BELAJAR DARI LAPAGALA; Mengenang Kepergian Prof. Andi Mustari Pide

Oleh Ruslan Ismail Wage

Prof. Dr. H. Andi Mustari Pide, SH. (*)

Sehabis shalat subuh saya kembali membuka media sosial untuk mengetahui perkembangan sepuluh jam terakhir. Mataku lagi-lagi basah ketika melihat dan membaca begitu banyaknya status menuliskan kesedihan dan rasa kehilangan atas kepergian Pung Aji menghadap ke Tuhan YMK. Seketika teringat awal perjalanan saya dari kota Makassar ke Padang.

Tahun 1994 ketika menentukan sikap ingin melakukan pengembaraan intelektual ke Bumi Minangkabau, orang tua tidak memberiku bekal berupa materi kebendaan, selain hanya petuah kalimat bijak yang mengatakan “Pergilah berguru kepada orang yang berilmu, bukan kepada orang yang berpengetahuan”. Kucium tangan orang tua lalu pamit memohon doa selamat dalam perjalanan naik kapal Pelni menuju Jakarta, untuk kemudian pergi menjemput mimpi ke Bumi Minangkabau yang menurut data dan fakta sejarah pernah menjadi pusat industri otak dan kepemimpinan Nusantara.

Petuah kalimat bijak di atas tidak serta merta memahami makna besar yang terkandung di dalamnya. Membutuhkan waktu kurang lebih 20 tahun dalam pengenbaraan literatur saya baru bisa mehamai maknanya bahwa kenapa harus berguru kepada orang berilmu, karena orang berilmu adalah orang yang pengetahuannya tidak pernah putus bagaikan sumber mata air yang tidak pernah kering mengalir terus-menerus untuk menginspirasi orang lain (terus berbagi ilmu). Sementara orang berpengetahuan adalah orang yang memiliki juga banyak pengetahuan tetapi hanya untuk dikonsumsi sendiri (tidak berbagi).

Selama di Bumi Minangkabau, saya banyak menemui dan berguru kepada orang berilmu. Satu diantaranya yang paling dahsyat ilmunya adalah Prof. Dr. H. Andi Mustari Pide, SH (Rektor Universitas Ekasakti) yang tidak pernah jenuh mengalirkan pemikiran-pemikiran inspiratifnya.

Suatu waktu ketika saya sedang menyusun naskah buku kepemimpinan, saya ke ruangannya memancing bicara tentang kepemimpinan dan manajemen. Beliau membuat mataku tidak berkedip ketika memperkenalkan cerita inspiratifnya berjudul “Lapagala”.

Dengan narasi Bugis yang kental, beliau berbicara tentang siapa Lapagala. Menurutnya Lapagala adalah seorang anak kecil yang rutin disuruh oleh orang tuanya pergi menjaga sawah dari burung-burung yang setiap saat bisa datang memakan padinya yang dalam proses pertumbuhan. Suatu waktu ketika sore hari terjadi hujan deras sehingga harus berteduh di dalam gubuk menunggu hujan redah. Hujan bukan redah tetapi malam sudah datang hujan jetsru semakin deras.

Samar-samar di kegelapan malam, Lapagala mendengarkan suara beberapa orang mendekat ke gubuknya untuk berteduh. Dari bilik gubuknya Lapagala mengintip kalau ternyata di depan pintu gubuknya sudah berdiri empat orang berbadan besar dan berewokan masing-masing memegang golok panjang. Ternyata empat orang ini adalah orang jahat yang baru saja gagal merampok.

Salah seorang diantaranya langsung mendobrak pintu gubuk dan menemukan seorang anak kecil Lapagala sendirian kedinginan. Keempatnya kemudian berebut mendekat ke Lapagala dan berminat membawanya pulang ke rumahnya masing-masing. Karena keempatnya tidak ada yang mau mengalah, maka pemimpin perampok ini mengatakan, untuk mendapatkan Lapagala, kita membuat lomba cerita yang paling tinggi bohongnya.

Keempatnya kemudian bergiliran bercerita yang menurutnya paling tinggi kebohongannya. Perampok pertama bercerita, saya pernah melihat seekor sapi yang paling besar. Saking besarnya di ujung tanduknya orang bisa bermain bola. Perampok kedua bercerita, saya pernah melihat pohon yang paling besar. Saking besarnya sudah tujuh tahun, tujuh bulan, tujuh minggu, tujuh hari saya mengelilingi garis tengahnya belum sampai-sampai.

Perampok ketiga bercerita, saya pernah melihat parang yang sangat panjang. Saking panjangnya sudah tujuh tahun, tujuh bulan, tujuh minggu, tujuh hari pemiliknya meninggalkan rumahnya, ujuang parangnya masih di tangga rumahnya. Perampok keempat bercerita, saya pernah melihat rumah yang sangat besar. Saking besarnya telur ayam yang dijatuhkan dari atapnya sampai tanah sudah mejnadi ayam yang bertajih.

Mendengar keempat cerita itu, Lapagala mulai berbicara dengan mengatakan kempat cerita itu sama nilainya, jadi tidak ada yang boleh menculik saya kata Lapagala.

Mendengar pendapat Lapagala, pimpinan perampok menimpali  kalau di antara kami berempat tidak ada yang boleh menculikmu, maka Lapagala harus bercerita yang bisa mengalahkan cerita kami.

Lapagala pun menyanggupinya dengan ceritanya : Saya pernah melihat gendang yang sangat besar. Saking besarnya sudah tujuh tahun, tujuh bulan, tujuh minggu, tujuh hari ditabuh, bunyinya belum berhenti. Mendengar cerita Lapagala, pemimpin perampok mengatakan itu tidak mungkin terjadi, karena tidak ada bahan yang bisa membuat gendeng sebesar itu.

Tanya perampok pertama dari mana bahan kulitnya? Lapagala menjawab dari sapimu tadi yang di ujung tanduknya bisa orang bermain bola. Tanya perampok kedua dari mana ambil kayu untuk menempel kulit sapinya? Lapagala menjawab dari pohon besarmu. Tanya perampok ketiga bagaimana cara memotong sapi dan menebang pohong besar itu? Lapagala menjawab menggunakan parang panjangmu. Tanya perampok keempat dimana menyimpan atauh menggantung gendang itu? Lapagala menjawab di rumah besarmu. Akhirnya keempat perampok itu mengalah dan sepakat menjadikan Lapagala sebagai pemimpinnya.

Sehabis menceritakan Lapagala, Pung Aji (maaf tidak bisa menahan air mata menyebut panggilan familiarnya) ia memperbaiki duduknya lalu berkata kepadaku. Lapagala telah mengajarkan strategi kepemimpinan dan manajemen handal. Karena pada dasarnya pemimpin yang kuat adalah pemimpin yang mampu memanfaatkan seluruh potensi yang dimiliki orang-orang disekitarnya untuk mencapai tujuan bersama.

Manajer yang sukses adalah pada dasarnya adalah manajer yang memiliki kemampuan mengorganisir kemampuan yang dimiliki karyawannya untuk mencapai tujuan perusahaan. Beliau kemudian menutup cerita Lapagala dengan memberi kata kuncinya “Bagaimana Lapagala memukul KO lawan tanpa harus menyentuhnya”.

Pung Aji, kepada siapa lagi saya mendapatkan cerita-cerita inspiratif dan filosofi kehidupan setelah kepergiannya. Ya Allah ya Rabb, tempatkan orang tua kami di Surga tertinggi-Mu. Selamat jalan Pung Aji, kami kehilangan orang tua, guru besar, ilmuwan, dermawan, yang tidak pernah jenuh berbagi.

Semua orang berkata : Pung Aji adalah orang terbaik yang pernah ditemuinya. AL-Fatihah tak henti-hentinya untuk Pung Aji. (***)

Loading...