Terkendala Jalan, Pelabuhan Tapang  Terancam Mubazir

Pelabuhan Tapang. (*)
Pelabuhan Tapang. (*)

PADANG – Pemprov Sumbar kembali memperjuangkan pembangunan pelabuhan laut Teluk Tapang, Pasaman Barat. Pelabuhan yang selesai pembangunannya pada Mei 2017 itu hingga kini belum dioperasikan, karena akses jalan yang tidak memadai.

Pelabuhan Teluk Tapang berada di Kenagarian Air Bangis, Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat. Pembangunannya sudah menghabiskan dana sekitar Rp230 miliar. Untuk itu diperlukan sarana pendukung.

“Sarana pendukung jalan menuju pelabuhan masih belum layak. Lebih kurang sepanjang 40 kilometer jalan menuju pelabuhan belum diaspal masih dalam kondisi tanah. Kemudian ditambah dengan delapan unit jembatan tidak layak tempuh kendaraan bermuatan berat,” kata Bupati Pasbar Syahiran usai Rapat Koordinasi Gubernur Sumbar dengan Walikota dan Bupati se-Sumbar di Auditorium Gubernuran Sumbar, Kamis (10/8).

Menurutnya untuk perbaikan jalan menuju pelabuhan membutuhkan dana sekitar Rp200 miliar agar bisa dilalui kendaraan bermuatan berat seperti mobil pengangkut minyak sawit di daerah tersebut.

“Untuk fisik pelabuhan menghabiskan dana Rp230 miliar tapi butuh dana Rp200 miliar lagi untuk pembangunan jalan dan jembatan,” sebutnya.

Dikatakan Syahiran, jika pelabuhan sudah beroperasi hasil produksi kabupaten Pasbar seperti minyak sawit tidak akan memakan ongkos besar lagi, tidak perlu lagi diangkut ke pelabuhan Teluk Bayur Padang. Dengan itu, maka perekonomian masyarakat akan terbantu. Kesejahteraan masyarakat bisa meningkat.

“Saat ini sudah banyak kapal-kapal yang bersandar di pelabuhan namun belum melakukan kegiatan secara besar-besaran. Pelabuhan tersebut sudah dilakukan uji sandar dan berhasil. Sayang, kalau sampai sekarang belum beroperasi,” sebutnya.

Selain itu, Pasaman Barat memiliki potensi bidang perkebunan kelapa sawit dengan luas tanam sekitar 100 ribu hektare yang berproduksi sekitar 330 ribu ton pertahun. Selain itu juga ada potensi jagung seluas 45 ribu hektare dengan produksi 4,6 ton per hektare. Belum lagi  emas, biji besi, mangan, dan lainnya. (yose)