Tak Berkategori  

Bulog Sumbar Ajukan Permintaan Pasokan Seribu Ton Gula

Tommy Despalingga (ist)

PADANG – Bulog Sumatera Barat telah mengajukan permintaan pasokan seribu ton gula untuk kebutuhan selama 1 tahun, setelah terjadi kekosongan stok sejak pertengahan Januari 2020.

“Sebenarnya tidak kosong betul, ada sedikit, tapi tidak untuk didistribusikan ke pasar. Diperuntukkan bagi Rumah Pangan Kita (RPK), yang merupakan program Bulog menjangkau masyarakat lebih luas mendapatkan harga pangan lebih murah,” ujar Kepala Bulog Drive Sumbar, Tommy Despalingga, Rabu (4/3).

Ia menjelaskan kekurangan pasokan gula pasir tidak hanya di Sumatera Barat, tapi juga secara nasional. Salah satunya diakibatkan belum dimulai penggilingan gula pasir yang ada di berbagai daerah di Indonesia seperti di Lampung, Jawa Timur, dan beberapa daerah lainnya.

Untuk mengantisipasi terjadinya kekurangan stok secara nasional, Tommy menyebutkan, pemerintah pusat tengah berupaya mengimpor gula pasir. Hal ini dilakukan karena akan meningkatnya kebutuhan pangan pada jelang Ramadan dan Lebaran nanti. “Kabar baiknya pemerintah pusat melakukan impor gula pasir. Diperkirakan dua pekan lagi pasokan gula pasir akan masuk ke seluruh daerah, termasuk untuk Sumatera Barat,” ujarnya.

Selain itu, petani di Indonesia juga akan memulai penggilingan gula pasir pada April 2020 mendatang. Artinya, jika nanti penggilingan sudah dilakukan, maka kondisi stok gula pasir bakal kembali normal.

Bulog berharap, masyarakat tidak resah adanya kondisi yang terjadi kini soal stok gula yang kosong di gudang, karena sejauh ini dari pantauan di lapangan, gula pasir kemasan masih di dijual di warung kalontong dan juga minimarket.

Pihaknya telah mengajukan permintaan pasokan sebanyak 1.000 ton untuk keperluan selama 1 tahun. Jumlah gula pasir yang diusulkan ke pemerintah pusat untuk itu, akan dipenuhi apabila pasokan gula pasir impor telah masuk ke Indonesia.

Diakuinya, bahwa Bulog tidak berani membeli gula pasir ke pihak swasta. Hal ini dikarenakan akan sulit bagi Bulog menetapkan harga gula pasir kepada masyarakat. Sebab yang namanya membeli ke pihak swasta, harga akan lebih mahal. “Artinya jika dipaksakan juga, Bulog lari dari komitmen, yakni menjual komoditi pangan murah dari pasar. Kalau itu kita lakukan, sama saja Bulog dengan pihak lainnya,” jelas Tommy. (arief)