Tak Berkategori  

Di Tanah Haram, Semua Dibayar Kontan oleh Tuhan

Jemaah dari seluruh dunia kian memadati Makkah. Beginilah suasana di halaman Masjidil Haram (kj)
Jemaah dari seluruh dunia kian memadati Makkah. Beginilah suasana di halaman Masjidil Haram (kj)

Laporan Khairul Jasmi dari Tanah Suci

Selasa 7 Agustus dan Kamis 9 Agustus 2018 di Makkah Almukarramah, saya mengalami beberapa peristiwa batin. Pertama bertengkar dengan sopir taksi. Kedua menerima pertolongan-pertolongan kecil tapi amat berarti.

Ini kisahnya:

Selasa sehabis Asar, saya dan istri hendak kembali ke hotel. Mau naik taksi di depan Masjidil Haram. Ini jam-jam ongkos membubung dari  10 atau 15 riyal ke 30 riyal. Kawan satu hotel dan istrinya juga menunggu taksi. Kami sepakat saja naik taksi saja. Dia menawar dikasih tarif 30 riyal. Saya tawar taksi lain, 20 riyal. Saat mau buka pintu, sang sopir membatalkan saja. Sekira 10 menit kemudian sebuah taksi lain mendekat. Saya pun mendekat. Sopir bertanya dan saya jawab 15 riyal. Dia oke dan saya pun oke. Kami naik berempat.

Menjelang sampai kawan tadi memberi saya 15 riyal. Saya duduk di depan. Sopir mengamuk melihat uang itu. Ia berkata 100 riyal. Tentu saja tak mau. Kami bertengkar hebat. Saya dan dia. Karena istri saya sudah tak mau lama-lama di taksi, maka saya bayar saja 40 riyal. Hitung-hitung kami berempat memakai masing-masing satu taksi. Ongkos bisa turun kerena saya ancam lapor polisi. Pertengkaran antara jemaah dan sopir taksi itu, terjadi tiap hari. Sopir mengubah tarif sebelum turun. Kawan-kawan saya ada yang diturun di jalan karena tidak mau menuruti kehendak sopir.

Apapun, biarlah. Saya tak peduli apa maknanya bagi sang sopir setelah itu. Bagi saya ada: inilah bukti sok hebat, sok terkenal, sok wartawan, sok apalagilah namanya ke batunya. Dibayar kontan oleh Tuhan. Pada akhirnya bagi saya itu adalah nikmat.

Kamis menjelang Zuhur, saya naik angkot bersama jemaah dari Jawa ke Masjidil Haram. Kenapa angkot? Pertama saya malas atau trauma, kedua di depan hotel taksi diusir polisi. Sudah dua kali saya naik angkot, murah, lokasi turun sama, AC sama dan cepat sampainya sama. Masing-masing kena 2 riyal. Saat saya akan melangkah pergi, sopir memanggil saya lagi. “Uang Anda berlebih 2 riyal,” katanya. Ia kembalikan. Sejak saya di Saudi Arabia ini, berkali-kali saya salah bayar dan dikembalikan. Kebalikan dari kejadian dua hari sebelumnya.

Seusai Zuhur saya pergi ngopi dulu. Ketemu pensiunan PLN Jakarta. Sehabis ngopi, “bawa sajalah Pak, saya masih punya banyak,” katanya pada saya. Saya bawa bènda itu.

Sehabi Azar saya Tawaf. Sehabis satu keliling tiba-tiba warga Asia Selatan, entah India atau Bangladesh mengawal saya dari desakan-desakan jemaah lain. Ia pegang terus bahu saya dan benar-benar aman. Kami membaca doa yang sama sempai empat kali Tawaf. Setelah itu kami dipisahkan kerumunan yang kian padat. Saya sudah memikirkan jika terus di lantai Ka’bah ini akan semakin lama selesainya. Maka begitu melihat tangga saya pindah ke lantai dua. Ternyata padat juga.

Saya sudah dahaga, air dalam tas saya minum. Tak lama ketemu zamzam dan saya ambil segelas. Masih dahaga.

Tawaf selesai dan saya shalat sunat. Payah cari tempat. Lama kemudian dapat. Karena langsung Shalat Sunat Tawaf, lupa mengambil sajadah. Persis mau sujud, melompat saja sajadah ke lantai tempat saya sujud dari sebelah. Rupanya jemaah dari Jawa Tengah yang baik hati. Tak lama kemudian orang dari bangsa lain shalat di sisi saya. Tanpa sajadah di marmer itu. Saat dia akan sujud saya bagi sajadah dengan dia. Saya dan kawan kanan kiri dan depan saling bersalaman sehabis Magrib. Bubar.

Saya kian dahaga pintu keluar belum juga bertemu. Di tengah orang ramai ada anak muda membagi-bagi teh hangat. Tiba giliran habis. Ia cepat membalikkan badan, mengambil teko baru nan penuh. Maka saya dapat jatah pertama teh hangat nan nikmat. Segelas penuh. Saking enaknya terdengar suara saya menghela menikmati teguk demi teguk.

Orang-orang berbuat baik pada saya meski kecil tapi nikmat. Dengan rasa nikmat itu saya terus melangkah keluar Masjidil Haram. Di tiang terakhir pintu masjid saya melihat kacamata digayutkan pada paku. Saya pastikan, ini sudah berhari-hari ada di sana. Saya sudah dua kali melihat. Tak ada yang mengambil. Saya foto dan disebar.

Pulang jalan kaki dan di tengah jalan jemaah pria tinggi besar sepertinya dari Afganistan atau Turki, tersesat. Ia memperlihatkan kartu hotelnya. Segera saya buka google map namun karena di sana ada pedagang warga Arab maka saya minta tolong padanya. Maka si bapak pun pergi sesuai arahan warga setempat.

Dibayar tunai

Kita semua pernah mendapat cerita, di Tanah Haram, semua dibayar tunai. Urusan saya dengan sopir taksi, saya bisa menebak bayaran apa yang saya terima. Kebaikan-kebaikan orang pada saya, tak tahu apa yang dibayar, yang pasti itu adalah rahmat Allah. Syukur alhamdulillah.

Dan saya pun terus melangkah ke hotel sambil membaca Barjanzi. Pakai teks he he he…

Sehari Kamis saya menerima banyak pertolongan-pertolongan kecil namun berarti bagi saya. Shalat pun mendapat tempat yang nyaman. Jika saya ditegur karena ada salah, dilakukan dengan senyum. Ini terjadi kala saya menaruh tas di rak Alquran yang kosong. Meski kosong, menurut jemaah dari Afrika itu, tidak baik. Waktu menaruh saya sudah mendua juga.

Pasti jemaah lain banyak mengalami peristiwa “bayar kontan” itu. Jangan jadikan rahasia, ceritakan saja pada orang agar tak jadi beban atau dinikmati sendiri. Tak ada malu, gengsi dan sebagainya.

Di sini, jutaan orang memadati kota yang luasnya 1.200 Km persegi itu. Memadati Masjidil Haram. Juga mall apalagi Zamzam Tower. Semua datang ingin melepaskan segala beban dan hampir semua kena batuk.

Semoga jemaah dunia 2018 jadi haji mabrur semua. Amiin. (bersambung)