Terbebas dari Keterisoliran, Warga Mentawai ‘Merdeka’ dalam Berkomunikasi

Salah satu BTS yang ada di Mentawai. Warga Mentawai merasakan manfaat Kehadiran Telkomsel di sana. (*)
Salah satu BTS yang ada di Mentawai. Warga Mentawai merasakan manfaat Kehadiran Telkomsel di sana. (*)

PADANG – Mentawai adalah tempat yang indah. Salah satu surga dunia di Provinsi Sumatera Barat. Keindahan pantai dan ombaknya terkenal hingga ke mancanegara sebagai salah satu tempat berselancar terbaik di dunia. Banyak potensi dan hal unik yang layak dijual Mentawai ke ‘luar’. Sayangnya, jaringan komunikasi yang minim menjadi kendala selama ini.

Bahkan, jaringan komunikasi yang tidak memadai pernah menjadi catatan kelam masyarakat di daerah dengan julukan Bumi Sikerei itu. Saat bencana tsunami menyapu sebagian wilayah Mentawai pada tahun 2010 lalu, masyarakat baru mengetahui pada keesokan harinya. Tak hanya masyarakat di luar kepulauan, masyarakat Mentawai sendiri yang daerahnya tak terdampak tsunami pun baru mengetahui kejadian tragis itu satu hari setelahnya.

Namun kini, sebagian masyarakat Mentawai sudah bisa merasakan kemerdekaan dalam berkomunikasi. Dengan layanan internet yang tersedia oleh provider Telkomsel, masyarakat Mentawai sudah banyak yang dapat berselancar di dunia maya. Mengakses berita lewat berita-berita di media online. Bahkan, beberapa media online berdiri dan berpusat di Mentawai. Wartawan-wartawan dan kontributor media daring pun sudah lebih mudah dalam mengabarkan Mentawai ter-update kepada dunia luar.

Apalagi di Tuapeijat, ibukota Kabupaten Kepulauan Mentawai, masyarakat sudah bisa menikmati jaringan teknologi generasi ketiga atau 3G yang dipasang semenjak event akbar Megathrust Disaster Relief Exercise (MM Direx) pada Maret 2014 lalu. Masyarakat Tuapeijat pun jadi lebih mudah berinteraksi dengan dunia luar. Begitu juga wisatawan atau pengunjung yang datang ke Tuapeijat bisa langsung berbagi foto dan komentar melalui situs jejaring sosial.

Dengan layanan internet cukup lancar di Tuapeijat, beberapa warga mulai memanfaatkan internet untuk berbisnis online. Salah satunya Reni Sandra, 39 tahun, seorang penyiar radio yang memanfaatkan layanan internet untuk menambah penghasilan. Sejak dua tahun terakhir, ibu tiga anak itu menjual pakaian, kue dan pulsa melalui online. Ia mengaku bisa meraup keuntungan antara Rp200 ribu hingga Rp500 ribu per bulan.

“Meski tak banyak, tapi cukuplah untuk tambahan penghasilan, daripada hanya sekadar buka-buka media sosial. Sudah saatnya ibu rumah tangga lebih cerdas memanfaatkan media sosial dengan sudah tersedianya jaringan internet di daerah kita,” ujarnya, Kamis (28/9).

Manfaat internet juga sangat dirasakan oleh orang-orang yang bekerja di sektor pariwisata. Salah satunya Hotdin (44), seorang pemandu wisata lokal. Ia mengaku, dengan adanya internet, lebih memudahkan berkomunikasi dengan calon klien.

“Biasanya, turis-turis asing yang datang ke Mentawai selalu mencari informasi dari relasinya yang pernah berkunjung ke sini. Dengan lancarnya komunikasi, saya bisa langsung berhubungan dengan mereka sejak masih berada di negara asalnya, baik via telepon, maupun melalui Facebook dan Whatsapp,” ungkap Hotdin kepada Singgalang.

Hotdin saat ini mengandalkan profesi pemandu wisata sebagai pendapatan utama untuk menghidupi istri dan kedua orang anaknya, dengan omzet berkisar antara 700 hingga 1.000 Dolar per bulan. Dan, itu sangat terbantu oleh layanan internet dari Telkomsel.

Warga Mentawai lainnya yang sangat merasakan manfaat jaringan komunikasi yang lancar adalah Upit (49). Upit seorang pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) di bidang pengelolaan ikan asin. Selain lewat telepon, pembeli kadang bertanya pasokan ikan kepadanya melalui media sosial.

Menurut janda 4 anak itu, usaha yang dijalaninya merupakan salah satu jenis usaha musiman. Kadang-kadang bisa menghasilkan banyak omzet, namun ada kalanya penghasilannya berkurang. Tergantung cuaca dan ikan yang didapat nelayan. Kalau cuaca bagus, penghasilan pun bagus. Tapi, kalau cuaca kurang bersahabat dan matahari tak bersinar terlalu terang, tentu ikan pun lambat kering.

Kabupaten Kepulauan Mentawai berdiri pada Oktober tahun 1999. Sebelumnya, Mentawai secara administratif berada di bawah Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat. Terdiri dari empat pulau besar dan 98 pulau-pulau kecil. Empat pulau besar di Mentawai yaitu Pulau Sipora, Pulau Siberut, Pulau Pagai Utara, dan Pulau Pagai Selatan yang salah satunya merupakan pulau terluar di Indonesia.

Dengan kondisi geografis daerah kepulauan ditambah sebagai daerah terluar, terdepan dan tertinggal di Sumatera Barat, jaringan komunikasi yang lancar, mutlak dibutuhkan di Mentawai. Apalagi, Mentawai merupakan salah satu daerah rawan bencana di Sumatera Barat, terutama gempa dan tsunami. Bencana tak bisa diperkirakan kapan datangnya. Jika komunikasi tak lancar, segala informasi dan bantuan pun tentu akan terlambat menjangkau daerah itu.

Kondisi sekarang, dari 10 kecamatan yang ada di Mentawai, baru lima kecamatan yang sudah ada BTS bisnis (GSM/ Global System for Mobile Communication). Di antaranya, 1 unit di Muara Sikabaluan Kecamatan Siberut Utara, 1 unit di Muara Siberut Kecamatan Siberut Selatan, 1 unit di Sikakap Kecamatan Sikakap, 1 unit di Malakoppa Kecamatan Pagai Selatan dan 3 unit di Kecamatan Sipora Utara, masing-masing dua unit di Tuapeijat dan satu unit lainnya di Desa Bukit Pamewa.

Sementara, BTS bantuan pemerintah pusat hanya tersedia sebanyak 7 unit yang tersebar masing-masing satu unit di Siberut Tengah, Siberut Barat, Siberut Barat Daya, Sipora Utara dan di Saumanganya Kecamatan Pagai Utara. Ditambah dua unit di Sipora Selatan.

Hingga saat ini, hanya Telkomsel satu-satunya provider Global System for Mobile Communication (GSM) di Indonesia yang  berani menyediakan layanan jaringan, baik seluler maupun internet di kawasan Bumi Sikerei itu. Dari 43 desa yang ada, warga di empat desa di Kecamatan Sipora Utara sudah dapat mengakses layanan internet dengan koneksi cukup lancar melalui operator Telkomsel, yakni Tuapeijat, Sipora Jaya, Sido Makmur dan Bukit Pamewa. Layanan internet sebenarnya juga tersedia di Desa Muara Sikabaluan, Kecamatan Siberut Utara, namun kecepatannya masih agak lambat.

Kepala Dinas Kominfo Mentawai, Joni Anwar kepada Singgalang mengatakan, kehadiran Telkomsel di Mentawai selama ini sangat membantu pemerintah setempat. Dengan adanya jaringan Telkomsel, mendekatkan yang jauh, sehingga keperluan antar pemerintahan desa, kecamatan dengan pemerintahan kabupaten menjadi semakin mudah.

“Selama ini, kehadiran satu-satunya provider GSM, Telkomsel, di Mentawai sangat mendukung penyelenggaraan roda pemerintahan. Meski tak dapat dipungkiri, belum maksimal, itu karena kondisi geografis. Apalagi, dengan infrastruktur yang masih tergolong minim,” kata Joni di Tuapejat, Rabu (27/9).

Dengan rencana akan dibangunnya 28 BTS lagi di Mentawai tahun 2017 ini oleh Balai Penyedia dan Pengelola Pembiayaan Telekomunikasi dan Informatika (BP3TI) Kementerian Kominfo, Joni berharap Telkomsel dapat menyediakan jangkauan yang lebih luas lagi. Selain itu, Pemkab Mentawai tetap membuka peluang bagi penyedia layanan lainnya untuk bersama-sama berinvestasi di Mentawai tanpa memandang profit bagi perusahaan.

Joni mengakui, kebutuhan di Mentawai cukup banyak karena daerah kepulauan. Di wilayah ujung pulau atau wilayah pesisir barat masih banyak yang blank spot.

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Kominfo Sumbar, Yeflin Luandri, Jumat (11/8) juga mengakui rencana BP3TI terkait rencana pembangunan 38 BTS di Sumatera Barat, terdiri dari Kabupaten Kepulauan Mentawai 22 unit, Pasaman Barat 9 unit, dan Solok Selatan 7 unit. Jumlah itupun sebenarnya belum memadai mengingat masih ada beberapa daerah di Sumbar yang belum tersentuh jaringan telekomunikasi.

Di Sumatera Barat, menurut Yeflin, terdapat 31 area yang tidak terjangkau sinyal komunikasi atau blank spot. Terutama pada wilayah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar). Blank spot area bukan hanya disebabkan tidak adanya tower penguat saja, tapi juga diperberat kendala lain, seperti penyediaan pasokan listrik dan infrastruktur.

Kendati demikian, berdasarkan arahan dari Kementerian Kominfo, masalah blank spot di wilayah 3T di Sumatera Barat diupayakan dapat tuntas selambat-lambatnya tahun 2018. Data area blank spot akan terus diperbarui. Karena, selain di wilayah 3T, masih ada sejumlah nagari atau desa di kabupaten/kota di Sumbar yang belum bisa menikmati layanan komunikasi.

Terkait komitmen Telkomsel dalam mendukung pemerintah memeratakan akses telekomunikasi di seluruh Indonesia, Direktur Utama Telkomsel, Ririek Adriansyah mengatakan, sejak awal beroperasi 22 tahun yang lalu, Telkomsel telah memiliki visi untuk menyatukan Indonesia melalui hadirnya layanan telekomunikasi di berbagai lokasi di Indonesia. Dengan demikian, masyarakat bisa saling terhubung kapan pun dan di mana pun.

“Komitmen ini terus kami pertahankan hingga saat ini, dimana kami konsisten membangun daerah-daerah pelosok agar tidak terisolasi dari sisi telekomunikasi,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ririek menambahkan, saat ini telekomunikasi tidak hanya menjadi kebutuhan utama masyarakat di kota besar, tapi juga masyarakat pelosok. Untuk itu, Telkomsel terus berupaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat melalui layanan seluler yang dihadirkan, sehingga lebih banyak lagi masyarakat di pelosok yang dapat menikmati layanan telekomunikasi dengan standar kualitas yang sama dengan wilayah lainnya di seluruh Indonesia. Telkomsel terus melakukan pembangunan infrastruktur jaringan hingga ke pelosok, termasuk di wilayah-wilayah berpenduduk yang belum memperoleh akses telekomunikasi.

Adapun Mentawai, kini tidak seperti dulu lagi. Dulu Mentawai hanyalah surga dunia yang tersembunyi di balik pulau-pulau dan ombaknya yang indah. Mentawai kini sudah up to date. Masyarakat Bumi Sikerei bisa mengabarkan kabar terbaru setiap saat dari balik layar telepon pintar maupun PC. Meski demikian, masih ada harapan dari masyarakat setempat; yakni untuk menuntaskan blank spot area  serta memperkuat jaringan dalam kondisi apapun. Harapan tergantung pada provider yang benar-benar berkeinginan untuk membangun daerah terluar dan terpelosok di Indonesia, terutama Telkomsel. (eriandi)