Sulitnya Merawat Semangat Bung Hatta

Ilustrasi. (*)
Ilustrasi. (*)

Oleh Eriandi

Tak dipungkiri, koperasi adalah soko guru ekonomi bangsa. Namun, tak mudah untuk membangun dan menjaga keberlangsungan sebuah koperasi. Terbukti dari tahun ke tahun banyak koperasi yang tumbang dimakan waktu.

Di Sumatera Barat saja, Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Mikro Menengah pada tahun 2016 membubarkan 817 koperasi. Jumlah koperasi di Sumatera Barat mencapai 3.949 unit dengan 2.842 koperasi yang berstatus aktif. Sementara, 1.107 unit koperasi sudah tidak aktif per 2016. Dari jumlah yang aktif itu, itupun hanya 1.425 unit yang melakukan rapat anggota tahunan secara berturut-turut dalam tiga tahun terakhir.

Meski perkembangan koperasi yang tak menggembirakan di kampung Bapak Koperasi sendiri, tapi masih ada koperasi yang membanggakan. Satu di antaranya adalah KUD (Koperasi Unit Desa) Mina Sinar Laut yang terletak di Sungai Limau, Kabupaten Padang Pariaman. Saat mengunjungi koperasi tersebut beberapa waktu lalu, sejumlah anggota Komisi III DPRD Sumbar dibuat terkagum-kagum.

Bagaimana tidak, sebagai sebuah koperasi nelayan mampu menghasilkan 700 batang es balok sehari. Satu batang es balok dijual seharga Rp40 ribu. Dengan produksi tersebut, KUD Mina Sinar Laut mampu memenuhi kebutuhan anggota yang sebagian besarnya adalah nelayan. Bahkan, es balok produksi koperasi tersebut sudah merambah pasar hingga ke Kota Padang. Dengan kekuatan finansial yang dimiliki, koperasi itu tidak pernah mengajukan pinjaman modal ke lembaga perbankan.

Dalam waktu dekat, KUD yang menggeluti bidang usaha pabrik es itu juga berencana akan melakukan ekspansi usaha untuk memenuhi kebutuhan peralatan nelayan dan barang kebutuhan harian. Selain itu, KUD Mina Sinar Laut rutin melakukan Rapat Anggota Tahunan (RAT) setiap tahun.

Anggota Komisi III, Sitti Izzati Azis mengapresiasi perkembangan KUD yang sangat baik dan cukup sehat dengan unit usaha yang berjalan lancar. Menurutnya, kondisi koperasi seperti KUD Mina Sinar Laut patut menjadi acuan bagi koperasi-koperasi lainnya.

Belajar dari KUD Mina Sinar Laut, koperasi harus jeli melihat prospek usaha yang akan digeluti. Wilayah Kabupaten Padang Pariaman Sumatera Barat merupakan salah satu wilayah kepulauan yang kaya dengan hasil laut. Dengan panjang garis pantai mencapai 60,50 Km2 yang membentang hingga wilayah gugusan Bukit Barisan. Sekitar empat ribu lebih penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Es balok merupakan kebutuhan bagi masyarakat dan anggotanya.

Selain itu, pemerintah, terutama pemkab dan pemko, kata Sitti, perlu mendorong kemajuan koperasi yang ada di daerah masing-masing melalui pembinaan yang intensif. Koperasi yang dinilai sehat dan memiliki prospek hendaknya terus dibina hingga koperasi itu bisa mengembangkan usaha secara mandiri. Sebaliknya, koperasi yang sudah tidak aktif lagi sebaiknya dibekukan.

Sementara, Ketua Komisi III DPRD Sumbar Afrizal berharap, ekonomi Sumbar bisa baik dengan koperasi. Komisi III akan terus mendorong perkembangan koperasi di seluruh kabupaten/kota.

“Dinas Koperasi dan UKM harus berinovasi dan bisa melaksanakan program yang bermanfaat serta jelas hasilnya,” ujarnya.

Peran koperasi, katanya, perlu dioptimalkan untuk menunjang laju pertumbuhan ekonomi Sumbar. Semua koperasi di Sumbar diharapkan bisa berkembang sesuai dengan unit usahanya sehingga bisa menjadi kekuatan yang benar-benar nyata bagi pergerakan ekonomi rakyat.

Sulit Merawat Semangat Bung Hatta

Bapak Koperasi Indonesia Bung Hatta memunculkan gagasan bagaimana memajukan perekonomian Indonesia melalui koperasi. Bersama para pendiri bangsa yang lainnya, gagasan Bung Hatta itu kemudian dirumuskan dalam UUD 1945 dan Pancasila. Ini tercermin dalam ayat 1 pasal 33 UUD 1945 yang menyatakan Perekomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan.

Idealnya, koperasi menjadi penumpang ekonomi anggotanya. Karena koperasi memegang prinsip kebersamaan, senasib dan sepenanggungan untuk meningkatkan kesejahteraan bersama. Di saat perekonomian sulit saat krisis 1998, koperasi dan UMKM menjadi garda terdepan penyelamat. Keterpurukan Indonesia bisa terselamatkan.

Namun, dari pengalaman selama ini, gairah berkoperasi hanya muncul sesaat waktu pertama mulai beroperasi. Seluruhnya bekerja. Anggota direkrut. Waktu berjalan. Tahun berbilang. Semangat mulai mengendur. Anggota mulai sulit dicari. Operasional tidak berjalan tidak semestinya.

Di saat-saat seperti itu, mulailah koperasi mengalami mati suri. Ada tapi tidak bekerja. Setelah itu mati perlahan-lahan. Ini yang menjadi kendala setiap pendirian koperasi. Semangat di awal, lalu mati perlahan.

Padahal Bung Hatta menggagas koperasi itu karena merupakan budaya masyarakat Indonesia sendiri yakni setia kawan, tolong-menolong, gotong royong dan kekeluargaan.

Dari data Kementerian Koperasi dan UKM RI, dari 175.201 koperasi yang ada di Indonesia, terdapat sekitar 62.000 koperasi yang tak aktif dan 43.000 di antaranya telah dibubarkan. Dari yang masih aktif itupun, hanya sekitar 46.000 yang melaksanakan Rapat Anggota Tahunan (RAT). Menteri Koperasi dan UKM, AA Gede Ngurah Puspayoga berharap, koperasi Indonesia berkualitas. Salah satunya ditandai semakin bertambahnya anggota dalam satu koperasi.

Dengan semakin berkualitasnya koperasi Indonesia diharapkan pemerintah tak akan sulit melakukan pembinaan dan pengawasan. Kemenkop juga berupaya mengembangkan koperasi yang telah ada dan aktif, salah satunya melalui pemberian kredit usaha. (Penulis adalah wartawan hariansinggalang.co.id)