Usia 17 Tahun, Remaja Ini Tertinggi di Dunia

JAKARTA – Remaja tertinggi di dunia berumur 17 tahun. Dialah Broc Brown. Di usianya yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas di Michigan, tinggi badannya sudah melampaui 233 sentimeter. Entah ini kabar baik atau kabar buruk, tetapi diperkirakan pemuda super jangkung itu masih akan terus bertumbuh. Berdasarkan perhitungan, dia dapat bertumbuh setinggi 15 sentimeter per tahunnya.

Jika pertambahan tingginya konsisten, Broc dipastikan dapat mengalahkan rekor manusia tertinggi di dunia yang dipegang Sultan Kosen dua tahun lagi. Rekor yang dicetak Kosen adalah 248 sentimeter.

“Tinggi Broc 157 sentimeter ketika masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Naik ke SMP, tingginya sudah 182 sentimeter dan memasuki SMA dia bertumbuh setinggi 213 sentimeter,” tutur ibunya, Darci, seperti disunting dari News.com.au, Senin (26/9).

Sayangnya, apa yang dialami Broc adalah sebuah kelainan genetika. Dokter mengatakan, sindrom sotos yang menimpa putranya memungkinkan dia untuk terus bertumbuh sepanjang hidupnya. Kondisi ini hanya terjadi pada satu dari 15 ribu kasus di dunia. Ketika Broc masih berusia lima tahun, ia ingat ibunya pernah bilang bahwa dia tidak akan memiliki hidup yang sama dengan anak-anak seusianya. Seiring bertambahnya usia, kehadiran Broc untungnya dapat diterima dan dokter sekarang ini

remaja

Meski begitu, kondisi kesehatan Broc terbilang mengkhawatirkan. Terlahir dengan satu ginjal, Broc tidak diperbolehkan mengonsumsi obat penghilang rasa sakit. Selain itu, dia juga mengalami kendala dalam mengikuti pelajaran, memiliki kerusakan pada bagian jantung, tulang belakang yang melengkung dan menyempit.

“Rasanya seperti sebuat raket tenis besar masuk ke dalam tulang belakang saya. Saya mencoba melakukan beberapa hal untuk menghentikan rasa sakitnya, tapi rasanya hanya jadi seperti ada jarum di tulang belakang saya. Ya, sulit memang menghadapinya. Saya hanya bisa berharap dokter akan bisa melakukan sesuatu untuk menekan rasa sakit ini,” ujarnya.

Kini, Broc dan ibunya terbang sejauh 1.600 kilometer dari Michigan ke Arkansas untuk berkonsultasi dengan ahli sindrom sotos, Dokter Bradley Schaefer. Sang dokter tidak bisa melakukan apapun untuk mengurangi rasa sakit itu, tetapi dia yakin setidaknya kehidupan sehari-hari remaja itu dapat berjalan normal. No bed is big enough for the 233cm tall teen.

Oleh karena tinggi badannya, tidak satu pun tempat tidur cocok untuknya. Semua pakaian juga harus dibuat khusus. Bangku untuknya dibuat seharga USD1.285 atau Rp16,7 juta.

“Untungnya banyak orang bersimpati pada Broc. Masyarakat sekitar membantu kami dan dana yang terkumpul bisa mencapai USD12.500 (atau Rp163 juta). Dengan uang itu, kami membelikan Broc kaus kaki, sepatu dan pakaian,” papar Darci.

Namun begitu, semua perlengkapan Broc tidak akan bertahan lama karena dia bertumbuh setiap tahun. Terlepas dari masalah yang mereka hadapi, Darci dan Broc berharap bisa hidup bersama dalam waktu yang lama.

“Saya ingin bekerja di toko peralatan olahraga, menjadi kasir atau apapun. Tapi yang pasti, saya ingin memilik pekerjaan dan punya penghasilan sendiri,” ucap Broc. (rahmat)

agregasi okezone1