oleh

Dipercaya karena Terbukti Bekerja

 

Mulyadi. (*)
Mulyadi. (*)

SARILAMAK – Tidak gampang bagi Syawal (55) dan ratusan masyarakat Jorong Batu Bawuak, Nagari Sungai Rimbang, Kecamatan Suliki, Limapuluh Kota, melupakan nama seorang Mulyadi, wakil rakyat yang kini duduk di Komisi VII DPR.

Lewat tangan dingin anggota DPR-RI dua periode itu, kampung yang sejak 2001 tak pernah lagi dimasuki kendaraan roda empat, karena jembatan gantung kayu di kawasan Pondom (akses satu-satunya menuju pusat Jorong Batu Bawuak,-red) ambruk dihan­tam air bah, kembali dibangun pemerintah pada 2013.

Pembangunan ulang jembatan Pondom, Batu Bawuak, Sungai Rimbang ini, tuntas Desember 2013 menggunakan anggaran Program Pembangu­nan Infrastruktur Pedesaan (PPIP), salah satu program prorakyat. Satu paket PPIP, dianggarkan di APBN senilai Rp250 juta.

Menurut Wendi Chandra Dt Marajo, Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Sungai Rimbang, yang juga anggota DPRD Limapuluh Kota dari Fraksi Demokrat dua periode (2009-2019), pembangunan jembatan semi permanen melalui PPIP, berhasil men­dongkrak partisipasi masyarakat.

“Anggaran Rp250 juta yang diperjuangkan Mulyadi di DPR ditambah swadaya masyarakat, menjadi Rp450 juta. Sehingga, di tahun itu (2013), dibangun jembatan semi permanen dengan panjang 26 meter dan lebar 3,5 meter,” sebut Wendi, Minggu (17/5) di Sungai Rimbang.

Pembangunan jembatan Batu Bawuak, dianggap paling fenomenal dan dikenang sepanjang masa oleh warga sekitar. Sulit warga sekitar untuk melupakan sosok Mulyadi

Diakui Wendi, selain di Batu Bawuak, hampir seluruh nagari di Kecamatan Suliki plus dua kecamatan lain di daerah pemilihannya masing-masing Gunuang Omeh dan Bukit Barisan, mendapatkan jatah proyek PPIP mencapai 21 paket. Jika diuangkan, anggarannya Rp2,75 miliar.

Catatan Dinas PU setempat plus DPC Demokrat Limapuluh Kota, sejak 2011 hingga 2014, total jumlah proyek PPIP di kabupaten yang merupakan daerah perbatasan Sumbar-Riau tersebut mencapai 400 titik. Program PPIP, tambah Wendi, sangat membantu rakyat.

Selain di Batu Bawuak, proyek PPIP yang tak kalah suksesnya, dirasakan warga Jorong Botuang, Nagari Kurai. Di sini, sepanjang 1,4 kilometer akses jalan yang semula bak kubangan kerbau, mulus lancar setelah dirabat beton menggunakan anggaran PPIP.

Begitu juga di Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Lareh Sago Halaban serta Luhak. “Di Kecamatan Lareh Sago Halaban, proyek PPIP sejak 2011-2014, benar-benar dirasakan dampaknya oleh masyarakat.

“Kami bangga punya seorang bapak Mulyadi. Wakil rakyat yang peduli pembangunan,” ucap Sastri Andiko, Wakil Ketua DPRD Limapu­luh Kota.

Tidak hanya di dua dapil tersebut, proyek PPIP juga sukses besar di Kecamatan Harau, Guguak, Mungka, Akabiluru, Payakumbuh, Pang­kalan serta Kapur IX. “Kami berharap, bapak Mulyadi bisa maju menjadi Gubernur Sumbar,” pinta Narijon, warga Harau, Limapuluh Kota, terpisah.

Menurut masyarakat akar rumput, kakok tangan Mulyadi selama di Komisi V DPR hingga sekarang di Komisi VII DPR, sudah tak diragu­kan lagi. “Kalau bukan pak Mulyadi yang memperjuangkan tambahan anggaran proyek Kelok Sembilan, mungkin Fly Over tak tuntas sampai sekarang,” sebut seorang perantau Limapuluh Kota di Pekan­baru.

Diakui warga, suka atau tidak, Mulyadi sudah berbuat besar demi kemajuan Sumbar. “Saatnya beliau menjadi gubernur. Ambo yakin, kalau Pak Mulyadi maju jadi calon gubernur, indak ragu kito mamiliahnyo do. Beliau urang jaleh. Tabukti bakarajo untuak Sumbar,” tutur Amir, warga Mungka, Limapuluh Kota.

Dalam kapasitasnya sebagai Wakil Ketua Komisi V DPR pada periode 2009-2014, banyak benar usaha Mulyadi untuk ‘mengalirkan’ dana pusat ke daerah pemilihannya, termasuk Limapuluh Kota. Salah satunya adalah PPIP dengan leading sektornya Kementerian Peker­jaan Umum. Kementerian ini, termasuk mitra kerja Komisi V DPR. Sejak 2011 hingga 2014, di Limapuluh Kota setidaknya diluncurkan sebanyak 257 paket PPIP. Rinciannya 2010 sebanyak 12 paket, 2011 (38), 2012 (57), 2013 (125) dan 2014 sebanyak 25 paket. Belum lagi program prorakyat lainnya. (bayu/effendi)

Loading...

Berita Terkait