Tak Berkategori  

Alam Takambang Jadi Guru

Yudi Latif

Oleh Yudi Latif

Minangkabau menunjukan ekspresi budaya yang eksepsional: keunikan tradisi matrilineal berpadu dengan tradisi perantau berjiwa kosmopolitan.

Budaya Mingkabau selama ratusan tahun memperlihatkan perwujudan sempurna konsepsi strategi budaya Ki Kadjar Dewantara: “Tri-kon.

Kontiniu, tersambung dgn alam lokal, akar tradisi dan cerlang budaya sendiri. Konvergen, terhubung dengan segala arus pemikiran dan perkembangan global. Konsentris, jadi bagian dari kehidupan semesta–dimana bumi dipijak, langit dijunjung–tanpa kehilangan kepribadian.

Hasilnya, ekspresi keragaman dalam persamaan, yang bisa jadi lahan subur bagi budidaya Pancasila. Minangkabau memiliki representasi figur ketokohannya untuk setiap sila Pancasila.

Sila 1, diwakili figur Mohammad Natsir. Seorang tokoh yang menunjukkan semangat keislaman kuat, nasionalisme kuat, integritas kuat, serta toleransi kuat–terkenal “mosi integral Natsir” dan mengisi kabinetnya dgn multi-agama, multi-etnis, multi-ideologi.

Sila 2, diwakili figur Sutan Sjahrir. Seorg pejuang kebangsaan dengan orientasi kemanusiaan universal. Baginya, “Kebangsaan kita hanya jembatan untuk mencapai derajat kemanusiaan yang sempurna, bukan untuk memuaskan diri sendiri kita, sekali-kali bukan untuk merusakkan pergaulan kemanusiaan.. Kebangsaan kita hanya satu roman dan pembaktian kita kepada kemanusiaan.”

Sila 3, diwakili figur Mohammad Yamin. Seorang arsitek terpenting Sumpah Pemuda, dan tokoh menonjol dalam sidang BPUPK yg memperjuangkan kebangsaan Indonesia yang luas dan inklusif; termasuk menyertakan Papua dalam negara Indonesia dengan merujuk Boven Digul sebagai “tanah spiritual revolusi Indonesia”.

Sila 4, diwakili figur Agus Salim. Seorang tokoh multiafiliasi yang kerap berperan sebagai jembatan penghubung dan yang mengusulkan gagasan “demokrasi musyawarah” di BPUPK, berikut tindak-tanduknya sejalan dengan itu.

Sila kelima diwakili figur Tan Malaka. Seorang pejuang gigih keadilan sosial dan kemandirian ekonomi, dgn konsepsi “merdeka 100 %”.

Di atas itu semua, ada figur Mohammad Hatta. Seorang pemimpin nasional, dengan segala kekurangannya, bisa dirujuk sebagai representasi dari kelima sila Pancasila.

Semoga jiwa Pancasila tetap hadir dan mengalir di jantung Minang. (***)