
Montosori
“Saya punya sisi yang mungkin menarik dibahas,” kata Montosori, wartawan senior di Padang pada Singgalang, beberapa hari lalu. Ia memantik, dengan pertanyaan, “apa definisi orang hebat sekarang? Apa harus kaya, berjabatan? Kalau mau diredefinisi, kita mau bentuk anak-anak muda jadi org hebat seperti apa? Seperti Tan Malaka? Hatta? Sjahrir? Tentu tak cocok! “
Jika tak cocok lagi, seperti siapa kalau menukik ke sosok yang agak muda? Doni Oskaria? Atau hebat seperti siapa? Dia masih belum menjawab. “Negarawan mensyaratkan ketokohan, ketokohan mensyaratkan jabatan, jabatan mensyaratkan politik, nah politik sekarang memsyaratkan banyak kemunafikan, walau tak semua. Idealis kesempuranaan hanya utopia.”
Ia mengajak kita melompat ke yang konkret, ada namamya Ricky Elson, anak Padang alumni SMA 5 Padang, pernah kuliah di Unand 1 semester. Lanjut S1-S2 di Jepang. Kemudian bekerja di perusahan Jepang sebagai periset motor listrik. Gajinya sekitar Rp150 jt per bulan.
“Balik ke Indonesia diajak Menteri BUMN Dahlan Iskan 2012 mengembangkan mobil listrik. Namun, akhirmya dibunuh kariernya. Dia kemudian menepi di Jawa Barat, tetap mengembangkan motor listrik,” sebut Monto. Tak ada lembaga formal (gubernur/wako/bupati) di Sumbar yang memberdayakan kehebatan dia.
“Ini contoh saja bahwa sebetulnya banyak anak Minang yang hebatnya di atas rata-rata, tapi terpinggirkan dan dibiarkan.”Kini kita bicara memproduksi generasi hebat. Tapi, yang anak-anak muda yang sudah terlanjut hebat, diabaikan. Dibunuh orang, justru kita biarkan. Paradoks!
“Kini, eranya digital, teknologi listrik. Apaanak-anak muda yang bergerak masuk dunia teknokrat tak dianggap hebat? Apa hanya politik satu-satunya jalan menuju hebat? Negarawan?” Montosori kembali bertanya dan sebenarnya ia telah menjawab denga pertanyaannya sendiri.
Namun begitu, ia melihat ada celah. “Satu lagi, kalau boleh berpesan pada Gebu Minang dengan segala tokoh dan koneksinya, tolong ikut menjaga anak muda Minang yang memilih jalan berlawan dari cara-cara keliru penguasa. Namamya Feri Amsari.”
Ia memberikan apresiasi buat Gebu Minang atau pihak dan siapa saja yang selalu menggelisahkan, mediskusikan soal generasi Minang hari ini dan mendatang. Tema ini selalu dibicarakan, dan memang harus begitu. Kalau ada uangnya, bagus juga Gebu Minang buat yayasan sekolah unggul, 100% gratis alias pakai beasiswa. Cukup 1- 2 lokal saja per tahun.
Editor : Bambang Sulistyo