Butet: Seniman Dipaksa Jadi Superman

Butet Kertaradjasa berbicara di acara Djarum Foundation untuk seni pertunjukan. (arizal)

BALI –┬áSeniman di Tanah Air dipaksa untuk menjadi superman. Buruknya infrastruktur kesenian membuat seniman mesti melakukan segala sesuatunya seorang diri.

Demikian diungkapkan Maestro Seni Pertujukan Indonesia, Butet Kertaradjasa saat menjadi mentoring dalam Workshop Manajemen Produksi Seni Pertunjukan bagi komunitas seni Bali yang dilaksanakan Djarum Foundation, Senin (12/2). Butet menantang seniman muda untuk tak terbelenggu oleh teori berkesenian dan manajemen yang rumit.

Infrastruktur berkesenian di Indonesia diakui Butet menjadi tantangan besar bagi seniman. Namun, tantangan itu menjadi peluang bagi seniman untuk maji dan berkembang.

“Seniman juga mesti mengurusi hal-hal di luar arstistik. Saya terpaksa, saya kepepet, tapi itu melahirkan pengetahuan baru bagi saya. Berkesenian di Indonesia ini berbeda dengan negara lain,” ujar Butet.

Tantangan berkesenian menuntut seniman lebih fleksibel. Butet menekankan agar seniman tak terkurung dalam teori-teori yang didapatkan di kampus. Seniman mesti fleksebel dengan cara-cara praktis dan sederhana dalam menyelesaikan masalah berkesenian.

Hal-hal sederhana dalam berkesenian itu misalnya soal izin. Di Indonesia soal izin saja menurut Butet sangat rumit. Untuk pertujukan mesti punya 13 birokrasi perizinan, mulai dari tingkat RT. Masalah sederhana ini mesti diselesaikan dengan imajinasi karena hal-hal semacam ini kerap tak ada dalam teori.

Ilmu manjerial berkesenian selain dari teori juga sangat penting ilmu manejerial yang didapatkan dari keadaan terpaksa.

Hal penting lainnya dalam seni pertunjukan adalah suport di luar proses kreatif. “Suport itu tak hanya melulu soal uang. Di sini dibutuhkan komunikasi, pendekatan dan kemanusiaan,” ujar Butet.

Workshop Manajemen Produksi Seni Pertunjukan ini merupakan kegiatan tahunan yang dilaksanakan Djarum Foundation. Kegiatan dilaksanakan di empat kota, dimulai di Bali, Malang, Kudus, dan berakhir di Padang Panjang. (arizal)