Tak Berkategori  

Akuntabilitas Restoran

Elfindri (ist)

Elfindri
Profesor Ekonomi SDM dan Direktur SDGs Unand

Hikmah di balik pandemik Covid-19 mesti banyak. Pelajaran yang berarti membuat kita semakin berhati-hati. Semakin mematuhi standar kesehatan, kebersihan dan menjadi budaya keseharian masyarakat.

Betapa tidak, jika Covid-19 ini bisa tertular akibat droplet. Atau droplet mampir di permukaan, makanan, dan sejenisnya, maka pemutusan penyebaran virus, tentu membiasakan diri untuk bersih-bersih. Baik tangan manusia maupun permukaan yang membuat manusia dan hewan berinteraksi. Tidak terkecuali restoran, baik yang menjajakan makanan secara tradisional, maupun yang sudah mulai menggunakan kaidah kebersihan super ketat.

Proses dan bukti-bukti terjangkitnya Pasien Dalam Pengawasan (PDP) pasti sudah diketahui. Tentu tidak diperkenankan mamasak untuk anggota keluarga lainnya. Namun, jika juru masak terkena virus atau pengunjung restoran membawa virus, maka hanya anjuran yang bisa dibuat. Mereka dianjurkan untuk tidak berjualan. Kasus dimana pekerja yang sudah sakit, kemudian memasak untuk orang lain tentu sangat kecil. Tetapi proses makanan disajikan dan para pelangga ke restoran membawa virus, mungkin salah satu yang perlu diperhatikan. Hal ini dikarenakan masyarakat juga sebagian di antaranya tergantung pada makanan yang dibeli di luar, alias mereka tidak memasak.

Akuntabilitas Restoran
Akuntabilitas restoran tidak saja berkaitan dengan keterbukaan harga yang tersedia, dan ini berbentuk pricelist yang tersedia menurut. Namun juga akuntabilitas bagaimana makanan disiapkan. Jadi selain bahan, dan proses memasak perlu dinilai secara terus-menerus dengan standar kebersihan yang tinggi, proses transaksi penawaran, orderan, sampai pembayaran.

Makanan yang sudah dimasak kemudian diletakkan di suatu tempat.Uang untuk bayarpun, harus berjarak dengan kasir. Ini bisa diletakkan di tempat tertentu, bahkan ekstrimnya uang di tempatkan pada suatu tempat terpisah, sambil dijamur, supaya kumannya mati.

Di pasar valuta yang sudah maju, bahkan uang kertas untuk ditukarkan, diletakkan pada tempat yang ditentukan. Kemudian diambil oleh petugas dengan sarung tangan, itupun terjadi di waktu-waktu biasa bukan karena pandemik Covid-19. Tetapi menjadi norma pada proses penjualan valuta asing.

Maklumat ke restoran-restoran, rumah makan di hotel sekalipun tantu perlu pula dibuatkan. Maklumat disertai dengan sanksi yang tegas dan terukur. Tetapi dari sekian akuntabilitas di restoran, tentu hal yang paling potensi adalah adab bersama. Berperilaku manguap, batuk, berbicara dimana droplet dari dalam mulut, perlu di jaga.

Kebiasaan dunia barat membuang bersin, atau ingus dengan sapu tangan di depan umum merupakan hal yang biasa. Kebiasaan yang sebenarnya bisa diterapkan, apalagi, berperilaku batuk dan membuang bersin, dengan membuang muka serta menutup mulut dengan sapu tangan.

Kebiasaan asal bersin dan batuk ini juga sering kita temui pada ibadah sholat Jumat. Pada saat sholat, jemaah terdengar tidak menahan bersin atau malah bersin pada sajadah. Jika droplet tadi menempel di sajadah, maka tidak heran jika jemaah yang nantinya menggunakan sajadah yang sama, akan mudah terkena sisa droplet yang bisa saja mengandung virus. Mungkin itu juga alasan kenapa sholat bagi yang memiliki penyakit sebaiknya di rumah, karena akan membahayakan orang lain.

Bagi yang berbelanja makanan cepat-cepat bersihkan barang dan bungkusan yang dibawa. Segera cuci tangan dengan sabun, mandi dan mencuci pakaian. Pastikan hal-hal tersebut telah dilakukan dengan baik sebelum berinteraksi dengan orang lain.

Penilaian Restoran
Tatkala protokol ini sudah disiapkan, tentu bahan, lingkungan, pakaian juru masak, kebersihan dapur dinilai, rasa makanan, dan penampilan dibuatkan standarnya.

Mulailah pemerintah daerah melakukan monitoring secara bertahap. Ini ditujukan terhadap penjual restoran, melakukan pengecekan kesehatan penjual secara reguler, menggunakan standar mamasak, peradaban akan terlihat waktu menjual bahan dan memasak. Semakin kotor tempat restoran, samakin banyak penyebaran kuman. Pengusaha mesti dikenakan sanksi jika dalam skala lab sampel menunjukkan tanda-tanda membahayakan.

Bilamana dalam skala penilaian, restoran memenuhi seluruh syarat, maka restoran diberi bintang 5 yang berarti sempurna. Ini meliputi hasil cek kesehatan juru masak, kebersihan, pakaian, kualitas masakan, disposal bernilai bagus. Jika mereka dinilai hanya sebagian terpenuhi, diberi bintang 3, dan seterusnya.

Dengan demikian, restoran akan meningkatkan kualitas pelayanannya. Kepada mereka dikenakan pajak pembangunan sebesar 10% dan sebagian dari dana penerimaan dari pajak restoran digunakan untuk keperluan pembinaan, pelatihan, pembuatan standar, dan sebagainya. (aci)