Tak Berkategori  

Anak Sopir Truk Itu Akhirnya Lulus Akademi Polisi

Calon siswa Bintara bersama orangtuanya, sebelum dikirim ke SPN Padang Besi untuk mengikuti pendidikan, Senin (7/8). (guspa caniago)
Calon siswa Bintara bersama orangtuanya, sebelum dikirim ke SPN Padang Besi untuk mengikuti pendidikan, Senin (7/8). (guspa caniago)

PADANG – Desrianto (50) terharu dan gembira, setelah mendapat telepon dari anaknya, Yoga Fatur Rahman, 21. Sopir truk di Solok Selatan itu tidak kuasa menahan tangis setelah menerima kabar anaknya lulus di Akademi Kepolisian (Akpol).

Yoga Fatur Rahman, satu dari 10 pemuda-pemudi Sumbar pada 2017 ini diterima di Akpol, setelah melalui beberapa tes di Mapolda Sumbar. Ini sejarah di Polda Sumbar. Dikirim 10 orang ke Mabes Polri untuk Panthukir, semuanya dinyatakan layak dan diterima semuanya oleh Tim Pusat Mabes Polri.

“Anak saya lulus Akpol tidak pakai uang sama sekali. Lagipula uang yang akan dikasihkan itu juga tidak ada,”ujar Desrianto berkaca-kaca, saat video testimoni ditayangkan di Mapolda Sumbar, Senin (7/8).

Stigma yang mengatakan masuk polisi harus bayar ratusan juta, apalagi masuk Akpol tidak benar sama sekali.  Buktinya sejak Polda Sumbar dipimpin Irjen Fakhrizal penerimaan Akpol, Bintara dan Tantama 2017 di Mapolda Sumbar, pada umumnya yang lulus orangtuanya bekerja sopir truk, kuli bangunan, tukang ojek dan pedagang kecil-kecilan.

“Polri tidak melihat siapa orangtuanya, jika anaknya mampu dan layak untuk diterima, ya pasti diterima,”ujar Kabid Humas, Kombes Syamsi, didampingi Kabag Dalpers SDM, AKBP Ahmad  Basahil, kepada Singgalang.

Yoga Fatur Rahman terlahir dari keluarga yang kurang mampu. Ayahnya sopir truk yang sehari – hari berpenghasilan Rp100 ribu. Semula dirinya tidak percaya anaknya mampu lulus Akpol yang saat ini telah mulai mengikuti pendidikan di Akpol Semarang.

Selama anaknya mengikuti seleksi di Mapolda Sumbar, dirinya selalu berdoa meminta kepada Allah SWT agar anak selalu diberikan kemudahan saat mengikuti proses seleksi.

“Alhamdulillah dengan doa dan kerja keras anak saya akhirnya dia mampu lulus Akpol,” kata dia terisak.

Sebagai sopir truk, ia mengucapkan terima kasih kepada Kapolda Sumbar Irjen Fakhrizal dan jajaran karena seleksi penerimaan anggota Polri tahun ini berlangsung dengan bersih dan transparan.

Pada seleksi 2017 ini, untuk Akpol mendaftar sebanyak 1.200 peserta. Setelah mengikuti beberapa kali seleksi di Mapolda Sumbar dinyatakan layak dan lulus sebanyak 10 orang, tiga di antaranya perempuan (Taruni). Kemudian ke-sepuluhnya dikirim ke Mabes untuk tes penentuan dan hasilnya sangat membanggakan semuanya diterima. Kini  calon jenderal itu telah mengikuti pendidikan di Akpol Semarang.

Begitu juga Bintara dan Tantama. Peminat Bintara sangat luar biasa yang mencapai 6.000 mendaftar. Dari jumlah itu dinyatakan lulus sebanyak 271 peserta, 13 diantaranya perempuan. Kemudian Tantama, mendaftar sebanyak 1.000 lebih dan hanya diterima 12 orang. Ke-12 peserta itu dikhususkan untuk Brigade Mobil (Brimob).

Kemarin calon siswa Bintara itu diserahkan ke SPN Padang Besi untuk mengikuti pendidikan dan latihan selama tujuh bulan.

Khusus untuk Polwan mengikuti pendidikan di Sespolwan Ciputat. Pada umumnya orangtua Bintara yang lulus ini bekerja sebagai sopir, buruh, pedagang tambal ban, tukang batu dan lainnya.

Menurut Kabid Humas, penerimaan Polri baik Akpol, Bintara dan Tantama tidak bisa main-main lagi, karena sudah diawasi oleh tim eksternal. “Kini sudah bersih, transparan, akuntabel dan humanis,”ujar Syamsi.

Calon siswa yang diterima tidak melihat pekerjaan orangtuanya, tapi bila memenuhi persyaratan dan hasil seleksinya baik, dia berhak lulus dan diterima jadi anggota Polri.

Jadi tidak benar samasekali masuk polisi pakai uang. Kepada pemuda-pemudi, khususnya anak orang yang tidak mampu yang bercita-cita menjadi anggota Polri silahkan ikut melamar jangan takut tidak lulus. Kalau memang yakin dengan kemampuan yang dimiliki silahkan mendaftar dan persiapkan fisik,mental dan kemampuan akademik.

“Penerimaan Polri kita berpedoman paada prinsip Betah (Bersih, Transparan, Akuntabel dan Humanis).

Syamsi berpesan pada calon siswa Bintara agar sunguh-sunguh mengikuti pendidikan di SPN, jangan coba-coba keluar malam atau bergadang, karena yang dinilai bukan saja hasil pendidikan, tapi juga tingkah laku. (guspa caniago)