oleh

Cukai Rokok Naik, Jumlah Perokok Pemula Diharap Berkurang

JAKARTA – Mulai 1 Januari 2020, pemerintah resmi menaikkan cukai rokok dan harga jual eceran rokok. Untuk sisi kesehatan, banyak keuntungan yang didapatkan dari cukai rokok naik.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menetapkan, cukai rokok naik hingga 23 persen. Juga dengan harga jual eceran rokok, ikut dinaikkan hingga 35 persen.

Kementerian Kesehatan mengapresiai upaya Kementerian Keuangan, karena telah sepakat menaikkan harga rokok ini. Kebijakan ini bahkan sangat dinantikan stakeholder bidang kesehatan sejak lama.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Anung Sugihantono menyatakan, munculnya kebijakan ini menjadi salah satu bagian dari mengurangi jumlah perokok pemula dan perokok dari kalangan miskin. Upaya ini harus didukung penuh, agar masyarakat mengurangi belanja rokok setiap hari.

“Intinya bahwa kenaikan cukai rokok dan kenaikan harga eceran rokok ini tidak jadi satu-satunya cara. Tapi secara teoritis dan empiris, dianggap dapat mengurangi belanja seseorang terhadap rokok,” ujar Anung di Gedung Kemenkes, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (17/9).

Berdasarkan data riset terakhir, perokok pemula jumlahnya naik menjadi 9,2 persen dari 7,1 persen. Bahkan riset dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, anggaran belanja rokok untuk kelompok miskin itu peringkat dua.

Selain upaya tersebut, tambah Anung, ada juga beberapa aspek yang dapat membuat seseorang berhenti merokok. Seperti membatasi seseorang agar tidak mudah mendapat rokok, edukasi secara utuh terkait bahaya rokok, serta pengawasan norma masyarakat yang merokok di tempat umum.

Orang yang terbiasa merokok sangat memicu beberapa jenis kesakitan medis. Misalnya stroke, hipertensi, stroke, hingga stunting. Bahkan penyakit tidak menular tersebut mengabiskan dana besar BPJS Kesehatan. “Tapi ini dampaknya dalam jangka panjang. Kami tetap bersikap bahwa cukai rokok naik jadi upaya meminimalisir dampak lainnya,” ucapnya dikutip dari okezone. (aci)

Loading...

Berita Terkait