Tak Berkategori  

Disiplin, Kunci Sekolah Tatap Muka di Masa Pandemi

FGD dengan topik "Mencegah Klaster Baru di Sekolah" yang digelar Harian Singgalang bekerjasama dengan Satgas Covid-19-BNPB, Jumat (27/11). (ist)

PADANG – Sebagian siswa sudah mengeluh dan jenuh mengikuti pembelajaran daring dari rumah. Mereka merindukan sekolah, merindukan proses belajar mengajar (PBM) langsung, bertemu sesama siswa, dan bertemu guru.

Sebagian orangtua /walimurid juga mengeluhkan hal yang serupa. Mereka sudah tak punya cukup daya untuk menjadi ‘guru’ di rumah bagi anak masing-masing.

Selama 9 bulan lamanya, pandemi Covid 19 telah membuat sekolah-sekolah kosong. PBM dialihkan di rumah dengan pengawasan orangtua. Para guru menemui siswa dan mentransfer ilmu dalam wujud digital melalui melalui internet secara daring. Sembilan bulan waktu yang tak sebentar.

“Banyak sekali orangtua siswa yang mengeluh, mereka takut anak mereka jadi ‘lost generation’ karena terlalu lama tidak belajar dengan normal di sekolah. Di lain sisi mereka takut anak mereka tidak benar-benar menguasai ilmu yang diajarkan secara daring itu,” ujar Dewan Pendidikan Sumbar, Sukri Umar, Jumat (27/11).

Maka kabar keputusan “yang disampaikan Menteri Nadiem Makarim tentang boleh dimulainya belajar tatap muka di sekolah-sekolah mulai Januari 2021 menjadi kabar gembira. “Ini benar-benar kabar gembira. Terutama untuk siswa dan orangtua yang mengeluh dan merasakan kejenuhan serta ketakutan tadi. Tapi jangan sampai kabar gembira ini nantinya malah berujung petaka,” ujar Sukri.

Faktanya memang pandemi belum berakhir, virus corona masih mengintai dan berada dimana-mana. Sukri mengatakan agar sekolah tatap muka tidak menjadi klaster baru penyebaran covid 19 maka penerapan protokoler kesehatan yang optimal adalah harga mati. Perlu ada strandar operasional prosedur (SOP) yang jelas, terstruktur, mengatur berbagai hal dan benar-benar efektif dilaksanakan demi mencegah petaka tersebut tidak terjadi. “Namun diantaranya segala SOP dan protokoler kesehatan itu, hal utama yang harus diperhatikan adalah siswa itu sendiri. Yakni kesadaran dan pemahaman siswa,” ujarnya.

Menurut Syukri sebaik apapun SOP dibuat, sedetail apapun prtokoler kesehatan diatur, jika siswa tidak memiliki kesadaran dan pemahaman tentang bahaya pandemi Covid 19 maka potensi penyebaran covid 19 masih sangat menghantui. “Untuk sekolah tatap muka yang aman, kuncinya ada pada siswa. Siswalah yang menjadi fokus utama,” tegasnya.

Dia menilai perlunya pemberian pemahaman untuk siswa oleh para guru, kepala sekolah dan terutama para orangtua. “Tegaskan bahwa sekolah dimulai tatap muka bukan berarti keadaan sudah aman. Pandemi belum berakhir, virus corona masih ada. Itu harus ditanamkan dan ditegaskan pada siswa,” paparnya.

Susah disiplin

Hal serupa disampaikan Pakar Epidemiologi, Defriman Djafri. Untuk pandemi, menurut Defriman, hal terberat adalah menanamkan pemahaman dan kesadaran masyarakat atau penduduk.

“Dikarenakan pandemi menyakut pada banyak orang, apalagi penyakit menular, maka menanamkan pemahaman pada orang yang banyak inilah yang paling susah,” ujarnya.

Apalagi, lanjut dia, untuk kategori anak-anak. Sedangkan pada orang dewasa saja susah untuk

“Untuk itulah, jangan sampai hal ini menjadi sesuatu dikesampingkan. Menanamkan pemahaman dan kesadaran pada siswa adalah hal yang paling utama harus dilakukan,” tegas Defriman.

Dia menyarakan pada pemerintah dan sekolah-sekolah, untuk memastikan adanya sosialisasi atau masa orientasi untuk siswa yang mengikuti sekolah atau PBM tatap muka.

Dalam masa orientasi itu, lanjut Defriman, pastikan siswa memiliki kesadaran bahwa pandemi Covid 19 belum berakhir, corona masih ada dan bisa membuat mereka atau keluarga mereka jatuh sakit.

“Jika mereka sudah paham hal ini maka mereka akan lebih disiplin untuk menjaga diri sendiri selama di sekolah. Selain lebih patuh untuk pakai masker, cuci tangan dan jaga jarak dari teman-temannya” ujar Defriman.

Tanpa kesadaran dan pehamanan ini, menurutnya, siswa bisa saja tidak benar-benar patuh protokoler kesehatan. Bisa saja ketika tidak ada guru, mereka melepas masker dan ngobrol dekat-dekat dengan sesama siswa.

“Ini benar-benar harus diperhatikan. Fakta saja sudah memperlihatkan bagaimana banyaknya orang dewasa yang malas masalan pakai masker. apalagi mencuci tangan dan jaga jarak,” ujarnya.

Memberikan pemahaman pada siswa pun menurut dia memiliki tingkat kesulitan beragam. Misalnya untuk membuat siswa SD SD dan SMP patuh terkadang lebih sulit dari siswa SMA atau SMK. Atau bisa pula sebaliknya.

Namun, lanjut dia tetap saja perlu ada standar operasional prosedur (SOP) yang detail untuk melindungi siswa, guru dan staf dari penularan covid 19 selama PBM tatap muka. Selain tetap perlu ada pengawasan yang optimal untuk menerapkan SOP tersebut.

“Terutama perhatikan agar siswa tidak tetap melakukan kebiasaan yang dilakukan sebelum ada pandemi, seperti bersalaman dan saling pinjam meminjam alat tulis. Lebih baik pula untuk diminta membawa bekal makanan dari rumah,” tegasnya.

Suindra dari Dinas Pendidikan Sumbar mengatakan sejauh ini mereka telah menyiapkan SOP untuk sekolah tatap muka yang akan dimulai Januari mendatang. Terutama kewajiban memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. “Terutama pula di satu kelas hanya boleh diisi setengah dari kapasitas normal. Yakni dari 36 siswa, hanya 18 yang ikut PBM tatap muka,” tegasnya.

Namun, dia mengatakan masih akan menerima pendapat dari berbagai pihak untuk mempertimbangkan tambahan SOP. Dinas berkoorndinasi dengan Dinas Pendidikan di kabupaten kota, kepala sekolah-kepala sekolah (MKKS-musyawarah kerja kepala sekolah), perwakilan komite sekolah dan perwakilan orangtua/walimurid. “Tentu kita bersama-sama harus memastikan sekolah sehat dan sekolah aman,” ujarnya. (401)