Tak Berkategori  

AirNav untuk Negeri; ATC, Bertaruh Nyawa untuk Selamatkan Ratusan Jiwa

PADANG – Lama Alex Ferdi, Manager Safety Perum LPPNPI AirNav cabang Bandara Internasional Minangkabau (BIM) tertegun. Sulit baginya menceritakan kembali peristiwa pahit 10 tahun lalu. “Saya ingin melupakannya,” katanya mengawali perbincangannya dengan Singgalang yang menyambanginya, Kamis (3/9/2019) di kantornya.

Namun, dia akhirnya mulai berkisah. Waktu itu Rabu, 30 September 2009, Alex Ferdi yang menjalankan tugasnya sebagai petugas Air Traffic Controller (ATC) atau pengatur lalu lintas udara BIM di Ketaping, Padang Pariaman, Sumatera Barat mendapat tugas shift siang, yaitu pukul 13.00 WIB hingga 21.00 WIB. Seperti biasanya pula, dia tak sendiri. Kali itu, dia bersama seorang kawannya bernama Cut Rizki Laila.

Tapi saat bencana gempa dasyat berkekuatan 7,9 Skala Richter itu datang sekira pukul 17.16 WIB, Alex hanya sendiri di tower BIM. Temannya sedang izin turun dari tower untuk sebuah keperluan. “Waktu itu, traffic tidak padat. Cuma ada satu pesawat yang akan take off dan satu lagi parkir, karena baru mendarat. Nah, yang mau bersiap berangkat ini yang sampai saat ini membuat saya selalu merinding, telat saja informasi dari saya tidak bisa dibayangkan yang terjadi dengan pesawat dan isinya,” ujarnya dengan mata menerawang.

Pesawat itu, Sriwijaya Air dari Medan hendak menuju Jakarta. Awalnya, tak ada yang aneh atau ganjil. Semuanya normal. Pesawat juga sudah mengisi flight plan (rencana keberangkatan), meminta start engine dan taxi. “Semuanya normal-normal saja waktu itu, karena tidak ada traffic, saya kasih di runway 15,” tuturnya.

Lima menit sebelum gempa itu datang, pilot sudah meminta “line up position”, karena pesawat telah mengarah ke landasan. Pilot juga menyatakan “ready for take off” atau siap untuk berangkat.

Namun entah mengapa Alex tak langsung menjawab pernyataan sang pilot dari cockpit pesawat. Ada tiga kali, dia mengedar pandang ke arah landasan untuk mencek dan memastikan landasan benar-benar baik untuk lepas landas bagi pesawat tersebut. “Waktu itu, lama saya menjawab, seperti ada yang membuat saya sedikit melambat. Biasanya sekali saya lihat dan sudah ok, saya langsung angkat radio, tapi waktu itu tidak demikian, ada beberapa kali saya baru bilang “clear for take off” dan pilot juga sudah menjawab,” ucapnya.

Setelah mendengar jawaban pilot, sesaat Alex menyandarkan tubuhnya kesandaran kursi yang didudukinya. Ketika itulah, dia merasa ada goncangan, namun dia mengira itu hanya perasaannya saja. “Saat ada goncangan, saya pikir, mungkin saya mengantuk,” duganya.

Belum lepas dugaannya, goncangannya semakin kuat, Alex mental dan terhempas dari tempat duduknya ke lantai. Air di galon dalam ruang itu jatuh dan pecah. Plafon berjatuhan dan keramik lantai terangkat. Ruangan petugas lalu lintas udara itu benar-benar berantakan, kacau.

Alex sempat mengira bangunan dengan tinggi 29 meter dari permukaan tanah itu akan rubuh. “Itu gempa yang sangat dasyat yang saya rasakan. Saya kira tak akan selamat. Mungkin tower akan rubuh,” duganya lagi.
Ditengah keterkejutannya dan disisa kekuatannya, Alex berusaha meraih radio bicaranya dari bawah meja controller, tempat dia berlindung dari reruntuhan plafon. Ternyata radio itu telah mati.

Tak habis akal, dia mengambil radio back up (cadangan) yang masih hidup dan berlari ke arah tiang tower bagian barat. Di benaknya ketika itu hanya ada satu, membatalkan keberangkatan pesawat. “Melihat ruangan yang berantakan dan karena ada air galon yang tumpah dan takut kesentrum, saya lari meluk tiang tower sambil meminta pilot “cancel to take off” atau membatalkan keberangkatan, karena dalam pikiran saya memang hanya itu, jangan sampai pesawat itu berangkat,” kenangnya merinding.

Alex yang dilanda kecemasan sempat mengira pilot tak mendengar perkataannya dari suaranya yang seolah sayup sayup sampai. Namun perkiraannya salah. Pilot mendengarkan suaranya yang bergetar hebat dan memang memutuskan tak berangkat.

Di kemudian hari, keputusan itu diketahui Alex sesuatu yang tepat, karena bila dia membiarkan pilot menerbangkan pesawat, bisa jadi pesawat tersebut terbalik, karena landasan yang bergoncang. Tidak terbayangkan, berapa nyawa yang akan melayang dari pesawat yang berisi ratusan orang.

“Saya sangat bersyukur, karena pesawat tidak jadi berangkat, karena menurut cerita teman saya di Bandara Tabing (Lanud Sutan Syahrir-Red), dia melihat landasan di sana seperti bergelombang. Boleh jadi di sini waktu itu juga demikian,” ujarnya lirih.

Begitulah kisahnya. Alex tak sendiri. Banyak peristiwa yang hampir mirip, meski tak serupa dialami oleh para ATC saat menjalankan tugasnya sebagai pengatur lalu lintas udara. Intinya, mereka bertaruh nyawa sendiri demi menyelamatkan ribuan nyawa di pesawat udara.

Gempa dan tsunami Palu pada 2018 contohnya, telah merenggut nyawa ATC Bandara Mutiara Sis Al Jufri, Palu bernama Anthonius Gunawan Agung yang memastikan pesawat Batik Air bisa terbang meninggalkan lokasi bencana. “Batik 6231 runway 33 ready to take off,” begitu kalimat terakhir dari pemuda yang wafat di usia 21 tahun tersebut. Kalimat teramat penting demi ratusan nyawa.

Juru Bicara Navigasi Udara Indonesia atau Airnav, Yohannes Sirait seperti dirilis https://m.liputan6.com pada 1 Oktober 2018 juga mengatakan, Athonius telah merelakan nyawanya demi menyelamatkan ratusan orang yang ada di dalam pesawat. “Anthonius telah memantau lepas landasnya pesawat. Jika ia meninggalkan posnya sebelum pesawat lepas landas, maka saya tidak tahu bagaimana nasib ratusan orang di dalam armada itu, “ ujar Yohannes Sirait.

Bagi Alex pribadi peristiwa mencekam yang dialaminya seolah pesan Allah SWT kepada dirinya untuk semakin mengingat kebesaran sang khalik. Tapi sebagai salah seorang yang kini dipercaya sebagai Manager Safety atau Manager Keselamatan di Perum LPPNPI AirNav cabang BIM, dia bisa memberikan usul atau saran untuk pembuatan standar operasional prosedur (SOP) bagi ATC dalam memandu pesawat udara ketika terjadi bencana maupun masalah emergency lainnya. “Jadi belum lama ini ada pertemuan di Bogor. Kebetulan saya dari daerah bencana diminta untuk memberi saran dalam membuat SOP itu,” katanya.

Dia pun memberikan saran untuk penguatan keamanan bagi petugas ATC lengkap dengan peralatan penunjang. “Alhamdullilah usulan saya diterima dan sekarang sudah jadi SOP. Tapi waktu itu, saya tak bicara kalau saya yang

memandu pesawat saat gempa 2009, karena sebenarnya saya tak mau orang tahu tentang peristiwa tersebut, saya ingin menguburnya dan menghilangkan dari ingatan,” sendunya.

Hingga kini, Alex memang tak bisa menyembunyikan traumanya. Dia ingat betul, hingga dua minggu pascaperistiwa mengerikan itu, pria kelahiran 1975 ini tak bisa tidur dengan nyenyak. “Kalau ada goyangan sedikit saja, saya pasti terjaga dan mengira gempa. Begitu hingga dua minggu. Bahkan, saya sempat takut sendiri,” kenangnya pilu.

Makanya, dia ingin, ceritanya kepada Singgalang adalah tuturnya yang terakhir. Biar dia menyimpan lagi ingatan akan peristiwa itu dalam hati terdalamnya. Cukup sebagai pengingat untuk selalu meningkatkan ketakwaan kepada sang khalik, yang maha pemberi hidup dan kehidupan.

Sesuai aturan
Sementara itu, General Manager Perum LPPNPI AirNav cabang BIM, Wisnu Hadi Prabowo mengatakan, petugas ATC semuanya menjalankan tugas sesuai aturan yang berlaku.

Airnav Indonesia menjalankan tugas mengacu pada UU No. 1/2009 tentang Penerbangan dan PP No. 77 tahun 2012 tentang Perusahaan Umum (Perum) Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI). “Sesuai aturan itu, AirNav Indonesia diberi tugas untuk menyediakan jasa pelayanan navigasi penerbangan. Layanan tersebut, yaitu pelayanan lalu lintas udara, pelayanan telekomunikasi penerbangunan, pelayanan informasi aeronautika, pelayanan informasi metereologi penerbangan, dan pelayanan informasi pencarian dan pertolongan atau SAR,” tuturnya.

Dalam pemberian layanan itu ada unit-unit layanan yang melaksanakannya dan pembagiannya berdasarkan wilayah kewenanganan, yakni tower (TWR), approach (APP), dan ACC. “TWR itu batas kewenangannya dari ground sampai 4.000 ft, APP dari ground hingga FL100, TMA dari fl100 hingga fl125, dan ACC dari FL245 hingga FL600. “Dalam memberikan layanan menggunakan radio VHF pada frekuensi tertentu,” terangnya lagi.

Para petugas pada setiap unit layanan ditegaskannya bekerja sesuai aturan dan perundangan yang berlaku. Alex Ferdi juga mengatakan, profesionalisme ATC atau pun petugas pada unit layanan di AirNav Indonesia semuanya mengacu pada aturan yang sudah ditetapkan secara nasional dan internasional. “Kita profesional tanpa intervensi pihak lain, bahkan pimpinan juga tidak bisa intervensi, karena yang kita sampaikan akan dipertanggungjawaban. Kita punya recordnya, juga ada CCTV. Itu terekam di kita dan di pesawat,” terang lulusan tahun 1999 Pendidikan Latihan Penerbangan Curug yang kini berubah nama jadi Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia.

Saat ini di BIM, hanya ada unit layanan tower, sedangkan APP telah pindah ke Pekanbaru. “Sekarang semua sedang proses. APP pindah ke Pekanbaru dengan alat radar dengan pengendalian dari sana. Di sini, ada monitor pengawasnya,” terangnya lagi.

Pemindahan itu, disampaikan Wisnu bagian dari upaya AirNav Indonesia terus memberikan yang terbaik untuk negeri dengan selalu berupaya melakukan pengembangan (continous improvement ). Salah satunya adalah dengan rencana peningkatan pelayanan surveillance di wilayah Padang. “Jadi yang sebelumnya pelayanannya diberikan secara prosedural (non-surveillance), nantinya akan ditingkatkan menjadi surveillance. Tujuannya adalah untuk lebih memastikan safety (keselamatan) dan efisiensi terhadap pesawat-pesawat yang beroperasi di wilayah Padang,” tegasnya.

Lebih dari itu, demi memaksimalkan pelayanan, mereka tetap berkoordinasi dengan ‘saudara kandungnya’ PT Angkasa Pura sebagai pengelola jasa bandara dari sisi darat.

Apapun itu, ditegaskan keduanya, mereka akan tetap bekerja sesuai aturan yang berlaku dan melaksanakan profesi dengan sebaik-baiknya, demi menyelamatkan ratusan jiwa, meski bertaruh nyawa sendiri. “Kita harap tentu tak ada lagi bencana,” imbuh keduanya. (yuniar)