oleh

Di Honolulu, Saya Bertambah Muda Sehari (Jalan-jalan ke Amerika-2)

Keindahan Hawaii (khairul jasmi)
Keindahan Hawaii (khairul jasmi)

HAWAII – Saya di Honolulu, Hawaii sekarang. Sejak berangkat Senin (6/4) sudah dilewati siang dan malam, sesampai di sini malah masih Senin (6/4), padahal di Padang, sudah Selasa (7/4). Tanpa sadar saya kabari istri, “mendarat di Honolulu.” Tentu saja tak ada jawaban, sebab di kota kita ini masih pukul 03.00 dinihari. He he he, bertambah muda saya sehari.

Hawaii memang aduhai. Ibukotanya Honolulu, tertata rapi, lalu lintasnya tentu saja tidak kusut masai. Mobil-mobil setir kiri melaju tertib tanpa tat tit tut, seolah-olah kabel klaksonnya putus.

Dari bandara kami diarak oleh orang travel ke hotel, tapi singgah di sana sini. Hal pertama yang amat membuat saya bertanya-tanya, mengapa keras benar hati orang datang ke sini, kan ada obyek wisata lain di dunia, seperti Bali. Ternyata orang datang bukan karena obyek semata, melainkan kedamaian hati.

Maka damailah hati saya di sini. Sejuk, nyaman, tenteram. Suasana itu terasa tatkala kami mendarat di Bandara International Honolulu Senin (6/4) sekitar pukul 08 pagi.

Ketika turun, pilot Japan Airlines melambai tak henti-hentinya, dari kokpit ia melakukan hal itu sampai semua penumpang turun. Mungkin karena ini penerbangan jarak jauh, jadi perlu dilambai. Di imigrasi pemeriksaan tidak ribet, sehingga wisatawan cepat bisa berkumpul di lobi kedatangan.

Setelah sebentar berkeliling kota, ke pintu angin di bukit Nu’uanu Pali, pantai Waikiki tempat bule berlibur dan bersenda gurau. Lalu ke makam pahlawan Perang Dunia II. Tak lama kemudian saya dan rombongan santap siang di Buca, restoran Itali.

Tak ada nasi, tapi saya kenyang. Berselang kemudian kami ke hotel Sheraton Waikiki, tapi proses chek in lama sekali, karena datang agak kepagian. Hotel ini terletak di bibir pantai. Hotel yang ramai oleh wisatawan.

Tapi Hawaii memang aduhai. Ibukota ini terletak di Pulau Oahu yang waktu saya datang, angin bertiup kencang. Bagi saya yang menarik adalah rumah-rumah penduduk yang sebagian terbuat dari kayu. Sederhana. Rumah itu tersusun rapi di pinggang-pinggang bukit.

Pantai Waikiki
Saya diberi kamar yang lega, di lantai 24 hotel Sheraton Waikiki. Dari Balkon kamar 2436 saya memandang jauh ke bawah. Tak panjang benar, tapi orang sini pandai menjualnya. Semacam teluk kecil, tempat camar berhenti terbang. Di sini bukan camar, tapi orang yang berhenti dari rutinitas yang menyesakkan dada.

Ketika saya duduk di Balkon, tiba-tiba hinggap seekor merpati. Benar kata orang, jinak-jinak permati, makan di tangan. Saya sentuh, burung ini diam saja. Lalu kemudian ia menukik seperti menggergaji angin.

Pantai ini lindang oleh turis yang berselancar, berenang, berlari-lari, berjemur matahari. Ombak Samudera Pasifik ini, sama saja dengan ombak Samudera Hindia yang menghempas-hempas di Pantai Padang. Cuma ini, tak hempasnya yang sekuat di Padang.

Pantai ini seperti halaman depan rumah para turis. Senyatanya, memang menjadi halaman depan sejumlah hotel bintang lima, satu di antaranya hotel tempat saya dan rombongan menginap.

Masih dari balkon kamar hotel ini, terlihat dengan jelas di bawah sejumlah kolam renang yang ramai oleh turis yang mandi-mandi. Beberapa di antaranya sedang berbulan madu. Ada payung-payung berwarna merah, tapi bukan tenda eper seperti di kota kita.

Jujur saya membayangkan berada pada sebuah balkon kamar hotel di Bukit Gunung Padang, kok bisa mirip ya? Bangunlah hotel di sana kalau tak percaya, bahkan akan lebih indah dari hotel di Hawaii ini. Nah cobalah buat agak satu di sana kalau tak percaya. Mungkin Pak Walikota Padang sudah punya rencana.

Di sini sudah pukul 18.00 Senin atau pukul 11.00 WIB Selasa, tapi langit terang seperti baru saja siang. Sinar matahari yang melimpah itu, menjadi hadiah bagi pelancong. Apalagi Suhu sekitar 20 derajat Celsius, angin sepoi, maka lengkaplah nikmat sebuah wisata yang mahal itu.

Saya harus pergi makan malam, pintu kamar ditutup, kalung bunga yang disorongkan ke leher saat baru datang tadi, saya gayutkan di sandaran kursi. Berapalah harga bunga itu, tapi saya bangga dikalungi bunga dengan sikap takzim oleh orang Hawaii. Kita juga bisa membuat orang luar bangga, tapi kita malah sering menyengkelkan. Ah, selalu saja suka menjelek-jelekkan kampung sendiri, ciri-ciri orang Indonesia. Ya sudahlah.

Ya egp alias emang gue pikirin, yang jelas saya sudah berada di Roy’s kafe, mencicipi makanan ala Hawaii, lokasi kafe hanya terpaut beberapa meter dari hotel saya.

Kafe ini penuh, tempat-tempat sudah dipesan. Inilah gaya Hawaii yang banyak duit karena wisatawan. Menurut catatan setidaknya 20 jutaan turis datang ke sini setiap tahun, atau sekitar 4 kali lipat kunjungan ke Bali. Karena itu jangan heran, tiap sebentar pesawat mendarat di bandara kota Honolulu.

Indonesia dengan Balinya berusaha menyusul kunjungan wisata Hawaii yang tinggi itu. Semoga saja bisa, sebab Hawaii yang bagai apuang-apuang tengah di samudera, bisa dikunjungi puluhan juta orang per tahun, apalagi Indonesia. (khairul jasmi)

Loading...

Berita Terkait