Sudah Mengkhawatirkan, Danau Maninjau Bisa Mati

Keramba Jaring Apung (KJA) Danau Maninjau.  (lukman)
Keramba Jaring Apung (KJA) Danau Maninjau. (lukman)

PADANG – Kondisi kawasan Danau Maninjau sudah sangat mengkhawatirkan.Jika dibiarkan berlarut-larut danau vulkanik yang berada di ketinggian 461,50 meter di atas permukaan laut itu akan mati.

“Saat ini perairan Danau Maninjau berada pada level eutropik dan tinggal satu level lagi menuju danau mati.  Jika Danau Maninjau Mati butuh waktu 23 tahun lebih untuk menormalkan kondisi air yang layak pakai kembali,” kata Dirjen Pengendalian Kerusakan Perairan Darat, DAS dan hutan lindung, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Hermono Sigit, pada peringatan Hari Air sedunia yang ke 25, di kawasan Muko Muko Danau Maninjau, Agam Rabu (22/3).

Menurutnya, jika kualitas air Danau Maninjau tidak dari sekarang diperbaiki, maka air danau tersebut ke depan tidak bisa dimanfaatkan lagi. Baik sebagai sumber kehidupan maupun dunia pariwisata. Karena kualitas airnya sudah sangat tercemar.

Data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Agam, saat ini terdapat 17.226 petak Keramba Jala Apung (KJA) di Danau Maninjau. Jumlah itu jauh melebihi daya tampung danau sebanyak 6.000 petak KJA. Aktivitas perikanan keramba merupakan penyumbang terbesar beban pencemaran di Danau Maninjau, yaitu mencapai 95% dari total beban pencemaran. Waktu tinggal air danau yang mencapai 23,3 tahun, endapan pakan ikan dan bangkai yang membusuk, tingkat erosi yang tinggi ke Danau Maninjau  mengakibatkan sedimentasi di dasar danau mencapai 50 juta kubik.

Untuk penyelamatan Danau Maninjau, terang Hermono Sigit,  pemerintah daerah harus sepakat dengan berbagai program yang direncanakan. Sebab warning tentang kondisi Danau Maninjau sudah diumumkan sejak 2012 bersama belasan danau yang kualitas airnya tercemar di Indonesia. (yuke)