Tol Laut, Menikam Jejak Kejayaan Bahari Indonesia

Tol laut. (presidengoid)
Aktivitas tol laut. (sitepresiden)

 

Oleh: Eriandi, Wartawan Singgalang

Sejarah mencatat, nenek moyang Indonesia dulunya adalah pelaut-pelaut tangguh. Ketangguhan kapal pinisi dari Makasar maupun lancang kuning dari Riau dalam mengarungi samudera membuktikan, laut sudah menjadi bagian utama dari kehidupan bangsa ini. Selain itu, kejayaan kerajaan-kerajaan besar Indonesia, seperti Majapahit yang kuat dengan maritimnya juga menjadi bukti sejarah bahwa nenek moyang Indonesia ‘besar’ oleh laut.

Negara Indonesia memang kaya dan unik. Lihatlah, luas lautnya tiga kali luas daratan. Dengan luas laut mencapai 5,9 juta kilometer persegi, terdiri dari 2,9 juta kilometer persegi Laut Nusantara, 0,3 juta meter persegi Laut Teritorial dan 2,7 kilometer persegi Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia (ZEEI). Sementara, luas daratan hanya sekitar 1,9 juta kilometer persegi.

Dalam literatur Eropa berbahasa Inggris, wilayah Indonesia pada abad ke 19 hingga pertengahan abad ke 20 tersohor dengan sebutan Archipelago yang berasal dari bahasa Yunani. Yaitu, arch berarti besar dan pelagos berarti laut, yang diartikan sebagai negara laut utama yang ditaburi pulau-pulau. Bukan sebaliknya, negara pulau-pulau yang dikelililingi laut.

Dengan pengalaman sejarah dan realitas geografis tersebut, laut seharusnya bisa menjadi kekuatan utama dalam membangun kehidupan bangsa ini. Lautan yang terbentang luas itu seharusnya menjadi penghubung 17 ribu pulau yang berada di negeri ini, bukannya menjadi pemisah antar pulau.

Hal itulah yang ingin dilakukan oleh Presiden RI Joko Widodo. Dua tahun lalu saat pidato kenegaraan pertamanya, Jokowi menyatakan sudah terlalu lama Bangsa Indonesia memunggungi laut. Saatnya untuk memaksimalkan potensi laut Indonesia. Potensi sumber daya laut Indonesia tidak hanya berupa ikan, tetapi juga bahan tambang yang terdapat di bawahnya, termasuk minyak dan gas bumi, timah, bijih besi, emas, bauksit, nikel dan sebagainya. Belum lagi sumber daya pesisir berupa terumbu karang, mangrove dan lain-lain.

Untuk memaksimalkan potensi tersebut, salah satu yang harus dilakukan adalah membangun infrastruktur berupa tol laut. Tol laut yang digagas Jokowi sejak mencalonkan diri sebagai Capres bukanlah proyek pembangunan jalan tol di atas laut seperti halnya tol di daratan. Sasaran utamanya adalah pembangunan infrastruktur kelautan yang terintegrasi dan terkoneksi sehingga berdampak pada efisiensi waktu dan biaya yang lebih murah. Efisiensi secara akumulatif akan mengurangi biaya tinggi pengangkutan yang pada akhirnya diharapkan bisa menurunkan disparitas harga antar wilayah, terutama wilayah bagian timur Indonesia.

Tol laut bertujuan menghubungkan pelabuhan-pelabuhan besar yang ada di nusantara. Dengan adanya hubungan antara pelabuhan-pelabuhan laut diharapkan bisa menciptakan kelancaran distribusi barang hingga ke pelosok. Kapal-kapal besar disiapkan untuk mengangkut barang dan penumpang dalam jumlah besar dan dilakukan secara konsisten dan jadwal yang pasti.

Dengan tol laut, Presiden Jokowi bercita-cita mengembalikan kejayaan Indonesia di masa lalu sebagai penguasa samudra. Bila dijalankan dengan maksimal, Indonesia akan menjadi poros maritim dunia. Pada akhirnya, program ini bisa menciptakan pemerataan pembangunan serta meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia di tingkat internasional.

Setelah dua tahun berlalu, program tol laut Jokowi telah menampakkan hasil. Konektivitas antar pulau sudah semakin nyata. Saat ini, Pemerintah telah menetapkan 24 pelabuhan sebagai simpul jalur tol laut. Sebagai pendukung, pemerintah membangun 47 pelabuhan non-komersil dan 41 pelabuhan yang sedang dalam proses pembangunan. Ditargetkan pada tahun 2019 sudah terbangun 100 pelabuhan.

Sementara untuk kapalnya, sudah ada 3 kapal di tahun 2015 dan 30 kapal ditargetkan pada tahun 2016. Termasuk di dalamnya satu armada kapal khusus yang mengangkut hewan ternak sapi bernama KM Camara Nusantara I. Kapal tersebut bisa mengangkut 500 ekor sapi sekali perjalanan dari peternak NTT dan NTB untuk didistribusikan ke beberapa daerah seperti Surabaya, Cirebon dan Jakarta. Selain bisa mengurangi sapi-sapi impor, kapal khusus yang membawa ternak sapi tersebut diharapkan bisa menekan harga daging sapi di pasaran. Di sisi lain, roda ekonomi di daerah juga semakin menggeliat dengan tingginya permintaan.

“Ini untuk mewujudkan gagasan kita menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia,” kata Jokowi di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (16/8/2016) seperti dilansir dari Okezone.com.

Sementara itu, pada tahun 2017, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) berencana memperluas jaringan trayek tol laut dengan membuka tiga trayek baru, khususnya ke wilayah Indonesia bagian Timur. Yakni, Tanjung Priok-Enggano-Mentawai-Pulau-Nias-Sinabang pergi pulang, Tanjung Perak-Bawean-Belang Belang pergi pulang, dan Tanjung Perak-Kisar-Namrola-Gebe-Tobelo.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi pada acara Indonesian Cabotage Advocation Forum ke-6 dan Forum Konsolidasi Industri Kemaritiman Nasional di Jakarta, Rabu (9/11) lalu menyatakan, pemerintah telah menyiapkan empat strategi untuk mengembangkan tol laut. Pertama, memberikan stimulus bagi para pelaku-pelaku agrikultur di wilayah timur agar ada suatu produk dari wilayah tersebut yang dapat mengisi muatan balik kapal-kapal dari wilayah timur ke wilayah barat. Kedua, merevitalisasi pelabuhan-pelabuhan dengan melibatkan peran BUMN dan Swasta. Ketiga, melibatkan semua pelaku industri perkapalan agar perusahaan pelayaran yang bekerja di sistem yang ada lebih produktif dan dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan yang keempat, memberikan ruang yang lebih besar bagi galangan kapal untuk ikut serta membangun kapal.

Menhub menambahkan, program tol laut beserta pembangunan dan pengembangan infrastruktur transportasi yang telah dijalankan pemerintah telah membuahkan hasil nyata, yakni pada tahun 2016 ini, telah ada 96 trayek perintis dan 6 trayek tol laut. Pengembangan yang dilakukan terbukti mampu menurunkan disparitas harga antara wilayah Timur dan Barat. Harga Semen di pulau Sabu (provinsi NTT) turun 14 persen dan harga ayam ras di Namlea (Maluku) turun 49 persen.

Senada dengan itu, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman Rizal Ramli mengklaim, program tol laut telah menekan harga beras di Indonesia Timur hingga 22%, gula pasir turun 28%, minyak goreng curah turun 15%, tepung terigu turun 29%, daging ayam ras turun 28%, telur ayam ras turun 49%, triplek turun 17%, dan semen turun 22%.

Pendulum Nusantara

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) operator pelabuhan PT Pelabuhan Indonesia III (Pelindo III) sejak awal telah menyatakan siap mendukung gagasan tol laut. Saat Jokowi terpilih sebagai Presiden pada 2014 lalu, Direktur Utama Pelindo III saat itu, Djarwo Surjanto mengatakan, tol laut yang dimaksud oleh Jokowi memiliki konsep yang sama dengan pendulum nusantara yang tengah disiapkan oleh Pelindo I, II, III, dan IV.

Pendulum Nusantara merupakan aksi korporasi dari Pelindo I, II, III, dan IV sebagai bagian dari Sistem Logistik Nasional (Sislognas) dalam mendukung Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Sislognas diharapkan dapat menurunkan biaya logistik nasional yang masih relatif tinggi dibandingkan dengan negara lain.

Konsep pendulum nusantara juga dimaksudkan untuk meningkatkan peringkat logistik Indonesia yang pada tahun 2014 berada di peringkat 53 dunia, di bawah Singapura (5), Malaysia (25), dan Thailand (35). Intinya adalah meningkatkan konektivitas antarwilayah di Indonesia dengan mengoptimalkan peran pelabuhan.

Dengan konsep Pendulum Nusantara, Pelindo mulai menggabungkan Pelabuhan Belawan di Medan, Tanjung Priok Jakarta, Tanjung Perak Surabaya, Pelabuhan Makassar dan Pelabuhan Sorong Papua dengan kualitas layanan dan tarif layanan yang sama.

Untuk mendukung program tol laut tersebut, Pelindo III terus berupaya meningkatkan kapasitas dan layanan pelabuhan. Misalnya, meningkatkan kapasitas Pelabuhan Tanjung Perak, perseroan membangun Terminal Teluk Lamong, Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), serta merevitalisasi alur pelayaran barat Surabaya (APBS). PT Pelindo III juga melakukan optimalisasi aktivitas bongkar-muat di pelabuhan-pelabuhan kecil.

Beberapa waktu terakhir, PT Pelindo III juga melibatkan institusi pendidikan untuk mengenalkan dunia kepelabuhanan dan maritim kepada generasi muda. Melalui kegiatan bertajuk Pelindo III Goes to Campus dan Pelindo III Youth Camp yang melibatkan mahasiswa, Pelindo III memberikan informasi seputar kepelabuhanan dan dunia maritim kepada para penerus bangsa.

Selain itu, PT Pelindo III juga mulai mengembangkan Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, Kalimantan Selatan untuk mendukung program tol laut yang dicanangkan pemerintah pusat dengan target penyelesaian tahun 2018. Menurut Kepala Humas Pelindo III, Edi Priyanto, di Surabaya seperti dikutip dari jatimprov.go.id, 14 Maret 2016, pengembangkan Pelabuhan TrisaktiBanjarmasin dilakukan bersamaan dengan empat pelabuhan lainnya, yakni Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Pelabuhan Kupang dan Pelabuhan Sampit.

Program tol laut pada akhirnya adalah upaya mengembalikan jati diri dan identitas bangsa ini sebagai sebuah Negara Kepulauan. Indonesia berkapasitas menjadi poros maritim dunia. Ini bukanlah mimpi, tapi memang didukung oleh geografis Indonesia yang terletak di antara dua samudra serta dalam sejarahnya merupakan jalur perdagangan utama sejak lama. Negeri ini adalah lautan yang ditaburi oleh pulau-pulau dengan potensi yang sangat kaya di dalamnya serta belum tergali maksimal. Maka, tak berlebihan rasanya jika suatu saat Indonesia akan menjadi poros maritim dunia. Menikam jejak kejayaan bahari Indonesia.(*)