Toko Taki
Menu Click to open Menus
Home » Komentar » Tragedi Pemukulan Pramugari

Tragedi Pemukulan Pramugari

(10 Views) June 10, 2013 7:18 am | Published by | No comment

AMIRUDDIN — Tanpa iman dan pengendalian diri yang kokoh, hukum alam memang sulit dilawan. Pada saat emosi sedang meluap, amarah tidak terkendali, manusia akan menjadi buas melebihi seekor binatang. Jika hal ini terjadi, manusia bisa saja melakukan perbuatan eigent rechting (main hakim sendiri), guna menumpahkan rasa marah.

Tak jarang kita dengar, kasus pembantaian, pembunuhan, penganiayaan dan pembakaran, baik dalam lingkungan keluarga, maupun terhadap pihak di luar keluarga kerap terjadi akhir-akhir ini, disebabkan amarah tidak terkendali, karena tidak dilandasi iman.
Peristiwa semacam itu, sempat terjadi dalam suatu tragedi pemukulan pramugari pada Sriwijaya Air di Pangkal Pinang, Rabu (5/6). Pemukulan pada saat para penumpang hendak turun dari pesawat.
Pihak yang mengaku sebagai korban kekerasan fisik di Sriwijaya Air, adalah Pramugari Nur Febriani. Katanya, ia dipukul dengan gulungan koran oleh pejabat bernama Zakaria Umar, Kepala Dinas Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Bangka Belitung.
Peristiwa yang secara hukum bisa dikualifikasi sebagai perbuatan penganiayaan yang diatur di dalam Pasal 351 dan/atau Pasal 352 KUHP itu, kini menjadi persoalan serius.
Pejabat itu dinilai ringan tangan seenaknya mengirimkan bogem mentah kepada seorang perempuan cantik, yang seyogyanya harus mendapatkan perlindungan dari lelaki.
Pemberitaan tentang pemukulan Nur Febriani, mulai digembar-gembor dan didramatisir sedemikian rupa, sehingga banyak pihak yang tergoda prihatin dan simpati kepada pramugaricantik itu.

Puluhan media cetak dan elektronik, ikut setiap hari mengulas kasus itu secara sepihak, menyudutkan Zakaria Umar, yang dinilai main eigent reching tanpa memikirkan akibat dari perbuatannya.
Saya selaku praktisi hukum dan orang pers, sangat tergelitik mendengar dan mengamati pemberitaan sebuah media elektronik terkenal ibukota. Penyajian pemberitaan, tidak sesuai dengan substansi masalah.
Yang disajikan, bukan azas kausalitas, tentang penyebab terjadinya tragedi pemukulan. Tapi, soal bahaya sistem navigasi, akibat pemakaian seluler.
Dengan mendatangkan korban Nur Febriani, yang dikuatkan rekan sekerjanya Ulya Wulandari ke studio, tampak dan jelas sekali, seolah-olah pemukulan itu dilakukan seorang yang kurang waras.
Tambah lagi kehadiran Kapten Toto Soebandoro, pemerhati keselamatan penerbangan, yang notabene juga Direktur Keselamatan Penerbangan Sriwijaya Air, membuat penyebab pemukulan semakin kabur.
Toto, Febriani dan Ulya mengurai panjang lebar, seolah-olah semua penumpang tidak mengerti kalau penggunaan seluler membahayakan sistem navigasi. Malah tercermin pula, pemukulan datang sekonyong-konyong, tanpa penyebab.
Mengamati peristiwa itu, kita sangat yakin. Hamba hukum yang mengusut perkara ini di Polsek Pangkalan Baru Bangka, tentu tidak buta. Sebagai penegak hukum yang baik, setidak-tidaknya, harus mampu membuka selebar-lebarnya tirai yang menyelimuti kasus ini.
Tanpa mempersoalkan, penyebab pemukulan itu, sudah pasti menjerumuskan Kadis BKPMD itu, berlama-lama di balik jeruji besi. Hamba hukum di tingkat penyidikan haruslah jeli. Peristiwa pemukulan itu, diawali Zakaria dengan kalimat. “Kamu jangan kasar ya,” sembari, melayangkan pukulan. Hamba hukum harus berlaku adil, mengusut sebuah perkara.
Dari kalimat itu, polisi sudah harus mencerna. Tragedi kekerasan fisik itu, dimulai dari kekasaran seorang wanita cantik yang berprofesi sebagai pramugari, terhadap Zakaria Umar.
Sebagai seorang penumpang, dia berhak mendapat pelayanan yang sejuk dan santun dari awak kabin di pesawat. Bukan memperoleh pelayanan yang kasar. Warga negara, bersamaan kedudukannya di mata hukum (aquality before the law).
Zakaria Umar juga berhak melapor kepada polisi, jika perbuatan dan kekasaran Febriani, juga beraroma tindak pidana perbuatan penistaan dan/atau perbuatan tidak menyenangkan sebagaimana diatur pasal 310 dan 335 KUHP, yang didukung dengan pembuktian/kesaksian.
Kalau pihak penerbangan mau mengintropeksi diri, kita yakin dan percaya kasus ini tidak akan terjadi. Saya juga sering menjadi penumpang pesawat, yang juga sangat geram melihat dan mengamati perilaku awak kabin memberikan pelayanan dan panduan di pesawat.
Penumpang dibuat seperti tidak berharga, seperti orang bodoh dan seolah-olah memberi pelajaran kepada anak TK. Apalagi kalau sedang menegur penumpang yang melakukan keteledoran, eh, seperti polisi menghardik dan menginterogasi tersangka.
Budaya ini harus segera dihapus. Penerbangan domestik, di luar Garuda sudah harus segera meningkatkan pelayanan, karena itu memang sudah menjadi hak dari penumpang sebagai konsumen.
Pramugari/awak kabin, harus segera mendapatkan pendidikan dan pelatihan yang baik, bagaimana memberikan pelayanan yang sejuk, santun dan sopan kepada penumpang, agar tragedi main pukul tidak terjadi lagi. Kenapa pramugari Garuda bisa memberikan pelayanan yang lebih adem kepada penumpang? Belajarlah kepada Garuda.
Kalau dihitung secara statistik, sebenarnya banyak penumpang yang menjatuhkan pilihan menaiki penerbangan Garuda, karena ingin mendapatkan pelayanan yang sejuk. Karena keterbatasan armada dan lebih mahalnya harga tiket, tidak ada jalan lain, Garuda terpaksa tidak dapat dinaiki (*)

Categorised in:

No comment for Tragedi Pemukulan Pramugari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>