini. Siapa sangka memesan tiket pesawat menjadi sangat mudah hari ini dengan Aplikasi. Begitu pula dengan jual beli, membayar tagihan, bahkan membeli rumah dan mobil bisa dilakukan dengan aplikasi. Start up juga merupakan peluang yang bisa digarap agar millenials bisa menjadi pengusaha handal.

Untuk membuat start up pada dasarnya diperlukan empati besar dalam melihat masalah yang ada dan menyodorkan solusi dalam bentuk produk start up (biasanya digital). Yang tak kalah penting, usaha start up yang dibuat harus bisa tumbuh besar dan menjangkau banyak pihak. Bahasa populer hal ini adalah scalable.

Millenials Sumbar, tentunya memiliki peluang ke sana apalagi jika memilih berdagang. Sumatera Barat memiliki banyak sekali potensi baik itu kuliner, pariwisata, UKM, Kesenian, dan lainnya. Kesemuanya bisa dijual dengan membuat sebuah jalur penjualan (channel distribution) yang memperkenalkan hasil kekayaan Minang ke domestik bahkan luar negeri.

Selain itu, millenials juga bisa memanfastkan start up yang sudah ada untuk bisa menjadi pengusaha. Banyaknya portal dagang online di Indonesia juga bisa menjadi peluang menjadi pengusaha pula. Bermodal tinggal melakukan pemotretan produk, lalu dimasukkan ke portal online maka barang sudah bisa dilihat oleh orang lain untuk dibeli dan dipesan.

Jangan Pernah Menyerah
Tidak ada yang mudah di dunia ini, termasuk mencari kerja. Allah SWT menganugerahkan akal dan pikiran kepada manusia agar bisa berpikir dan berkreasi. Manusia juga dijamin oleh Tuhan sebagai makhluk terbaik di antara makhluk ciptaan-Nya yang lainnya.

Para millenials harusnya lebih bisa bersyukur. Orangtua kita dulu harus berjalan berjalan kaki ke sekolah, untuk mendapatkan buku harus antri agar bisa membaca, internet bahkan tidak ada. Millenials saat ini memiliki fasilitas berlimpah ruah untuk bisa hidup lebih baik.

Oleh karena itu, sebagai bentuk syukur terhadap zaman maka millenials harus menghentikan kegalauannya untuk tidak bisa bekerja. Millenials hanya butuh kerja keras dan kerja cerdas untuk bisa menaklukkan zaman ini. Sekali lagi, asalkan mau berusaha dan berdo’a pastinya hal itu bisa diraih.

Faldo Maldini

Co-founder pulangkampuang.com,
(komunitas yang aktif dalam pemberdayaan pemuda Sumbar)