Anomali Cuaca, Warga Diminta Waspada Bahaya Banjir dan Longsor

Ilustrasi. (*)

PADANG – Masyarakat Sumbar diminta untuk tetap waspada terhadap anomali cuaca yang terjadi belakangan. Secara siklus, cuaca Sumbar seharusnya sudah memasuki musim kemarau, namun dua hari belakangan curah hujan lebih tinggi.

Bahkan, hujan telah menyebabkan banjir di Sijunjung. Akibatnya sejumlah rumah warga rusak akibat banjir. Selain itu menyebabkan kerugian lainnya.

“Ini anomali, Sumbar memang sering seperti itu. Untuk itu kita harap masyarakat untuk tetap waspada dengan cuaca yang berubah drastis,”sebut Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar, Rumainur kemarin.

Disebutkannya, berdasarkan data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) seharusnya Sumbar sudah memasuki musim kemarua, yang dimulai dari bulan Juni lalu hingga September. Mestinya Sumbar mewaspadai ancaman bencana kebakaran hutan dan lahan yang selalu berulang dari tahun ke tahun.

“Informasi BMKG di bebarapa daerah masih berpotensinya hujan sedang. Kami tetap ingatkan masyarakat untuk selalu siaga akan potensi banjir dan longsor,” ujarnya.

Ditambahkannya, karena diprediksi telah musim kemarau, potensi kebakaran hutan dan lahan di beberapa kabupaten/kota perlu diwaspadai. Sebab ada beberapa daerah yang sering terjadi kebakaran hutan, diantarannya Limapuluh Kota, Sijunjung, Pesisir Selatan dan Solok Selatan.

“Meskipun begitu peluang kebakaran tersebut kecil karena kebanyakan hutan Sumbar hutan basah. BPBD Sumbar telah mensosialiasikan melalui BPBD kabupaten/kota agar masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan disaat musim kemarau terjadi. Namun sejauh ini belum terpantau adanya titik panas tersebut,” jelasnya.

Ia menambahkan, untuk kebakaran hutan dan lahan selain sosialisasi ke masyarakat, BPBD Sumbar juga telah membagikan pompa apung kepada 6 kabupaten/kota yang cenderung kebakaran hutan. Dengan adanya pompa apung yang bisa digendong dengan daya tembak lebih darui 15 meter tersebut , diharapkan dapat membantu pemadaman titik api di lokasi yang tidak bisa dijangkau kendaraan pemadam kebakaran.

“Untuk karhutla ini kerjasama dengan dinas pemadam kebakaran. Masing-masing daerah telah dibagikan 2 unit pompa apung, dan BPBD Sumbar juga punya 4 pompa apung yang disiagakan untuk membantu daerah yang mengalami kebakaran hutan dan lahan di Sumbar,” terangnya.

Sementara itu, terkait hujan yang terjadi di Kota Padang sejak Senin (9/7) siang, dan sampai Selasa (10/7) masih terjadi di beberapa lokasi dikabarkan terjadi pohon tumbang yang mengganggu akses jalan, menimpa rumah masyarakat, bahkan ada diantaranya yang menyebabkan korban meninggal dunia. (yose)

Loading...