Suara Azan Menyentak di Jantung Kota Seoul

Berfoto sejenak seusai Shalat Jumat di Masjid Iteawon Seoul (ist)
Berfoto sejenak seusai Shalat Jumat di Masjid Iteawon Seoul (ist)

AZAN pertanda masuknya waktu Shalat Jumat (21/10) menggema di perkampungan Arab, pusat Kota Seoul. Suara azan itu seperti di negeri sendiri, tapi ini di Korea Selatan.

Kami bergegas Masjid Iteawon satu-satunya di kota ini. Dibuka 1976 dan sejak itu ramai dikunjungi. Masjid terletak di Hannam-dong, Yongsan-gu. Sebagai satu-satunya Masjid di Seoul, tidak sedikit warga Korea menjadikannya sebagai tempat wisata untuk dikunjungi pada akhir pekan atau mendengar pembicaraan tentang 
Islam.

Suara azan kian menikam, sontak saja rombongan wartawan Indonesia yang tergabung dalam delegasi PWI se-Indonesia bergerak cepat menuju Rumah Allah itu.

Di tengah masyarakat yang minoritas Islam, suasana ibadah Shalat Jumat memang terasa berbeda. Kesibukan Kota Seoul tetap saja berjalan secara normal karena tak banyak kaum lelakinya yang ke masjid.

Kami rombongan wartawan masih dapat ke masjid, karena dibantu salah seorang pengurus wartawan Korea. Dia tahu betul, sebagian besar wartawan Indonesia memeluk agama Islam. Begitu kami sampai di bandara Inchoen Seoul, dia langsung menawarkan Shalat Jumat.

Kami tercenung, karena yang shalat dari berbagai bangsa dan dari berbagai tempat sekitar Seoul. Khatib menggunalan bahasa Inggris, tetapi membacakan rukun dan syarat tetap menggunakan bahasa Arab.

Selesai shalat kami terkejut begitu banyak bertemu dengan orang Indonesia yang lagi liburan di negeri ginseng itu. Sebagian lagi ada yang sedang kuliah dan bekerja.

Bahkan menurut informasi yang didapat, cukup banyak tenaga ahli rekayasa teknik dari Indonesia ikut dalam pembuatan pesawat di sini.

Rombongan wartawan rencananya akan melihat industri tersebut. Kedatangan rombongan PWI ke Seoul memenuhi undangan organisasi wartawan Korsel JAK (Journalist Asosiasion of Korea). Rombongan dipimpin Ketua Bidang Daerah, PWI Pusat, Atal Depari didampingi 10 orang Ketua PWI se-Indonesia. (basril basyar)