Tak Berkategori  

BNPT Sampaikan Survei, Tangkal Radikalisme dengan Perkuat Kearifan Lokal

Kepala BNPT, Suhardi Alius, didampingi sejumlah pejabat terkait, memaparkan hasil survei internalisasi kearifan lokal dan potensi radikalisme, Selasa (10/12) di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta. (gusnaldi saman)

JAKARTA – Hasil survei yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), menunjukkan bahwa daya tangkal yang paling kuat untuk memerangi radikalisme adalah kearifan lokal. Ke depan, ini harus menjadi perhatian Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme (FKPT) bersama pemerintah daerah dan stakeholder terkait lainnya.

Penegasan itu disampaikan Kepala BNPT, Komjen (Pol) Suhardi Alius dalam jumpa pers, Selasa (10/12) di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, terkait hasil survei nasional BNPT 2019. Menurutnya, survei dilakukan tatap muka dari kalangan akademisi, pelajar, tokoh agama, budaya dan lainnya pada 32 provinsi di Indonesia.

Ternyata, temuan utama riset itu bahwa kearifan lokal dianggap sebagai perekat masyarakat sekaligus dipercaya sebagai daya tangkal terhadap radikalisme, sebutnya.

Menjawab Singgalang yang hadir dalam kesempatan tersebut, Suhardi Alius, putra Tanjung Alai, Kabupaten Solok tersebut, dengan mantap menyebut untuk Sumatera Barat, pentingnya penguatan ninik mamak dalam tatanan masyarakat Minangkabau. Bila dipahami hakiki sesungguhnya, kearifan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah itu, jauh lebih hebat untuk menangkal hal-hal seperti intoleransi, radikalisme hingga terorisme sekalipun, katanya.

Peran orangtuaĀ 
Ditambahkan Reviewer Penelitian BNPT, Farhan Muntafa, khusus untuk meningkatkan implementasi kearifan lokal, salah satunya dapat dilakukan dengan mengoptimalkan peran orangtua dan guru ngaji di dalam keluarga. Pola pendidikan pada keluarga merupakan kunci pendapaiannya.

“Khususnya terkait peningkatan pendidikan kebhinekaan, peran orangtua dan guru ngaji memegang kendali. Anak-anak akan mencontoh orangtua dan guru ngajinya tentang bagaimana mereka mengimplementasikan kebhinekaan dalam menciptakan perdamaian,” jelas Farhan.

Survey nasional ini dilaksanakan melalui metode tatap muka langsung dengan 15.360 responden di 32 provinsi, dengan batas usia di atas 17 tahun. Secara nasional margin of error riset ini sebesar 0.79% pada selang kepercayaan 95%. (gusnaldi)