Berprestasi, Antarkan Guru Mentawai Ini ke Istana Merdeka

Rifa Susanti bersama siswanya. (*)

PADANG – Rifa Susanti, Guru SMA Negeri 1 Siberut, Kepulauan Mentawai tidak pernah membayangkan bakal ke di Istana Merdeka, Jakarta, apalagi bertemu dengan Presiden Joko Widodo dan pan para menteri pada 2018 ini. Kini undangan sudah di tangan, tiket ke Jakarta sudah tersedia. Ia tinggal berangkat. Hari yang ditunggu terasa lama.

“Alhamdulillah, saya terpilih sebagai duta Sumatera Barat dalam pemilihan guru berprestasi 2018 ini,” ujar guru kelahiran Sikabu Lubuk Alung pada 6 Desember 1983. Ia bersama duta Sumbar lainnya akan mulai mengikuti seleksi Nasional pada 13 Agustus 2018 ini. Menunggu hari keberangkatan, ia seperti tidak sabar, sekaligus deg-degan. Maklum saja, ia belum lama mengabdi sebagai guru di kepulauan ini.

Diangkat sebagai Guru Negeri (ASN) sejak 2010 di SMA Negeri 1 Siberut, Rifa berusaha mengerahkan kemampuan terbaiknya. Apalagi dalam kondisi labor yang belum memadai, sebagai guru Fisika, ia harus mampu mengatasi berbagai kendala, agar pembelajaran tetap berjalan dengan lancar,dan tujuan bisa dicapai.

“Kondisi di sini amat baru bagi saya, ini menjadi tantangan tersendiri untuk berbuat yang terbaik bagi generasi muda Siberut,” ujar istri dari Masril Adek Candra ini. Sekalipun keluarga ada di Pariaman, dan selama bertahun-tahun hidup di darek, keramahan penduduk dan keakraban dengan para siswa membuatnya betah berada di Siberut Selatan ini.

Berada jauh dari keluarga, tidak membuat Rifa bersedih hati. Ia memiliki banyak saudara saparasaian di Siberut ini. Ia bukan saja berusaha untuk akrab dengan penduduk setempat, para ASN dan pegawai lainnya yang bertugas di sini pun diakrabinya. Tidak jarang Rifa turun bersama saat paramedis, bidan dan dokter mengunjungi pasiennya. Hal ini membuat semakin mengenal daerah pengabdiannya,

“Persaudaraan di pulau ini terasa indah dan mengesankan,” ujar Guru Fisika ini. Walau penempatannya menyandang status 3T (Terluar, Terpencil, Terisolir) tak mengurangi semangat pengabdian. Tantangan di daerah 3T ini memang berat, tetapi tantangan ini lebih dirasakan oleh peserta didiknya, yang harus bolak-balik dari rumah ke sekolah.

“Rumah peserta didik ada yang sangat jauh dari sekolah,” jelas Rifa. Mereka harus menempuh medan yang berat. Ada siswa dari pedalaman, datang ke sekolah berjalan kaki, menembus rimba, dengan kondisi jalan berkubang lumpur, apalagi jika hari hujan. Ada juga siswa yang datang ke sekolah naik perahu atau kapal kecil, tentu risiko berada di laut lepas bisa dibayangkan. Semangat mereka, ikut memotivasi Rifa untuk mengabdi lebih baik lagi.

Kadangkala, jelas Rifa, siswa bermalam di rumahnya. Ketika cuaca kurang bersahabat, yang bisa membahayakan diri mereka, maka ada yang bermalam di rumahnya dan kembali keesokan harinya, ketika bahaya yang mengintai mulai berkurang.

Diminta untuk ikut seleksi guru berprestasi tingkat SMA, jelas Rifa, dirasakannya amatlah berat. Ia baru mengabdi sekitar 8 tahun, pengetahuan dan pengalamannya sebagai guru tentu jauh tertinggal, apalagi akses informasi tidaklah lancar SMA yang ada di darek.

Namun dorongan Kepala SMAN 1 Siberut Selatan Anjelo, dan rekan-rekannya membuatnya berusaha untuk meyakinkan diri bisa bersaing pada 2018 ini.

“Terima kasih kepada semua pihak yang ikut mendorong keikutsertaan saya dalam pemilihan guru berprestasi ini,” ujar Rifa. Disadarinya begitu banyak yang ikut berperan, bahkan KM. Ambu-Ambu pun kini menjadi saksi pengabdian Rifa Susanti selama delapan tahun terakhir di Kepulauan Mentawai.

Walau tidak pernah membayangkan, pengabdian Rifa Susanti mengantarkannya untuk bisa upacara bendera di Istana Merdeka untuk pertama kalinya pada HUT RI ke-73 tahun 2018 ini. Bisa jadi, Rifa kembali mendapatkan kejutan berikutnya, berkunjung ke luar negeri, jika ia mampu masuk tiga besar Nasional pada pemilihan guru berprestasi ini. Semoga kejutan itu terwujud. (Waitlem)