Tak Berkategori  

Corona dan Paranoid

Khairul Jasmi (ist)

Oleh: Khairul Jasmi

VIRUS corona menghantam dunia. Risau tiada tara, stok makanan ditimbun, berebut membeli di mall, tapi saat membeli tak pakai masker. Di rumah ada stok masker, namun lupa ditarok dimana. Dibeli ke apotek, sudah tak ada.
Masker bukan obat, karena itu tidak masuk bagian yang dipantau pemerintah.

Memborong bahan makanan karena corona adalah paranoid. Saat situasi semacam itu, informasi dari kementerian kesehatan simpang-siur pula. Tak satu tangan, sehingga sampai ke medsos berkembang-biak.
Kambang biak, kambang baratuih.
Informasi sahih, asli, akurat, diterjemahkan sesuai kehendak saja, akhirya salah. Bak kacimpuang pamenan mandi, bak rasian pamenan lalok, senang saja hatinya mengirim-ngirim pesan pertakut.

Padahal, semestinya kita anak bangsa, dalam situasi sekarang, bersama-sama melakukan antisipasi, menjaga kesehatan, bukan menyebar ketakutan yang paranoid, sehingga bukan hanya masker yang habis, tapi berbagai kebutuhan. Untunglah, di Ranah Minang, rakyat tenang-tenang saja, sembari terus waspada.

Corona, jika kata itu dibaca dalam berbagai kiriman WAG, beratus pesan bahkan ribuan akan terbaca. Syukur sejak selasa pagi, masuk pesan-pesan menenangkan. Termasuk dari AJI, agar jurnalis atau wartawan yang meliput berhati-hati.
Tiap individu, bangsa Indonesia, pasti ada sakit di badannya. Sakit luar, sakit dalam, ringan atau berat. Kita malas ke dokter, banyak urusan dan ribet.

Takut kalau ke dokter, nanti ada-ada sakit yang ditemukan. Dalam tubuh yang menyimpan sakit itu, rasa takut akan wabah, memang luar biasa. Rakyat sama-sekali tidaklah salah, sebab tak ada yang akan memelihara diri dan keluarganya selain kepala rumah tangga. Pemerintah urusannya banyak. Ada BPJS, tapi ya begitulah.
Maka corona, menghantam betis ekonomi dunia, nyaris tersungkur. Ini, entah kapan akan pulih. Indonesia yang rentan, bisa remuk dibuatnya, apalagi segala sesuatu di sini dipolitikkan, dibaperkan, dibawa-bawa ke upaya menyalah-nyalahkan bangsa dan pemerintah sendiri.
Padahal, untuk beberapa urusan, ada benarnya.
Biarlah, yang jelas, jika merasa demam, segera saja ke rumah sakit, mana tahu corona. Sekali ini, jangan malas, periksa dulu, setelahnya baru hantam minuman obat yang tumbuh di halaman. Itulah apotek hidup.

Data sampai tulisan ini diturunkan, menunjukkan, korban corono di seluruh dunia yang merisaukan hati, datanya: korban secara global 87.137 kasus. Rinciannya, Cina 79.968 Kasus, meninggal 2.873. Di luar Cina 7.169 Kasus, 104 kematian
virus melayang dan hingga di 58 negara,
Indonesia korban terakhir dengan jumlah orang yang diperiksa 339 dan dua orang positif.
Semoga di Indonesia cukup dua itu saja dan segera pulih. Aaminn. *