Tak Berkategori  

Ekonomi Haji, Rp168 Triliun Semusim

Zamzam Tower nan jangkung menusuk langit merupakan gedung paling tinggi di Mekkah, di kakinya ada Masjidil Haram. Bangunan ini kedua tertinggi di dunia setelah Burj Khalifa di Dubai. (*)

Laporan Khairul Jasmi dari Tanah Suci

Zamzam Tower nan jangkung menusuk langit merupakan gedung paling tinggi di Mekkah, di kakinya ada Masjidil Haram. Bangunan ini kedua tertinggi di dunia setelah Burj Khalifa di Dubai. (*)

“Politik mengatur ekonomi ( Bertolt Bracht, penyair)”

***

Haji adalah ibadah fisik. Adalah pertolongan Tuhan pada umatnya dalam bidang ekonomi. Inilah contoh hebat ekonomi Islam, nyata dan kokoh, sekokoh tiang-tiang Masjidil Haram: Rp168 triliun setiap musim haji dan umrah, belum termasuk uang dam.

Inilah buah masak di batang pada pohon kelapa rendah, buahnya bisa diambil kapan saja dengan cara apa saja. Kelapa rendah bisa dijangkau itu tumbuh di halaman Saudi Arabia. Diantarkan  oleh sekitar 3 juta jemaah, lebih dari setengahnya (mungkin) adalah orang desa. Lebih pula setengah, lansia. Sebagaimana jamaknya orang desa nan tulus, merapikan uangnya lembar demi lembar dan mengambannya. Lalu mengantarkannya ke bank untuk tabungan haji.

Uang itu adalah seruan dari Rukun Islam Kelima: Naik Haji ke Mekkah bagi yang sanggup, aman yang ditinggal, aman perjalanan.

Dalam kondisi semacam itulah ibadah dijalankan dan hidup terus berlangsung. “Uang punya dunia dan paradabannya sendiri, di luar peradaban kita,” maka dimanapun berada, uang selalu bekerja menurut kodratnya. Maka tarif taksi di Makkah dari ke hari naik berlipat.

Ekonomi umat

Perhitungan  kami — saya dan dosen ekonomi Unand Mhd Nazer yang jemaah haji tahun ini– hampir sama dengan riset Kadin Mekkah beberapa tahun silam. Jumlah jemaah dan jumlah uang yang dibawa dipelajari sehingga dapat angka kisaran. Bisa jadi ini salah, sampai ditemukan angka akurat. Ya itu tadi Rp168 triliun diantarkan ke Saudi oleh seluruh bangsa, terbanyak Indonesia.

Uang sebanyak itu untuk ongkos transportasi umrah-haji, ongkos akomodasi dan biaya hidup, sedekah, komunikasi dan lainnya.

Kemenag mencatat, jemaah calon haji lndonesia 2018, berjumlah 221.000 termasuk di 17.000 haji plus. Biaya haji reguler sekitar Rp35,5 juta dan haji plus sekitar Rp106,7 juta.

Jadi pengeluaran jemaah haji Indonesia Rp9,1 triliun atau lebih. Untuk apa saja. Tahun ini jemaah mulai kena pajak 5 persen, ini disebabkan kerajaan mulai mencari pemasukan lain. Kemudian transportasi darat dan udara, pemondokan  makan dan uang saku yang 1.500 riyal. Uang itu tak cukup sebab lebaran saja uang kedua terbanyak keluar untuk filantropi, infak dan sedekah, konon urusan haji. Entah kemana lidah akan dijepitkan tanpa membawa oleh-oleh pulang. Di desa tak bisa diadu dengan zamzam dan kurma saja. Nah.

Uang yg berputar dalam pelaksanaan haji relatif sangat besar untuk ukuran lndonesia, apalagi jika dibandingkan dengan Sumbar yang punya APBD  2018 yang ‘hanya’ Rp6,6 triliun saja.

Pengeluaran lainnya yang cukup besar paket komunikasi, minimal Rp400 ribu, beli paket atau beli kartu Saudi, Mobily. Tak berkirim WA atau SMS agak sehari ke kampung? Jangan disebutlah.

Data yang diberikan Naser memperlihatkan, kenaikan jumlah jemaah Indonesia  setiap tahunnya: pada 2009 tercatat 189.358 orang, bertirit-tirit 196.206, disusul 199.848. Pada 2012 192.290, berikut 154.547 dan 2014 154.467. Pada 2018 tercatat 221 ribu jemaah.

Untuk dunia, angkanya seperti ini:

Pada 2009 tercatat 2.313.278 orang, 2010 sebanyak 2.789.399 orang, 2011, naik jadi 2.927.717, untuk 2012 naik lagi 3.161.573 orang. Pada 2013 turun 1.980.249, berikutnya 2014 naik jadi 2.085.238 orang, 2015 turun lagi 1.952.817 dan 2016 jadi 1.862.909 serta pada 2017 tercatat 2.352.122 orang.

Luar biasa

Hotel Hilton di sisi Masjidil Haram, Mekkah. (*)

Dampak ekonomi dari musim haji untuk Saudi lekas terbaca. Dari Indonesia diimpor rempah, terutama pemasak dan cengkeh, telur dan lainnya.

Kata sejumlah pihak, jika setiap penziarah berbelanja 1 riyal maka dampaknya bagi ekonomi Saudi 4 riyal. Data terakhir menyebut ekonomi ziarah haji tercatat 7 persen dari PDB Saudi Arabia yang US$468 miliar.

Haji dan umrah membuka ribuan lapangan kerja, membuka pasar bagi produk baru. Wisarausahawan muda kerajaan ini menjual buah dan tasbih dan sajadah. Barang habis jemput ke kampung dan bergegas lagi ke Makkah atau Medinah. Kurma? Bagai durian runtuh. Republika menyebut selain dua kata itu, Taif merupakan kota lain yang diuntungkan saat musim haji dan umrah. Tentu saja: Jeddah.

Genjot

Saudinews  melansir, kerajaan serius menggarap wisata dan ziaraj haji. Bahkan target 2020 dan 2030 sudah dipasang. Disebut visi 2030 pintu mulai dibuka bahkan visa wisatawan untuk pertama kali diterbitkan.

Ada 14 poin penting yang digagas Pengeran Salman. Dua di antaranya, pertama meningkatkan pendapatan pemerintah sektor non minyak dsri 163 miliar riyal menjadi 1 triliun riyal. Ini maksudnya, ketergantungan akan minyak terus-menerus dikurangi. Kedua, jumlah haji dan umrah yang 8 juta/tahun pada 2030 harus 30 juta/tahun.

Artinya, momentun bulan haji dan umrah selain prosesi ritual, tuan rumah mengemasnya sebagai sebuah pemasukan hebat. Maka tak heran pelayanan makin baik, meski sejumlah sektor perlu diperbaiki lagi semisal angkutan massal dan keramah-tamahan.

Ekonomi haji luar biasa. Maka tak heran perluasan Masjidil Haram besar-besaran terus dilakukan, entah kapan akan selesai. (bersambung)