Tak Berkategori  

Dilema Pertunjukan Seni Kala Pandemi, Ery Mefri : Corona Belum Akan Pergi, Mulailah Sesuaikan Diri

Koreografer Ery Meferi. (*)

PADANG – Beberapa pekerjaan masyarakat terhenti karena Corona. Beberapa kegiatan terpaksa harus ditunda pelaksanaannya. Pertunjukan seni juga terkena imbas. Karena aturan membuat masyakat harus menghindari kerumunan. Apalagi pertunjukan seni secara langsung pastinya menciptakan keramaian dengan hadirnya penonton.

Di Padang, salah satu kelompok seni yang rutin mengadakan acara adalah Nan Jombang Group. Setiap bulan, sebelum Corona, pihak tersebut mengadakan pertunjukan seni tradisi bertajuk “Festival Nan Jombang Tanggal 3” (FNJT3). Akibat Corona, festival terpaksa dihentikan.

Ery Mefri, Pimpinan Nan Jombang Group yang ditemui Singgalang, Kamis (11/6), membenarkan hal itu. Pandemi membuatnya patuh untuk tidak membuat pagelaran seni tradisi yang rutin diselenggarakan tiap tanggal 3 setiap bulannya.

“Sejak Maret festival (FNJT3) dihentikan. Mengingat kondisi pandemi,” katanya.

Namun menurutnya, adanya aturan untuk tidak berkerumun bukan berarti proses berkarya juga terhenti. Malah, masa-masa ini menciptakan waktu yang lebih banyak untuk berkarya.

Ia mengatakan, sudah ada satu setengah karya tari yang ia ciptakan di masa pandemi ini. Salah satunya digarap bersama Garin Nugroho, sebuah pertunjukan seni langsung di panggung. Karya yang berjudul “Di Atas Sajadah”.

Tentang pertujukan seni langsung ini memang disiapkan oleh Ery, yang ketika kondisi sudah normal, maka pertunjukan seni juga akan dilaksanakan lagi.

“Setidaknya di awal tahun, kita akan kembali menampilkan pertunjukan seni langsung, dengan adanya penonton,” katanya

Hal ini kata Ery karena menurutnya Corona yang sekarang mewabah adalah tamu. Namun tamu ini, atau wabah ini, tidak akan pergi. Kita akan berteman dengannya. Seperti halnya flu, kolera, dan wabah lain yang pernah ada. Makanya, perlu sosialisasi yang kuat dari pemerintah, agar masyarakat bisa kembali berkehidupan seperti biasanya. Dengan mengikuti aturan atau tata cara yang membuat diri terlindung dari serangan Corona.

“Sosialisasi yang penting. Corona adalah tamu yang tidak akan pergi, virus ini akan ada dalam kehidupan manusia saat ini. Yang perlu adalah disiplin dan taat agar bagaimana terlindung dari tularannya,” kata Ery.

Menurutnya, sejumlah penyakit yang telah muncul dari dulu, sampai sekarang pun tetap ada, tinggal bagaimana memperbaiki cara hidup dan mengantisipasi agar terhindar dari Corona.

Kemudian dia juga mengatakan, adanya virus Corona bukan berarti menghentikan pertunjukan seni langsung, dan kemudian mengadang-gadangkan pertunjukan secara virtual.

“Corona datang dan tidak akan pernah pergi. Pertunjukan seni secara lansung dengan penonton harus tetap ada, dan memang akan terus ada. Bukan berarti karena Corona, pertunjukan seni dibatasi, atau dihilangkan. Sekarang, kita harus menyesuaikan diri dengan penyakit. Bukan menghilangkan tradisi. Ibarat pemeran yang memang harus dikunjungi, bukan hanya lewat virtual,” pungkasnya.

Apalagi pertunjukan tari menurutnya tidak bisa divirtualkan. Karena pasti akan mengurangi keaslian dibanding penonton menyaksikan langsung sebuah pertunjukan. Tari yang virtual sama halnya dengan film, dan ranah film ini sudah merupakan ladang pembuat video, sedangkan para seniman juga punya ladang sendiri, yaitu pertunjukan dan panggungnya, yang bisa memberi daya tarik tersendiri. (Wahyu)