Tak Berkategori  

Di Sebuah Meja Berkaki Dua

Khairul Jasmi.(ist)

Sejak diajak kawannya ngopi pada sebuah mall sebesar kampung , dia tak melihat matahari lagi. Sudah 4 jam berlalu sampai sekarang, dua piring ubi goreng sudah dihabiskannya. Ia lapar, mau makan nasi, tapi yang datang justru hidangan yang ia tak tahu namanya.

“Saya lapar,” pesan WA nya pada sang istri di sebuah kota kecil berjarak 1.000 Km lebih dari tempatnya sekarang.
“Pesanlah nasi,” jawab sang istri agak lambat, karena sedang menyuapi si kecil.

“Tak ada di sini.”
“Makan saja apa yang dimakan kawan itu.”
“Sudah, tadi ubi rebus, sekarang daging sapi pakai merica dan sambal di botol itu, tak enak.”
“Bagus itu daging, kapan lagi,” jawab istrinya.

Di sini di meja berkaki dua dari besi dengan empat kursi ini, ia duduk bersama dua temannya. Juga seorang pria parlente. Dia lebih banyak diam, sebab pembicaraan soal proyek, politik dan uang komisi urusan perusahaan gas 3 kg yang sudah sukses mereka urus.

Pertama kali ia ke kota paling besar di negaranya. Pertama masuk mall yang besarnya minta ampun. Ia saksikan orang datang dan pergi. Tak bekerja, hanya ngobrol. Perempuan-perempuan cantik berpakaian ringkas. Putih-putih. Mulus. Memainkan hape. Memakai rok pendek, kadang perutnya tersingkap. Terbang-terbang darahnya melihat pemandangan demikian. Di rumah, ia jarang melihat perut istrinya, di sini tiap sebentar.

Pembicaraan di meja berkaki dua dari besi ini terus berlanjut. Dia heran saja kenapa meja hanya berkaki dua. Dia lihat ke bawah, rupanya kaki itu diberi lagi jangkar empat. Ia ingin ada meja seperti ini di rumahnya, jika komisi gas 3 kg ini sudah ia terima. Ia ingin membelu gelas dengan tadah putih seperti ini pula. Kalau bisa agak empat buah.

Ia juga mau membeli tas tangan seperti milik pria parlente di depannya. Ia ingin juga hape bagus, pengganti miliknya yang layarnya sudah retak.
“Jadi ini ada enam izin ya, dua untuk yang punya satu untuk kita. Nanti kita jual, sedang nego. Mati di angka 500 juta,” kata pria parlente.

Dia hampir terlonjak dari kursi. Kalau Rp 500 juta, dia tentu dapat minimal seperlima.
“Kapan jadinya pulang?” Pesan WA istrinya masuk.
“Selesaikan ini dulu, untuk rezeki tak boleh tergesa-gesa.”
“Rezeki takkan kemana, tapi kalau dapat syukur ya.”

“Mau dibelikan apa?”
Nun di sana. Di rumah kecilnya di tepi desa, istrinya juga hampir terlonjak dari duduknya
Sudah tiga anak mereka, inilah untuk pertama kali, ia ditanya suaminya.
“Apa saja kalau ada uang, tapi jangan yang mahal, jangan banyak, satu saja, lebih baik beli papan dan seng, untuk perbaiki rumah kita,” jawab sang istri.

Rumah di tepi desa itu, beratap tungkus nasi. Satu kamar dan satu ruang tengah. Satu dapur yang lebih rendah. Pintu utama berdaun satu, diberi jerajak rendah untuk menghalangi anak balitanya terjatuh. Di dapur ada kompor gas jatah dari pemerintah dan gas 3 kg. Ada 3 periuk, 1 kuali, cerek dan perkakas dapur lainnya. Di sana ada sebuah kaleng roti. Setiap akan bertanak, sang istri ambil segenggam beras, lalu dimasukkan ke kaleng tersebut. Gunanya, jika ada musafir lewat, beras itu akan diberikan, atau untuk yang membutuhkan.

Di halaman ada sebuah sangkar ayam. Mereka memiliki beberapa ekor ayam, yang diberi makan dengan nasi sisa. Ayam itu saban hari bertelur, lalu telurnya dijual.

Haha ini mimpi seorang pria yang kalah pilkada. Bukan dia yang kalah tapi bosnya. Dia hanya anggota timses yang gagal. (*)