Wartawan Swedia Kunjungi Singgalang

Jurnalis Swedia, Carina Ekdahl dan Geza Simon bersama Pimpinan Redaksi Harian Singgalang, Khairul Jasmi dan Koordinator Liputan, Soesilo AP dan Redaktur, Lenggogeni di Kantor Harian Signgalang, Jalan Veteran Nomor 17 Padang, Minggu (17/9). (Givo)
Jurnalis Swedia, Carina Ekdahl dan Geza Simon bersama Pemimpin Redaksi Harian Singgalang, Khairul Jasmi dan Soesilo serta Lenggogeni di Kantor Harian Signgalang, Jalan Veteran Nomor 17 Padang, Minggu (17/9). (Givo)

PADANG – Wartawan di manapun di dunia, saat berlibur menyempatkan menulis laporan perjalanannya, tidak terkecuali Carina Ekdahl, asal Swedia, yang berlibur ke Ranah Minang.

Carina adalah wartawati koran dan online Kkuriren. Sudah satu pekan ia berada di Sumatera Barat. Di sini dia datang bersama
Geza Simon, yang juga satu negara dengan perempuan berusia paruh baya tersebut.

Carina bersama Geza yang hendak mengunjungi pesona Pantai Padang, Minggu (17/9), dengan berjalan kaki dari hotel tempatnya menginap, belum sempat ke destinasi wisata tersebut, ia dan Geza melepaskan lelah dengan duduk di sebelah kantor Harian Singgalang . Tanpa disengaja, ia bertemu dengan Pemimpin Redaksi Khairul Jasmi, dan kemudian diajak bertandang ke ke kantor Harian Singgalang di Jalan Veteran No.17, Padang.

Di markas Harian Singgalang , Carina dan Geza menceritakan tentang keindahan alam Sumbar dan keunikan budayanya. Kedatangannya ke Indonesia merupakan yang pertama kali baginya, dia tahu tentang info wisata Sumbar dari internet. Setelah dari Ranah Minang, ia bersama Geza akan berkunjung ke Bali selama dua pekan.

Khusus di Padang, Carina sudah mengunjungi sejumlah objek wisata. Dan, ia tertarik dengan objek wisata bahari, seperti di kawasan Pantai Air Manis dan Pantai Padang. Ia menyukai pantai, karena di negaranya tak pantai. “Saat ini, di Eropa sedang musim salju, makanya saya berlibur ke Ranah Minang,” jelas Carina.

Selain itu ia juga terpikat dengan budaya lokal masyarakat setempat. Seperti menghadiri resepsi pernikahan salah satu warga.
“Saya sempat datang ke pesta pernikahan warga di Bungus Teluk Kabung dan mengabadikan momen itu dalam lensa kamera, untuk bahan tulisan feature yang akan saya sajikan di media kami,” tuturnya.

Ketika berada di kawasan pantai, ia pun menyempatkan diri melihat dan mengabadikan kekayaan alam yang terkandung, seperti ikan. Bahkan prosesi penangkapan ikan yang dilakukan warga setempat. Tak hanya melihat, mereka menyicipi hidangan ikan yang diolah dengan rempah-rempah khas ranah minang. “Saya juga suka dengan kulinernya, enak rasanya,” ujarnya.

Tak hanya menikmati keindahan pantai, mereka pun menyempatkan diri menyebrang ke salah satu pulau terdekat di kawasan pantai Air Manis Padang. Tentunya dengan mengunakan kapal yang disediakan warga setempat untuk wisatawan.

Semua perjalanan wisatanya itu akan ia tulis dalam bentuk feature. “Di koran kami, spesialis saya adalah membuat feature,”
ucapnya.

Menyoal tentang pekerjaannya sebagai jurnalis, Carina menuturkan rata-rata jurnalis di Swedia bekerja selama lima jam dalam sehari, dan dia salut dengan sistem kerja wartawan Indonesia yang tidak mengenal waktu.

Saat membaca Harian Singgalang , Carina heran karena di koran ini terdapat banyak iklan.”Iklan di koran-koran yang terbit di Swedia jumlahnya menurun dan bahkan dilarang menerbitkan iklan. Pendapatan kami semata-mata dari penjualan koran,” jelasnya.

Tak hanya itu, Carina juga senang karena tampilan Singgalang hampir sama dengan koranya yang berbahasa Swedia, ada kolom
opini, ekonomi, pemerintahan, feature, budaya, selebriti, juga olahraga.

Hanya saja, Carina mengungkapkan jumlah wartawan laki-laki dan perempuan sebanding, berbeda dengan di Ranah Minang yang didominasi laki-laki. (Soesilo/Lenggogeni)