Tak Berkategori  

Zikir dan Tarian Lebah

Khairul Jasmi (ist)

Oleh: Khairul Jasmi

SETIAP selesai shalat, maka zikirlah jamaah. Selalu begitu. Di luar kepala. Akhirnya bisa cepat-cepat. Zikir cepat-cepat, lebih baik tidak. Alam raya berzikir, sebab mereka adalah hamba Allah. Bunga juga berzikir. Dan bunga adalah ladang bagi lebah yang terbang ribuan mil untuk mencari bunga.

Kita mengenal Tarian Lebah, yang menakjubkan itu, sebuah tarian yang ilmunya tak tertandingi koreografer manapun. Sebuah ilmu intelijen tak bisa disamai oleh intel manusia. Lebah, adalah ciptaan Tuhan, yang membuat kita berzikir.

Tarian Lebah, adalah morse. Madu lebah adalah nikmat Tuhan, untuk merasakan nikmat itu, antara lain, pelajarilah bagaimana lebah, terbang bermil-mil dalam konfigurasi yang menakjubkan.

Tarian kedua, setelah tarian awal, oleh beberapa lebah prajurit yang pulang ke sarang, lalu membawakan tarian morse. “Makanan kita di sana, lurus, belok kanan, menukik ke lembah,” kira-kira seperti itu inti pesan tarian tersebut. Maka barang siapa yang menjual madu palsu pada saat yang sama ia melukai tukang madu asli, sekaligus menciderai imannya pada Tuhan.

Berzikir juga bisa menolong orang lain, bukan memukulnya. Bukan menghasutnya untuk demo ke Jakarta. Orang Minang tahu, Silat Duduk dimulai dengan zikir, mengenal Tuhan.

Surah Lukman/31:27: “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Nikmat apa itu, banyak sekali, tinggal mempelajarinya saja.¬†Jari misalnya: Simaklah surah Al-Qiyamah ayat 3-4: “Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya? Ya, bahkan Kami mampu menyusun (kembali) ujung jari-jarinya dengan sempurna.” (Al Quran, 75:3-4).

Itu bercode, sidik jari yang satu sama lain tidak sama. Coba tuliskan nikmat Tuhan soal jari itu secara tuntas. Siapa bisa? Bahwa nikmat Tuhan banyak, kita sudah tahu. Bagaimana menemukan bahwa sesuatu itu memang nikmat-Nya, itu perlu usaha dan ilmu.

Maka zikir itu kata guru saya kapan saja, tak perlu dihitung-hitung. Jika Anda menyebut nama Allah dengan sebenar-benar fokus maka tubuhmu akan bergetar, katanya.

Maka pelajarilah nikmat Allah, salah satunya lidah, yang saya tak jemujemunya menuliskan hal itu. Lidah itu, punya 10 ribu titik pengecap. Lidahlah yang membentuk lebih dari 6. 000 bahasa dan dialek. Cinta, diucapkan dengan lidah, tolong, ayo pergi dan sebagainya.

Tentang jagad raya, yang senantiasa berzikir. Saat ini diketahui ada 13 galaksi masing-masing terdiri dari miliran bintang. Ke 13 itu masih disebut galaksi kecil. Yang tertangkap teropong saat ini ada 100 juta supergalaksi. Belum lagi yang tidak terteropong.

Jadi memang bumi tak ada apa-apanya dan semua pohon dan air d bumi hanyalah “sedikit” utk menuliskan bahwa Tuhan itu absolut.
Itu nikmat Tuhan, maka berzikirlah, maka belajarlah.

Berzikirlah yang serius, jangan selalu berteriak Allahu Akbar tapi gigi tak digosok. Jangan sibuk menggasak pemerintah saja, tapi tak belajar politik. Kok orang digurui? Terserah Anda sajalah, sebab surga dan neraka, bangunan tanpa atap itu, sudah tersedia. Tinggal pilih.

Yang pasti zikir adalah bentuk ibadah amat personal yang sudah amat tua. Ia berdetak-detik dalam hati. Dalam hati siapa yang tahu. Yang tahu Anda sendiri.

Anda tak sendirian kalau berzikir, kayu dan daun-daunnya di rimba raya tak bertepi juga melakukan dengan caraya pula. Jika malam semua tkayu dan daun-daunnya idur seperti kita, yang tetap terbangun sopir antar kota antar provinsi membawa perantau pulang ke rumah masa kecilnya.

Nanti sesampai di kampung, kau cium bau tanah di belakang rumahnya, itulah nikmat Tuhan dan berzikirlah. Nah.*