Warga dan Tokoh Masyarakat Siaga di Rumah Wakil Bupati Pessel, Ini Alasannya

Warga dan tokoh masyarakat bertahan di rumah dinas Wakil Bupati Pessel (ist)
Warga dan tokoh masyarakat bertahan di rumah dinas Wakil Bupati Pessel (ist)

PAINAN – Massa pendukung Wakil Bupati Pesisir Selatan, Rusma Yul Anwar masih terus bertahan di rumah dinas wakil bupati hingga Selasa (21/11). Ratusan warga itu menyatakan siap “pasang badan” jika orang nomor dua di Pessel itu diperiksa penyidik di luar rumah dinas.

Massa sebelumnya mendatangi rumah dinas Rusma Yul Anwar di Jalan Agus Salim, Painan, sejak Kamis (16/11) malam, usai menerima kabar bahwa wakil bupati itu akan diperiksa oleh penyidik atas kasus dugaan perusakan hutan bakau (mangroove) keesokan harinya.

“Kedatangan kami murni atas insiatif sendiri. Kami menilai permasalahan saat ini bukan lagi murni proses hukum, tapi sudah dicampuri politik, Makanya kami datang karena merasa empati,” kata Salmiati (51), warga asal Sutera, Pessel.

Pertama, katanya, penjemputan yang dilakukan oleh penyidik ke rumah dinas seolah-seolah merupakan pelaku korupsi ataupun terorisme.

Warga lainnya Rifa (29) asal Kecamatan Tarusan, menilai ada yang janggal dari kasus dugaan perusakan hutan bakau yang disandangkan ke wakil bupati. “Banyak pihak lain yang melakukan penimbunan hutan bakau itu, bahkan dengan skala yang lebih besar. Namun proses hukumnya langsung mengarah ke wakil bupati. Jika memang diusut, usut seluruh yang terlibat,” tegasnya sambil memperlihatkan sejumlah data
yang dimiliki.

Selain itu pemrosesan kasus terhadap wakil bupati dinilai terburu-buru, tanpa ada tindakan administrasi, atau teguran terlebih dahulu. “Setahu kami jika memang perusakan hutan bakau, harusnya ada teguran terlebih dahulu. Apakah itu teguran untuk menanam kembali, atau mengganti rugi, bukan langsung ke pidana seperti sekarang,” katanya.

Ninik Mamak Kenagarian Nanggalo, Datuak Paduko Sati (63) juga mengemukakan alasannya untuk memberi dukungan kepada Rusma. Ia menceritakan jauh sebelum kawasan Mandeh dikenal sebagai destinasi wisata seperti sekarang, kawasan itu memang dipenuhi oleh hutan bakau sejak lama.

Hutan bakau tersebut telah tumbuh sendirinya di kawasan Mandeh, dan dijadikan kayu api sebagai bahan bakar warga setempat. “Bakau itu dijadikan masyarakat sebagai sebagai kayu api untuk memasak, sudah dilakukan sejak lama,” ulasnya.

Disebutkannya, sekitar 2005 ketika pembangunan Mandeh dimulai, pembukaan akses jalur darat sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Salah satunya jalan yang dibuka oleh Rusma Yul Anwar. “Adanya akses jalur darat bermanfaat bagi masyarakat, karena selama ini hanya ada akses laut. Kalau kami merasa pembukaan jalan sangat bermanfaat. Termasuk untuk kemajuan wisata yang akan membantu perekonomian masyarakat,” jelasnya.

Sementara Ninik Mamak Kenagarian Painan, Syamsuar (74) Datuak Rangkayo Majo Indo menilai tindakan hukum yang dilakukan saat ini seperti mencari kesalahan, bukan lagi mencari kebenaran.
Sebelumnya, sejak Kamis (16/11) ratusan warga terus berdatangan ke rumah dinas wakil bupati untuk memberikan dukungan. Warga berasal dari Kecamatan Tarusan, Bayang Utara, Bayang, Ampek Jurai, Batang Kapas, Sutera, Lengayang, Ranah Pesisir, Linggo Sari Baganti, Air Pura, Tapan, Lunang, Silaut, Basa Ampek Balai.

Meskipun demikian, massa tidak akan mempermasalahkan jika pemeriksaan dilakukan di rumah dinas. “Jika pemeriksaan itu dilakukan di rumah dinas, maka kami akan membiarkannya. Bahkan kami bersedia jika memang diminta di luar pekarangan rumah dinas,” kata sejumlah warga bergantian. (arief)