Tak Berkategori  

Corona “Jauh” Bukittinggi Diserbu

Khairul Jasmi

BUKITTINGGI – Di sini, Bukittinggi, Sabtu (4/7) siang terasa panjang. Taman Jam Gadang, riang oleh pengunjung. Wisatawan lokal, sekali lagi membuktikan, kamilah pemilik negeri ini, tapi belum tentu uangnya.

Sepasang remaja, yang cewek bermasker, kekasihnya tidak, membidik diri mereka berdua dengan kamera telepon genggam. Selfi. Anak muda pada berpacaran, seperti sedang membangun istana, tak satu tapi banyak.

Beberapa foto amatir memajang reklamenya, foto-foto terbaik di kaki jam tua itu. Penjaja tetengan, berkeliling.
Komplek pertokoan Pasa Ateh ikonik itu, sedang melagak, belum buka, meski sudah diresmikan.

Sesudut lain, gerai KFC di lantai dua, dengan jendela terbuka, muda-mudi sedang menikmati makanan siap saji dari Paman Sam itu.

Etan di sudut lain, warung nasi kapau Uni Lis, yang tersuruk, tak pernah sepi dari pengunjung, apalagi yang di Pasa Lereng.

Toko kupiah, arloji, baju, mukenah, sepatu, sampai toko mas dibuka dan ramai. Pedagang kaki lima, seolah memulai hari, nanti saat senja memanjat malam, mungkin ia akan sampai di rumah. Di rumah yang sama, ia akan merapikan uang kertas hasil penjualan tadi siang.

Seorang ibu, yang sudah agak berumur, membawa delapan minuman jus dingin dalam kantong kresek.

“Nan awih, nan awih,” katanya tak jauh dari kaki Jam Gadang di bawah rindang pepohonan. Yang lain, dengan gaya sama menjual pensi. Penjual balon, kerupuk kuah, mainan anak, membawa jualannya dalam keranjang kecil, menyamar seperti pengunjung.

Sementara itu, urang terus berputar, ekonomi rakyat menggeliat rantai-rantainya bergerak di seantero Sumatera Barat.

“Iko bali karupuak sanjai jo galamai ko, ndak ado di Piaman,” dua gadis yang berkawan, sedang berbincang di toko sanjai Nitta, tatkala para pekerja membawa berkarton-karton kuliner ke toko itu. Kuliner itu, dijual buatan warga sekitar Bukittinggi, di zaman lampau disebut Agam Tuo.

Ini Sabtu saat pagi menyerahkan kunci pada siang, saya sudah sampai di kota ini. Menimbang langkah hendak ke mana: makan nasi kapau.

Tatkala siang terasa amat panjang, saya runduk pada lelah. Sembari bergerak ke Padang, duduk di mobil, saya buka masker. Di kota ini, banyak sekali warga bermasker, seperti walikota yang fotonya bermasker terlihat dimana-mana. Para wisatawan itu, yang sebagian makan nasi bungkus di trotoar itu, memakai masker, sisanya tidak. Yang bermasker, ada dengan cara yang benar, ada yang tidak. Lekat di dagu atau tergayut di leher.

Inilah kota wajib masker itu, yang terdengar lewat pelantang suara dari Jam Gadang.

Bukittinggi, kota pejalan kaki, tapi koridor toko sesak oleh elatase si empunya toko. Dijulur-julurkannya juga keluar. Di luar, bagian ke anak tangga, sudah ada PKL, jadilah space pejalan kaki, sempit. Apalagi kalau motor diparkir di trotoar.

Begitulah, dua hari sebelum ini, saya juga ke sini, kala malam sempurna membungkus kota. Rumah makan ramai oleh para pelintas. Saya juga ke Payakumbuh, setali tiga uang. Pedagang makanan malam, ramai, gerobaknya berjejer-jejer di tepi jalan. Toko HP ramai.

Jika di kota manapun orang mulai gandrung bersepada, di Payakumbuh, masih belum. Padahal, inilah kota di Indonesia yang pada zamannya, memiliki sepeda terbanyak. Warga kontemporer lupa romantisme kotanya yang bernama Payakumbuh itu.

Saya melaju di jalan menuju Padang Panjang. Lalulintas ramai, truk-truk lalu-lalang, terselip city car, dengan sabuk pengaman dibungkus kain bludru warna-warni. Bapak-bapaknya banyak bercelana pendek.

Inilah Sabtu, ketika corona dianggap sudah kian menjauh, warga berangkat raun-raun: untuk mata, jiwa dan selera.

Hari Sabtu, corona “jauh” Bukittinggi diserbu, sebab ada uang di saku. Itu lo nan katuju he he. (*)