Andre Rosiade dan Cendera Hati Untuk Masyarakat

Oleh Andri Rusta

Sosok Andre Rosiade memang fenomenal. Tidak sedikit orang memberi perhatian pada aktifitas yang dilakukannya. Tidak hanya di tingkat nasional, tapi juga lokal. Berbagai tulisan muncul mengulas apa yang dilakukan Andre Rosiade. Sosoknya sudah menjadi figur yang selalu menarik diperbincangkan oleh masyarakat ataupun kalangan tertentu. Misalnya, apa yang ditulis Riki Saputra “Menakar Aksi Politik Andre Rosiade” di Harian Singgalang (3/8/2022). Dalam tulisan tersebut secara tidak langsung Riki Saputra (Riki) meragukan “sikap baik” Andre Rosiade yang memberikan bantuan kepada konstituennya sekaligus menyerap aspirasi masyarakat.  Oleh Riki, menariknya, aktifitas Andre ini dikaitkan dengan pemilihan Gubernur Sumatera Barat tahun 2024. Andre dianggap sedang mempersiapkan diri untuk menjadi gubernur dan tidak gentlemen mengakuinya. Riki seakan-akan meragukan “keikhlasan” Andre Rosiade ketika melaksanakan fungsinya sebagai anggota DPR. Keraguan ini dikaitkan dengan tudingan sikap ketertutupan Andre Rosiade yang dianggap “malu-malu” untuk menjadi calon Gubernur Sumatera Barat.

Sebenarnya, tidak sulit memahami apa yang dilakukan Andre Rosiade sebagai anggota DPR dari Daerah Pemilihan Sumatera Barat 1. Bahkan menurut saya tidak perlu dianalisis dengan filsafat moral segala. Karena apa yang dilakukan Andre tidak ada yang tersembunyi dan semuanya kasat mata. Tentu tidak semudah itu menilai niat politik (political will) orang yang memang tidak bisa dilihat langsung. Sebagai politisi yang sekarang menjadi anggota DPR yang dipilih melalui Pemilu 2019, tentu Andre memiliki tanggung jawab kepada konstituennya. Seperti apa tanggung jawabnya? Tentu yang terkait dengan pelaksanaan fungsinya sebagai wakil rakyat seperti pengawasan perundang-undangan yang dilaksanakan pemerintah, penganggaran, dan menyusun serta membahas perundang-undangan bersama dengan pemerintah.

Cendera Hati Andre

Tidak ada yang aneh dengan apa yang dilakukan oleh Andre selama ini. Soal Andre membagikan cendera hati kepada masyarakata adalah bagian dari adat dan adab ketimuran yang memang hidup dan berkembang dalam masyarakat kita. Analoginya, jika seseorang “bertamu” ke rumah orang yang dikunjungi, biasanya memag membawa buah tangan. Di sisi lain, tuan rumah akan membuka pintu rumahnya dengan tangan terbuka dan melayaninya karena agama kita memnag mengajarkan adab menerima tamu. Apalagi yang berkunjung adalah seorang elite politik yang memang terpilih dari dukungan konstituennya. Sudah sepatutnya Andre membawa cendera hati pada masyarakat, terutama cendera hati untuk mereka yang memang membutuhkan. Soal adanya gambar, logo dan atribut lain dalam cendera hati yang diberikan tersebut bukanlah masalah urgen. Hampir semua elite politik berkunjung melakukan hal yang sama. Menurut saya ini adalah hal yang lumrah dan lazim dalam kegiatan politik. Sebab, jika tidak ada identitas yang memberi cendera hati tersebut, maka masyarakat akan enggan menerima karena tidak ahu dari asal dan sumbernya. Apalagi masyarakat hari ini juga harus mengetahui dari siapa mereka menerima sesuatu agar tidak bermasalah dikemudian hari. Semuanya harus jelas dan transparan. Justru, jika identitas pemberi tidak ada, maka pemberian tersebut rawan diklaim oleh pihak tertentu yang memang gandrung mengambil kesempatan untuk kepentingan politiknya seakan-akan mereka sudah bekerja untuk rakyat. Bukankah ini memang sering terjadi dalam realtas politik kita?

Tidak banyak anggota DPR sekaliber Andre yang benar-benar memperjuangkan aspirasi masyarakat Sumatera Barat di tingkat nasional dengan cara ini. Kecurigaan banyak pihak kepada Andre yang dianggap sedang membangun citra diri (branding) karena ingin maju dalam Pilkada adalah sesuatu yang wajar. Bahkan harus dipahami citra diri yang dibentuk oleh politisi adalah bagian penting dari bentuk transparansi kinerjanya sebagai politisi kepada publik. Apalagi di era keterbukaan hari ini dengan segala kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, sudah menjadi keniscayaan apa yang dilakukan politisi harus diketahui publik dan menjelaskan kepada mereka. Kalau tidak publik akan mendapatkan informasi yang keliru dari apa yang dilakukan oleh politisi sehingga merugikan dirinya.

Pertanyaan sekarang, apakah aktifitas Andre ada kaitanya dengan rencana dirinya maju sebagai calon kepala daerah? Wallahu’alam, hanya Tuhan dan Andre sajalah yang tahu. Namun, perlu diingat, Andre Rosiade adalah pejabat politik. Segala tindak tanduk dan perilaku Andre sudah jelas akan dikaitkan dengan aktifitas politik. Tentu semua pihak bisa menghubungkaitkan tindakan ini ke Pilkada dan bahkan Pemilu tahun 2024. Hal ini adalah sesuatu yang logis dalam konteks politik yang dilakukannya. Tidak perlu diberi tafsir yang berlebihan, apalagi dikaitkan dengan aktifitas moral. Karena apa yang dilakukan ini hanyalah banalitas politik yang hampir semua politisi melakukannya. Justru aktifitas Andre Rosiade ini menjadi preseden yang baik bagi semua politisi kita yang mewakili aspirasi politik masyarakat Sumatera barat di DPR RI untuk memperhatikan konstituennya.

Masalahnya sekarang adalah kadang-kadang kita terlalu jauh memberi makna dengan tafsir yang entah dari mana dasarnya sehingga yang muncul adalah kecurigaan politik. Demokrasi yang berkeadaban tidak pernah dibangun dengan kecurigaan politik yang berdampak pada munculnya sikap pesimis. Demokrasi yang berkualitas harus dibangun dengan sikap optimis bahwa setiap elite politik memiliki tujuan utama, yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pelakanaan tugas dan wewenangnya sebagai politisi. Soal bagaimana caranya, inilah seni berpolitik yang dilakukan oleh politisi. Sepanjang tidak melanggar undang-undang yang menjadi dasar kita berdemokrasi apa yang dilakukan adalah kewajaran dalam berpolitik.(*)

Penulis adalah Dosen FISIP Universitas Andalas, Direktur Riset Spektrum Politika