Tak Berkategori  

Dua Kakek dari Afganistan di Masjid Nabawi

Laporan Khairul Jasmi dari Medinah

PADA Sabtu (21/7) subuh yang seperti siang, di Masjid Nabawi, Medinah, dua kakek dari Afganistan menyita perhatian saya. Pada awalnya seorang dari mereka Salat Subuh di sebelah kiri saya.

Saat bangkit dari sujud, kakek ini amat kesulitan, kakinya sakit. Susah ia bangkit, lama. Duduk di antara dua sujud, ia bersitumpu di lantai.
Tatkala salat selesai, kakek meluruskan kakinya ke depan dan memijatnya sendiri. Jika ia kakek saya tapi bukan, meski mantun, saya pijat kaki kanannya, ia memberi isyarat yang amat sakit sebelah kiri. Ia kemudian memijatnya pula.

Jamaah sudah pada berdiri seusai salat. Kakek yang saya salami, sebab tadi sudah. Ia juga kesulitan berdiri. Setelah kokoh, sebelah tangannya memegang kresek yang berisi alas kaki. Hal serupa dilalukan hampir semua jamaah.

Tiba-tiba datang kakek lain, lebih tinggi dan kekar, mungkin sahabat sepanjang usianya atau saudara kandung. Kakek kedua langsung membimbing dan berjalan di tengah manusia yang menyemut.

Dekat pintu 19, keduanya mengambil air zamzam dan meminumnya. Berjalan berdua, setegapnya, berani dan tanpa manggau, bagai ular melintas padang pasir. Tak lama keduanya sampai di depan pintu 16. Keduanya berhenti menghadap masjid, memperhatikan jamaah perempuan yang keluar bergeduru. Bisa jadi duo kakek ini menunggu istri masing-masing. Saya yang sejak tadi mengikutinya sempat mengambil foto dan kemudian pergi.

Duo kakek ini dipastikan dari Afganistan karena semua jamaah dari sana memakai rompi dengan nama negara dan bendara dibuat di puggung. Jemaah dari bangsa asal gandum liar ini tak banyak dan tak termasuk 10 besar. Afganistan adalah kisah perang di lembah-lembah dan bukit-bukit batu dengan Rusia. Kalau tak salah satu film Rambo mengangkat kisah kehebatan lelaki negara ini.

Turki 

Pada Jumat (20/7) tengah malam saat antre menuju Raudah di Nabawi, sejumlah orang Turki mengacungkan jempol kepada saya. Ini karena saya membuka google dan kemudian memperlihatkan foto presiden mereka: Erdogan.

Mereka senang sekali dan makin simpatik kala saya perlihatkan foto lain dari presiden terkenal di dunia Islam itu. “Indonesia,” kata salah seorang dari mereka yang sedari tadi asyik mengambil video.

Kami antre satu jam untuk bisa masuk ke Taman Surga itu. Sembari antre si bapak yang paling ramah membuka tasnya. Lalu mengeluarkan makanan semacam kacang. Ia membagikan kepada kami dari KBIH Nur Zikrillah. Enak karena itu saya memgambilnya beberapa kali. Setelahnya kami dapat bagian masuk Raudah.

Turki berada pada urutan ketujuh di dunia dalam jumlah kuota jemaah hajinya yaitu sekitar 60 ribu orang, sedang Indonesia 221 ribu.

Turki merupakan bab penting dalam pelajaran sejarah dan peradaban Islam di sekolah-sekolah kita. Kita kenal Mustafa Kemal Attartuk bapak modernis Turki. Belakangan juga kenal sastrawan hebat dari negara itu, Orhan Pamuk.

Berjumpa dengan orang-orang pemeluk Islam dari kawasan Timur Tengah di sebuah masjid amat tua, menjadi kenangan tersendiri.

Jika Mekkah – Jakarta terpaut sekitar 7000 Km maka Mekkah – Istambul merentang kira-kira 2800 Km. Mekkah ke Kabul sekitar 4.000 Km. Tentu saja ini terlalu jauh karena saya hitung untuk jalan darat dengan memakai google map. Jika garis lurus di langit bisa-bisa hanya setengahnya. (*)