Baznas: Kerugian Gempa Sulteng Capai Rp24,6 Triliun

(Ketua Baznas Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA CA dan Direktur Puskas, Dr. Irfan Syauqi Beik, Kamis (11/10). (*)

JAKARTA – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), melalui Pusat Kajian Strategis Baznas (Puskas) melakukan review terhadap dampak gempa bumi Palu dan Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah. Disampaikan hasil public ekspose Kajian Dampak Ekonomi Bencana Gempa Bumi dan Tsunami Sulawesi Tengah, mencapai kerugian Rp24,6 triliun terdiri dari Rp23,9 triliun kerugian di Palu dan Rp773,2 miliar kerugian di Donggala.

Kerugian tersebut diperoleh dari analisis dampak kerusakan pasca-gempa dan tsunami melalui metodologi Damage and Loss Assessment (DaLA) yang dikenalkan oleh Komisi Ekonomi Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Di Palu, kerugian akibat dari gempa dan tsunami dihitung dari kerusakan infrastruktur seperti fasilitas pendidikan, kesehatan dan aktivitas ekonomi. Bahkan pada sektor industri, hortikultura dan peternakan.

Ketua Baznas, Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA kepada Singgalang di Jakarta menjelaskan, perhitungan kerusakan terbesar di kota berpenduduk 409.877 jiwa ini berasal dari sektor industri di Kecamatan Mantikulore sebesar 48 persen. Kecamatan ini memiliki 799 industri yang terdiri dari industri sedang, kecil dan industri mikro.

Hasil perhitungan kerusakan terbesar untuk sektor hortikultura Kota Palu di Kecamatan Tawaeli dengan luas panen dari tanaman pada sektor ini mencapai 574, 6 Hektare atau sebesar 40 persen dari total sektor hortikultura.

Untuk sektor peternakan, Kecamatan Palu Utara dengan jumlah hewan ternak terbanyak di Kota Palu mencapai 2.870.100 ekor hewan, mencapai 39 persen dari total peternakan yang ada.

Sementara itu untuk Kabupaten Donggala, kerugian terhitung sebesar Rp 773,2 M terdiri atas kerusakan infrastruktur seperti fasilitas pendidikan dan kesehatan serta sektor ekonomi dengan perhitungan kerusakan menimpa sektor perkebunan, hortikultura dan peternakan.

Dari masing-masing kecamatan di kabupaten berpenduduk 298.722 jiwa ini terhitung kerusakan terbesar dari sektor perkebunan ada di Kecamatan Sindue Tambusabora yaitu mencapai 38 persen dari total keseluruhan. Jenis perkebunan yang ada di kecamatan ini adalah kelapa, kopi dan kakao, dengan produksi terbesar dihasilkan oleh kelapa dengan hasil kebun sebanyak 24.202 Ton.

“Kerugian terbesar untuk sektor hortikultura sayuran untuk Kabupaten Donggala adalah Kecamatan Tanantovea yaitu sebesar 30 persen. Untuk sektor hortikultura buah-buahan, Kecamatan Sindue Tobata menempati porsi tertinggi sebesar 32 persen,” tambah Bambang.

Data dapat diunduh melalui website www.puskasbaznas.com. (sm)

 

Loading...