oleh

Asman Abnur Mundur, Bukti Kesatria Urang Awak

Oleh: Effendi

Asman Abnur mundur dari jabatan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB). Berita mundurnya urang awak asal Pariaman ini, menjadi perhatian publik sejak Selasa malam.

Asman mundur dari Kabinet Kerja pemerintahan Jokowi-JK, menyusul keputusan PAN yang mendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019.

“Mundurnya Asman Abnur karena perbedaan pilihan politik. Kita mengucapkan terima kasih, tetapi karena perbedaan pilihan politik menjadi berbeda. Dan kita bertemu, bergabung baik-baik, selesai baik-baik,” ujar Sekretaris Kabinet Pramono Anung di Kompleks Istana Presiden, Jakarta, Selasa (14/8) seperti dilansir dari republika.co.id.

Kendati demikian, ia menegaskan pengunduran diri Asman tak berkaitan dengan kinerjanya selama ini di pemerintahan. Menurut Pramono, kinerja Asman di Kabinet Kerja justru cukup baik. Tapi ini pilihan politik yang tak bisa terhindarkan.

Asman sendiri menyebut dia mundur karena tak ingin membebani pemerintahan Jokowi-JK lantaran sikap politik PAN yang berbeda dengan pemerintah. Dirinya mundur juga bukan karena permintaan dari Jokowi maupun partai.

“Mudah-mudahan langkah yang saya ambil ini merupakan langkah yang baik, sehingga tidak ada yang melukai semua pihak. Kehadiran saya di MenPAN-RB bisa digantikan oleh orang yang lebih netral. Saya berdoa mudah-mudahan pengganti saya diganti oleh orang yang lebih 

baik dari saya,” katanya  di kantor Kementerian PAN-RB di Jakarta pada Selasa malam (14/8).

Kehadiran Asman Abnur di Kabinet Kerja, meski yang bersangkutan punya kapasitas dan kemampuan untuk mengemban tugas negara itu, tapi lebih besar ‘ faktor ‘representatif dari PAN. Apalagi dalam perjalanan pemerintahan Jokowi-JK, PAN menyatakan sikap mendukung pemerintahan Jokowi-JK.

Maka pada reshuffle kabinet yang merupakan hak prerogatif Presiden, pada 27 Juli 2016, dilantik beberapa menteri. Salah satunya, Asman Abnur sebagai Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB). Asman adalah representatif PAN. Dia adalah Waketum DPP PAN dan Anggota DPR.

Di awal kepemimpinan Jokowi-JK, Oktober 2014, menteri-menteri yang diangkat, selain berasal dari kalangan profesional, juga dari kalangan representatif parpol pendukung seperti PDI-P, Partai NasDem, Hanura, PKB dan PPP.

Mundurnya Asman dari kabinet pemerintahan Jokowi-JK dinilai banyak pihak sebagai sikap kesatria. Kesatria karena Asman merasa lebih terhormat dan tetap punya harga diri dengan melepas jabatan sebagai pejabat negara, lantaran perbedaan sikap dan pilihan.

Sikap Asman ini mengingatkan kita kepada sejumlah tokoh urang awak yang berjasa untuk negeri ini. Siapa yang tak kenal dengan Bung Hatta, sang proklamator sekaligus Wakil Presiden pertama Republik Indonesia?

Setelah bersama-sama dengan Presiden Soekarno sejak republik ini diproklamirkan, 17 Agustus 1945, pada 1 Desember 1956, Bung Hatta resmi mengundurkan diri sebagai wakil presiden.

Mundur karena, perbedaan sikap dan pandangan politik dengan Presiden Soekarno. Perbedaan ini tidak bisa dipertemukan. Salah satunya saat menyikapi revolusi. Bung Karno bersikukuh revolusi jalan terus, Bung Hatta berpikir sebaliknya. Dengan kata lain, pilihan politik lah yang membuat Bung Hatta mundur.

Ketika ditanya mau apa setelah mengundurkan diri, proklamator kelahiran Bukittinggi ini menjawab ringan, “Saya mau  terjun ke masyarakat, menjadi orang biasa.” Sebuah jawaban jernih dari sosok yang tidak haus kekuasaan.

Sikap kesatria juga diperlihatkan urang awak yang lain, Sutan Syahrir. Mundur dari jabatannya sebagai Perdana Menteri. Sutan Syahrir adalah perdana menteri pertama di Indonesia. Tiga kali dipercaya Presiden Soekarno untuk memimpin pemerintahan.

Pada Kabinet Syahrir III yang dibentuk pada 2 Oktober 1946, urang awak kelahiran Padang Panjang ini mengundurkan diri dari jabatannya sebagai perdana menteri. Mundur juga lebih banyak dipengaruhi sikap politik.

Pasca Perjanjian Linggarjati, 15 November 1946, banyak pihak menganggap Sjahrir terlalu banyak memberi konsesi pada Belanda dan banyak ketidakjelasan dalam Persetujuan yang dapat menimbulkan perbedaan tafsiran.

Sjahrir mengalami kesulitan berhubungan dengan pihak Belanda, sehingga banyak yang menarik dukungan terhadapnya, termasuk partainya sendiri, yaitu Partai Sosialis. Akibat banyaknya penentangan kebijakan Sjahrir,  maka ia kemudian mengundurkan diri pada 27 Juni 1947.

Urang awak yang juga memilih mundur dari jabatan pejabat negara adalah Jeffrie Geovanie (JG). Dia mundur dari jabatan sebagai anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar pada Maret 2012. Mundur karena sikap politiknya yang pindah dari Partai Golkar ke Partai NasDem.

JG sadar, dia lolos ke Senayan melalui kendaraan Golkar. Setelah ia keluar dari Golkar, etika politiknya, tentu harus mundur dari anggota Golkar di DPR. Sikap kesatria yang diperlihatkan urang awak asal Limapuluh Kota ini.

JG lolos ke Senayan melalui Partai Golkar dari Dapil Sumbar 1 hasil Pileg 2009. Sikap politiknya yang pindah partai, dia rela meninggalkan jabatan empuk kursi DPR RI.

Padahal ketika itu dan lazim terjadi, anggota DPR yang sudah ditetapkan sebagai tersangka saja, belum mau dilengserkan atau diganti dari jabatan sebagai anggota DPR. Tetap bertahan dan terus mencari celah bagaimana dia tetap bertahan.

Sikap kesastria yang diperlihatkan Asman Abnur, Jeffrie Geovannie dan jauh sebelumnya tokoh pendiri bangsa ini, Bung Hatta dan Sutan Syahrir sesungguhnya adalah sikap mulia. Sikap yang sebenarnya melambangkan jati diri urang Minang.

Rela melepas jabatan empuk, terpandang dan disegani karena pilihan politik. Sebab ini menyangkut harga diri. Mereka tak tergoda jabatan empuk, dengan mengorbankan harga diri dan sikap politik, di tengah kini merebaknya, gampang mengubah sikap politik lantaran diiming-imingi jabatan empuk dan lainnya.

Lantas masihkah di era milenial sekarang, generasi muda urang awak yang bertipikal seperti Asman Abnur, Jeffrie Geovanie dan tokoh bangsa sekaliber Bung Hatta dan Sutan Syahrir? Entahlah. (***)  

 

News Feed