oleh

Adu Hasil Survei Jelang Pilkada

Oleh Effendi

Baru-baru ini lembaga Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis hasil surveinya terkait kandidat yang mengapung untuk pemilihan kepala daerah (pilkada) di Sumbar, khususnya untuk pemilihan gubernur (pilgub).

Hasil survei yang dipublis oleh beberapa media cetak lokal dan online tersebut, menempatkan nama Mulyadi, anggota DPR dari Fraksi Demokrat, teratas. Dan paling berpeluang memenangi Pemilihan Gubernur Sumbar September mendatang.

“Dari survei yang kita lakukan akhir Desember, Mulyadi meraih dukungan paling tinggi. Selisih elektabilitasnya dengan nama-nama seperti Nasrul Abit dan Mahyeldi cukup besar. Dan itu berlangsung  di semua tingkat simulasi,” tutur Direktur SMRC Sirojudin Abbas di Jakarta, Senin (6/1) seperti diwartakan Singgalang edisi Kamis, 8 Januari 2020.

Misalnya, untuk simulasi empat nama atau bila Mulyadi dihadapkan dengan Mahyeldi, Nasrul Abit, dan Fakhrizal, Mulyadi memimpin dengan perolehan suara 27,9 persen. Di peringkat kedua, Mahyeldi dengan 16 persen. Disusul Nasrul Abit di peringkat ketiga, dengan 14,9 persen. Fakhrizal di posisi terakhir dengan 4,2 persen.

Dari hasil yang dilakukan oleh lembaga survei sekaliber SMRC ini, terlihat persentase raihan dukungan kepada Mulyadi ketimbang kandidat lain yang mengapung, selisihnya cukup besar. Hasil survei ini tentu menjadi perhatian, catatan dan evaluasi bagi semua pihak, baik bagi Mulyadi sendiri maupun kandidat lainnya.

Dua bulan sebelumnya, sekitar November 2019, hasil survei terkait nama-nama yang mengapung jelang Pilgub Sumbar menyebar pula di berbagai media baik cetak dan online. Survei yang dilakukan oleh Bright Consultant dan Haluan Media Grup (HMG) itu justru menempatkan Mahyeldi di posisi teratas.

Dilansir dari harianhaluan.com pada Rabu, 27 November 2019, hasil survei Bright Consultant dan Haluan Media Grup itu, Mahyeldi menempati posisi teratas dengan mendulang 18,80 persen suara  responden. Peroleh suara Walikota Padang dua periode itu berada di atas Mulyadi yang mendulang 14,81 persen suara, Shadiq Pasadigoe dengan 12, 22 persen.

Mahyeldi juga jauh mengungguli Nasrul Abit, petahana Wagub Sumbar yang berada di angka 9,81 persen, dan bakal calon gubernur dari jalur independen, Fakhrizal yang mendulang 8,52 persen.

Dua hasil survei ini memperlihatkan figur Mulyadi bersaing dengan Mahyeldi. Di survei SMRC, Mulyadi unggul cukup jauh ketimbang peraih suara nomor dua Mahyeldi (Mulyadi 27,9 persen dan Mahyeldi 16 persen/simulasi empat nama). Di survei Bright Consultant dan Haluan Media Grup, Mahyeldi unggul dengan mendulang 18,80 persen  dan Mulyadi di peringkat dua dengan raihan 14,81 persen.

Hasil survei ini menjadi pertimbangan bagi partai politik (parpol) untuk mengusung calon dalam Pilkada. Bahkan boleh dikatakan, menjadi faktor pertimbangan utama, meski ada beberapa faktor lainnya yang menentukan.

Tak heran, jika parpol-parpol besar sebelum mengusung kandidat, mereka melakukan survei terlebih dahulu. Banyak lembaga survei yang bisa melakoninya. Mulai pemain baru hingga yang sarat pengalaman, mulai kelas lokal hingga kelas internasional.

Survei sepertinya menjadi pedoman atau pintu masuk bagi parpol untuk mengusung kandidat dalam Pilkada, bahkan dalam Pemilihan Legislatif (Pileg), parpol juga mempedomaninya. Diakui atau tidak, hasil survei tersebut memang menjadi gambaran. Meski ada yang meleset, tapi banyak yang mendekati akurat.

Misalnya, seperti yang dilakukan SMRC pada Pilgub Jabar. Sebelum Pilgub, hasil survei SMRC memperlihatkan survei Saiful Mujani Research and Consulting ( SMRC) menunjukkan, pasangan Ridwan Kamil-UU Ruzhanul Ulum unggul dengan 43,1 persen. Di urutan kedua, Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi dengan 34,1 Persen. Lalu disusul Sudrajat-Ahmad Syaikhu 7,9 persen dan TB Hasanuddin-Anton Charliyan 6,5 persen.

Kenyataannya memang pasangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum unggul. Seperti dikutip dari pikiran-rakyat.com,  8 Juli 2018, KPU Jabar mengumumkan pasangan ini meraih suara 32,88 persen mengalahkan tiga pasangan lainnya.

Begitu juga Pilgub Sumatera Utara, 2018. Sebelum Pilgub digelar Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA melakukan survei dengan hasil Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah (Eramas) dinyatakan unggul dari Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus (Djoss). Pasangan Eramas  mendapat dukungan 45,5 persen dan pasangan Djoss mendapat dukungan 34,7 persen.

Usai Pilgub dan KPU setempat mengumumkan hasil resminya, ternyata hasil survei itu benar. Dikutip dari Antara, rapat pleno KPU Sumut di Medan, Minggu, 8 Juli 2018, mengumumkan pasangan Edy Rahmayadi-Musa meraih suara 57,57 persen. Sedangkan pasangan Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus meraih suara 42,43 persen.

Dari beberapa contoh di atas, terlihat hasil survei yang dilakukan beberapa lembaga survei sebelum Pilkada digelar menjadi gambaran. Hasil sebelum Pilkada digelar dengan sesudah Pilkada digelar, boleh dikatakan hampir sama. Meski angkanya berbeda, tapi pemenangnya sama. Wajar jika hasil survei menjadi pedoman dan pertimbangan bagi parpol untuk mengusung calon.

Sekarang muncul pertanyaan, kenapa dari hasil dua lembaga survei itu untuk Pilgub, sosok petahana, Nasrul Abit yang menjabat Wagub tidak masuk dua besar?. Di hasil SMRC, berada di nomor tiga setelah Mulyadi dan Mahyeldi, sedangkan di lembaga Bright Consultant dan Haluan Media Grup berada di urutan keempat, setelah Mahyeldi, Mulyadi dan Shadiq Pasadigue.

Loading...

Berita Terkait